Halaman Utama (rencana)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 11 Juni 2010 16.08 oleh Leo (bicara | kontrib) (temp)
Lompat ke: navigasi, cari
Alkitab Setahun
Khotbah populer
Halaman populer
Artikel
Perubahan terbaru
Lainnya
 Agenda
[klik pada jam]

Pesan Gembala

Pdt Sutadi Rusli

Sutadi Rusli-20100513-r1.52.jpg

Ada begitu banyak makna yang bisa kita gali dari kenaikan Tuhan Yesus. Mari kita merenungkan tiga makna kenaikan Tuhan Yesus ke sorga untuk kita.

Kenaikan Tuhan Yesus yang pertama berbicara mengenai pergumulan, atau boleh saya katakan siap untuk diproses. Tuhan Yesus ketika di taman Getsemani juga bergumul seperti kita manusia biasa bergumul, bahkan Dia katakan, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya..." (Matius 16:34).

Kedua, Tuhan Yesus juga naik ke sorga untuk menyiapkan tempat untuk kita. Tidak ada yang lain yang bisa berjanji demikian seperti Tuhan Yesus (Yohanes 14:1-3).

Ketiga, kenaikan Tuhan Yesus juga memiliki makna bahwa Roh Kudus dicurahkan dan kita harus menjadi saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (Kisah 1:8). Sikap hidup kita harus menjadi saksi baik di keluarga dan di lingkungan kita.

» Selengkapnya » Daftar Pesan Gembala

Pesan Gembala Pembina
Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo
Niko Njotorahardjo-20100501-3x4.jpg

Kisah Para Rasul 1:3, "Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah."

Saya percaya Tuhan Yesus juga membawa pesan-pesan kepada murid-murid-Nya dan melalui apa yang terjadi pada waktu itu, Tuhan mau berpesan 3 hal kepada mereka semua dan juga kepada kita hari ini, yaitu untuk membuktikan bahwa Dia hidup, untuk menegur murid-murid-Nya atas ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, dan untuk mengutus murid-murid-Nya.

» Selengkapnya » Daftar Pesan Gembala Pembina

Ringkasan khotbah

Gagal membuat miniatur: Berkas tak ditemukan
Pdt Andreas Setiawan, MTh

Yesus adalah kunci terobosan, pemulihan, dan kelimpahan. Bagian kita adalah kita harus bersedia untuk berubah, berani untuk menghadapi kesulitan, dan berani mengambil tanggung jawab!

» Selengkapnya

Yohanes Suhendra-20100502-3x4.jpg
Pdt Yohanes Suhendra

Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada orang-orang pilihan Tuhan yang menantikan dengan sungguh-sungguh kedatangan Tuhan kedua kali.

» Selengkapnya

20100425 Vera Setiawan-20-3x4.jpg
Pdt Vera Setiawan, MTh

Roma 9:9a, Sebab firman ini mengandung janji. Ingat dua hal ini: firman Allah mengandung janji dan baca firman Tuhan dengan benar supaya setan tunduk kepada kita.

» Selengkapnya

Timotius Sugiantono-100418-3x4.jpg
Pdt Timotius Sugiantono, MA

Roh Allah yang membangkitan Yesus menjadikan kita berarti, karena Roh itu diam di dalam kita, memberikan kita kemerdekaan, dan menjadikan kita anak-anak Allah!

» Selengkapnya

Logo Cool.png
COOL Umum Januari 2014 - Minggu III
Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang. (Amsal 11:30)
Tahun 2014 adalah Tahun dibuka-Nya pintu-pintu mujizat, The Year of God Opening Doors for Miracles! Mujizat terbesar adalah keselamatan dan pintu penuaian jiwa lebih besar lagi dibukakan oleh Tuhan. Gembala Pembina, Bapak Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo menyampaikan bahwa kita ada dalam masa-masa penuaian jiwa besar-besaran di akhir zaman, Tuhan Yesus akan segera datang untuk kali yang kedua. Penuaian jiwa terjadi karena pencurahan Roh Kudus secara luar biasa.

