Profetik
Profetik
Pelayanan profetik merupakan wadah pelayanan para pendoa dan imam pujian dan penyembahan. Doa, pujian, dan penyembahan merupakan satu kekuatan yang tidak terpisahkan bagi orang percaya. Pelayanan ini berawal dari visi Gembala Pembina tentang Cawan dan Kecapi dalam Wahyu 5:8,
- Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
Secara khusus, seorang pendoa juga haruslah seorang pemuji penyembah, begitu juga seorang imam pujian penyembahan haruslah seorang pendoa. Apabila ini benar dilakukan, maka akan bangkit pendoa dan imam pemuji penyembah yang tangguh dan terobosan-terobosan akan terjadi, sehingga menjadi berkat untuk keluarga, lingkungan, kota, bangsa, bahkan bangsa-bangsa (Wahyu 5:8).
Renungan profetik
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 22 Desember 2025 |
| Penulis | Sub Divisi Profetik |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
Akhir tahun selalu menjadi momen di mana waktu terasa melambat, seakan kita diberi ruang khusus oleh Tuhan untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Kita menimbang perjalanan hidup, mengingat banyak hal antara lain langkah benar yang kita ambil, keputusan yang salah, proses panjang yang membentuk kita, serta tangan Tuhan yang menopang di tengah semuanya. Dalam keheningan refleksi itu, muncul pertanyaan yang paling penting: sejauh mana langkah kita tahun ini selaras dengan perjalanan bersama Tuhan?
Firman dalam Zefanya 3:17 memberi kita gambaran yang sangat indah: TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. Ayat ini menghadirkan Tuhan bukan sebagai sosok jauh yang hanya mengamati dari kejauhan, melainkan pahlawan yang turun langsung ke tengah hidup kita. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga mendampingi, menenangkan, dan merayakan kita. Bahkan ketika kita merasa biasa-biasa saja, Dia tetap bersorak sorai atas kita.
Menjelang 2026, Tuhan mengundang kita untuk kembali menemukan keintiman dengan-Nya di tengah kesibukan dan pergumulan hidup yang terus berjalan.
Banyak orang memasuki tahun baru dengan senyum di wajah, namun ada beban yang bersembunyi di balik semangat itu. Ada proses panjang yang belum selesai, kegagalan yang membekas, dan penat yang masih menempel dalam jiwa. Ada juga yang berhasil mencapai banyak hal tetapi justru merasa rohnya meredup. Di titik inilah kita diingatkan bahwa pondasi kehidupan rohani bukan pada capaian, tetapi pada relasi kita dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, dan keintiman dengan Tuhan. Tanpa hadirat-Nya, rencana sehebat apa pun mudah goyah. Tetapi dengan hadirat Tuhan, hal kecil dapat menjadi berarti, dan hal yang biasa dapat menjadi luar biasa.
Zefanya 3:17 jarang digunakan sebagai renungan akhir tahun, namun sebenarnya mengandung janji yang sangat relevan. Tiga karakter Allah muncul di sini:
- Allah yang hadir "ada di tengah-tengahmu." Kehadiran Tuhan itu nyata, dialami melalui doa, pujian, dan sentuhan lembut Roh Kudus.
- Allah yang bertindak "sebagai pahlawan yang memberi kemenangan." Kemenangan sejati bukan semata hasil kerja keras, tetapi buah penyertaan dan campur tangan Tuhan.
- Allah yang mengasihi secara personal "Ia menenangkan engkau... Ia bersorak-sorai karena engkau." Dari kesadaran akan kasih yang begitu pribadi inilah lahir penyembahan yang sejati.
Saat kita menengok kembali tahun ini, mungkin ada masa di mana kita kuat, namun juga ada masa ketika hati kita rapuh. Meski begitu, kabar baiknya tetap sama: Tuhan tidak pernah berubah dalam kasih-Nya. Ia tidak menilai kita berdasarkan performa, tetapi berdasarkan hati-Nya yang penuh cinta. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih memberi ruang bagi-Nya? Masihkah kita rindu suara-Nya lebih dari suara dunia? Masihkah hati kita menyala dalam penyembahan?
Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender. Itu adalah kesempatan ilahi untuk kembali "mendekat", sebab mendekat kepada Tuhan adalah kebaikan terbesar bagi jiwa kita. Persiapan memasuki 2026:
- Bangun saat teduh harian. Sediakan waktu khusus untuk diam dan mendengar hati Tuhan.
- Perbarui mezbah doa pribadi. Jadikan doa sebagai perjumpaan, bukan rutinitas.
- Hidupkan penyembahan di manapun kita berada. Hadirkan atmosfer hadirat Tuhan dalam keseharian.
- Minta Roh Kudus menuntun hidup kita. Biarkan keputusan penting lahir dalam suasana hadirat-Nya.
- Buat Komitmen Rohani 2026. Fokus pada kedekatan, bukan hanya produktivitas.
Pondasi kehidupan rohani bukan pada capaian, tetapi pada relasi kita dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, dan keintiman dengan Tuhan. Tanpa hadirat-Nya, rencana sehebat apa pun mudah goyah.