Masa persiapan adalah masa penting yang akan menentukan kesuksesan. Itulah sebabnya segala sesuatu butuh masa persiapan. Tuhan telah mengaruniakan kita terang Firman-Nya supaya kita bisa menyampaikannya kepada lingkungan dan kepada orang-orang sekitar kita. Kebenaran yang diucapkan Yesus akan menjangkau hati. Firman Tuhan akan masuk ke dalam telinga dengan kuasa, dan buahnya akan muncul ketika pelayanan dengan setia dilakukan. Tuhan memerlukan usaha yang tekun di tempat-tempat di mana orang-orang belum mengetahui sedikitpun mengenai kebenaran.

Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:29)

Tahun 2014 adalah Tahun dibuka-Nya pintu-pintu mujizat, The Year of God Opening Doors for Miracles! Mujizat terbesar adalah keselamatan dan pintu penuaian jiwa lebih besar lagi dibukakan oleh Tuhan.

Ricardo Cid.jpg
Ricardo Andrés Cid Castro
"Kuduslah kamu, sebab Aku kudus! Hanya mereka yang kudus yang dapat masuk ke tempat ini! Sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan."

(8 hours in heaven, an urgent message for today's church)

RK.jpg
05 Juli 2026

I. Pendahuluan

Dalam kehidupan iman Kristen, banyak orang masih bingung memahami hubungan antara anugerah dan pekerjaan (perbuatan).[1] Di satu sisi, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Namun di sisi lain, Alkitab juga menekankan pentingnya ketaatan, perubahan hidup, dan kesetiaan dalam perjalanan iman.[2]

Ketegangan ini sering menimbulkan dua sikap yang keliru:

  1. ada yang hidup seolah-olah pekerjaan (perbuatan) tidak penting karena semuanya adalah anugerah, dan
  2. ada pula yang berjuang dalam ketaatan seolah-olah keselamatan sebagai tujuan yang harus terus diusahakan.[3]

Selengkapnya »

Dalam kehidupan iman Kristen, banyak orang masih bingung memahami hubungan antara anugerah dan pekerjaan (perbuatan). Di satu sisi, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Namun di sisi lain, Alkitab juga menekankan pentingnya ketaatan, perubahan hidup, dan kesetiaan dalam perjalanan iman.

Logo profetik.png

Tahun Ibrani 5787 — Pey Zayin dapat dipahami sebagai sebuah musim untuk semakin menyelaraskan hidup dengan kehendak Tuhan dan masuk dalam agenda-Nya. Pey, yang secara simbolik dikaitkan dengan mulut, mengingatkan umat Tuhan untuk menjaga perkataan dan memperkatakan Firman dengan benar; sedangkan Zayin, yang dikaitkan dengan pedang, mengingatkan bahwa Firman Tuhan adalah senjata rohani untuk menghadapi peperangan, menegakkan kebenaran, dan melakukan kehendak-Nya (Efesus 6:17; Ibrani 4:12).

Karena itu, Pey Zayin bukan sekadar berbicara tentang apa yang keluar dari mulut kita, tetapi tentang hati yang telah diselaraskan dengan Tuhan sehingga perkataan dan kehidupan kita menjadi alat bagi pekerjaan Roh Kudus.

Dalam semangat Amanat Agung, tahun ini menjadi momentum untuk hidup semakin intim dengan Tuhan, semakin peka terhadap suara Roh Kudus, semakin tunduk kepada Firman, dan semakin berani menjadi saksi Kristus.

Dengan demikian, "pedang" bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan Firman yang menundukkan kita terlebih dahulu, memurnikan hati, mempertajam ketaatan, dan kemudian memperlengkapi kita untuk menjalankan mandat Tuhan.

"Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!" (Hakim-hakim 7:18, 20)

Kisah Gideon bukan terutama kisah tentang bagaimana tiga ratus orang mengalahkan pasukan Midian yang jauh lebih besar. Ini adalah kisah tentang bagaimana Tuhan membentuk hati umat-Nya agar mereka memahami satu hal: kemenangan berasal dari Tuhan, bukan dari kekuatan manusia.

Sebelum peperangan dimulai, Tuhan mengurangi pasukan Gideon dari 32.000 menjadi hanya 300 orang. Alasannya sangat jelas: Supaya orang Israel jangan memegahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku (Hakim-hakim 7:2). Tuhan sengaja membuat manusia tidak mempunyai alasan untuk mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri.

Di sinilah kita belajar tentang kerendahan hati. Rendah hati bukan berarti merasa tidak mampu atau tidak berharga. Kerendahan hati adalah menyadari bahwa apa pun yang dapat kita lakukan pada akhirnya bergantung pada pertolongan dan anugerah Tuhan.

Kita boleh memiliki talenta, pengalaman, jabatan, sumber daya, dan kemampuan, tetapi semuanya adalah alat di tangan Tuhan. Semakin Tuhan memakai kita, semakin besar alasan kita mengembalikan kemuliaan kepada-Nya.

Namun ada hal kedua yang tidak kalah penting: ketundukan pada otoritas. Gideon berkata kepada pasukannya, Perhatikanlah aku dan lakukanlah seperti yang kulakukan (Hakim-hakim 7:17). Mereka mengikuti instruksi Gideon karena Gideon sendiri berada di bawah otoritas Tuhan.

Prinsipnya sederhana: otoritas yang sehat lahir dari ketundukan kepada otoritas yang lebih tinggi. Dalam kehidupan gereja, kita tidak dipanggil menjadi orang yang individualistis: "saya hanya mau dengar Tuhan" seolah-olah kita tidak membutuhkan kepemimpinan dan komunitas.

Roh Kudus bekerja dalam tubuh Kristus dan juga melalui pemimpin yang Tuhan percayakan. Namun setiap otoritas manusia tetap harus tunduk kepada Kristus dan Firman-Nya.

Yang ketiga adalah ketaatan radikal. Strategi Tuhan sangat tidak biasa: meniup sangkakala, memecahkan buyung, mengangkat suluh, dan berseru. Tiga ratus orang hanya melakukan apa yang diperintahkan. Lalu Hakim-Hakim 7:22 mengatakan bahwa TUHAN-lah yang mengacaukan pasukan Midian.

Inilah prinsip kehidupan rohani: kita melakukan bagian kita; Tuhan melakukan apa yang menjadi bagian Tuhan. Ketaatan tidak selalu berarti kita memahami seluruh rencana-Nya. Kadang Tuhan hanya meminta kita mengambil langkah pertama. Karena itu, “Pedang bagi TUHAN dan pedang bagi Gideon” harus menjadi sikap hati kita.

Pedang bagi TUHAN berarti Tuhanlah sumber kemenangan dan kemuliaan. Pedang bagi Gideon berarti Tuhan dapat bekerja melalui otoritas yang Ia tetapkan. Dan bagi kita, panggilannya adalah rendah hati, tunduk, dan taat.

Ketika gereja memiliki hati seperti ini, kita tidak lagi sibuk membangun nama sendiri. Kita menjadi umat yang siap dipakai Tuhan untuk menjalankan agenda-Nya dan menyelesaikan Amanat Agung.

Kerendahan hati membuat kita memberikan kemuliaan kepada Tuhan. Ketundukan membuat kita dapat berjalan dalam otoritas yang benar. Ketaatan radikal membuat kita berani melangkah ketika Tuhan berkata, "Pergilah." (DL)

Pey Zayin bukan sekadar berbicara tentang apa yang keluar dari mulut kita, tetapi tentang hati yang telah diselaraskan dengan Tuhan sehingga perkataan dan kehidupan kita menjadi alat bagi pekerjaan Roh Kudus.

  1. ^ Saragih, F. A. P. (2024). Tinjauan Teologis terhadap Doktrin Soteriologi Hyper Grace. Missio Ecclesiae. https://doi.org/10.52157/me.v13i1.225
  2. ^ Yatmini, Y., & Siang, L. (2024). Perspektif Teologis tentang Keselamatan: Belajar dari 1 Petrus 1: 3-12. Jurnal Teologi Injili, 4(2), 136-148. https://doi.org/10.55626/jti.v4i2.80
  3. ^ Wennar & Kusnadi, H. (2025) Kasih Karunia Dan Hukum Taurat Berdasarkan Titus 2:11-12 Bagi Transformasi Kerohanian Jemaat Kontemporer. Jurnal Eulogia. https://doi.org/10.62738/ej.v5i2.116