Orang yang lemah lembut (KOM 210.2.1)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Logo KOM.png
  • KOM 220.1220.1 Mengenal Perjanjian Lama
  • KOM 220.2220.2 Mengenal Perjanjian Baru
  • KOM 220.3220.3 Studi alkitab induktif
  • KOM 220.4220.4 Agama-agama di dunia
  • KOM 230.1230.1 Komunikasi pribadi
  • KOM 230.2230.2 Membangun dan membina persahabatan
  • KOM 230.3230.3 Pengendalian emosi
  • KOM 230.4230.4 Memilih pasangan hidup
  • KOM 230.5230.5 Kehidupan nikah Kristiani
  • KOM 230.6230.6 Mendidik anak
  • KOM 230.7230.7 Panggilan hidup dalam dunia kerja
  • KOM 230.8230.8 Strategi kehidupan yang berhasil
  • KOM 230.9230.9 Mengelola keuangan Anda
Untuk informasi jadwal kelas pengajaran KOM yang dibuka, hubungi Departemen Pengajaran:

+62 (251) 8351-059

"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."

Matius 5:4

Pengarang Robert Greene, menulis sebuah buku berjudul “48 Hukum Tentang Kekuatan” di mana ia menguraikan 48 Hukum yang akan membuat kita menjadi seorang yang kuat di dalam dunia usaha.

Sungguh-sungguh, kita tinggal di alam suatu dunia yang memuja kuasa dan menolak hal apapun yang berbau kelemahan. "Kelemahan” adalah kondisi yang buruk, “kekuatan” adalah kebaikan yang terutama, sebab dengan kekuatan kita dapat menguasai dunia. Namun Yesus berkata: "Yang diberkati adalah orang yang lembut hatinya karena mereka akan mewarisi bumi."

Ini adalah suatu kebahagiaan yang sulit untuk 'dihidupi' sebab banyak orang mempunyai gagasan bahwa kelembutan adalah kelemahan. Seseorang sekali ketika berkata: "Kelembutan bisa membawamu ke surga tetapi tidak dapat memberikan suatu promosi.”

  • "Kelembutan" — "prautes" bukanlah "kelemahan" atau "mudah pecah” atau "lemah" atau "sifat takut-takut” tetapi kelembutan adalah "kekuatan di bawah kendali".
  • "menerima warisan” — “kleronomeo” — “menerima atau memperoleh pemilikan”

Lima ekspresi dari hati yang lemah lembut

  1. Sopan santun dan tata krama
  2. Daud memilih untuk tidak mengangkat tangannya terhadap Saul.

  3. Tidak bersaing
  4. 13 tahun lamanya Paulus diasingkan tanpa pengakuan sebagai Rasul, sekalipun sudah melakukan pelayanan rasuli.

  5. Sikap tidak membalas
  6. Dalam peristiwa Masa Meriba yang kedua, Tuhan marah kepada Musa, karena Musa melakukan perintah-Nya dengan marah, bukan demi koreksi. Hukuman harusnya lebih merupakan tindakan korektif dan bukannya retributif.

  7. Tidak merasa harus menggunakan hak
  8. Abraham mempersilahkan Lot lebih dahulu memilih daerah penggembalaannya.

  9. Hancur hati (brokenness)
  10. Rasul Paulus mengalami dan mengakui banyak kelemahan di dalam tubuhnya.

Kalau begitu, seperti apa kelembutan itu?
Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "lembut hati" adalah "praus". Ini adalah suatu kata yang sangat umum dikenal pada masa Yesus.

Tiga area penggunaan kata ini

  1. Dokter
  2. Para dokter menggunakannya seputar obat penenang. Ketika seorang pasien sedang bergumul dan berjuang melawan demam, seorang dokter akan memberi dia suatu obat penenang untuk menenangkan dia, sementara membawa dia kepada penyembuhan. Obat mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan. Suatu dosis obat yang tepat dapat menyembuhkan, tetapi dalam dosis yang terlalu banyak - obat dapat membunuh.
  3. Pelaut
  4. Pelaut menggunakan kata itu untuk menguraikan tentang angin yang sepoi sepoi. Jika kita sudah lelah oleh matahari sore yang panas dan tiba-tiba suatu angin sepoi-sepoi lembut datang bertiup, kita akan merasakan kesegaran yang dibawanya. Angin mempunyai kemampuan untuk menyegarkan, tetapi jika bertiup sangat kencang, terjadilah badai yang dapat membinasakan segala sesuatu.
  5. Petani
  6. Petani juga menggunakan kata ini untuk menguraikan tentang "penyesuaian" kuda muda. Tiap-tiap kuda harus mengalami satu masa di mana kehendaknya harus ditaklukkan secara paksa sebelum ia dapat bermanfaat. Sebelum seekor kuda dijinakkan, ia tidak akan mengijinkan seseorang untuk menungganginya. Kuda mempunyai kemampuan untuk bekerja. Seekor kuda yang dijinakkan dapat bekerja, tetapi seekor kuda yang dibiarkan menuruti kehendaknya sendiri dapat berbahaya.

Ketiga-tiganya mempunyai energi, tetapi hanya ketika energi itu terkendali, itulah yang disebut 'kelembutan'. Jadi “kelembutan" adalah "energi yang berada dikendalikan”.

Ingatlah:

  • Kelembutan adalah sesuatu yang hanya dapat dilihat ketika kita sedang berada dipihak yang benar, dan bukan ketika kita sedang bersalah.
  • Kelembutan adalah kekuatan yang dikendalikan. Sifat itu mengungkapkan dirinya sendiri ketika kita benar dan ketika kita mempunyai kemampuan untuk menyakiti seseorang yang bersalah, namun kita memilih untuk tidak melakukannya.

Gejala-gejala kelembutan hati

  1. Cara meluapkan kemarahan
  2. Seseorang yang lembut hatinya tidak langsung meledak amarahnya. Siapapun dapat marah, tetapi diperlukan hati yang lemah lembut untuk marah yang benar; pada tingkatan yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang benar, dan di dalam cara yang benar tidaklah mudah. Itu memerlukan hati yang lembut.

  3. Penerimaan akan Firman Tuhan
  4. Cara yang kita tempuh dalam bereaksi terhadap firman Tuhan adalah juga suatu indikasi kelembutan. Orang yang lembut hatinya mentaati firman Tuhan dan menerimanya dengan gembira dan dengan hati yang bersih.

  5. Reaksi terhadap perselisihan paham
  6. Cara lain untuk menguji kelembutan hati adalah dengan melihat reaksi kita kepada orang yang tidak setuju dengan kita. Orang yang tidak lemah lembut akan:

    • Merasa diri sangat benar
    • Berbicara dengan sangat terus terang"
    • Sangat cepat "menarik pelatuk senapan"

    Kita dapat mendominasi, namun dengan sekuat tenaga mengendalikan kata-kata kita. Salah satu tanda kedewasaan adalah ketika kita menyadari bahwa Tuhan dapat memberkati orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, bahkan orang yang belum percaya.

Ciri-ciri kelemahlembutan

Sifat lemah-lembut itu seperti air. 1. la mengalir secara alami ke tempat yang paling rendah. 2. la menyegarkan semua ciptaan. 3. Ia mengelilingi setiap rintangan. Tetapi dalam pergesekan dengan batu, air selalu keluar sebagai pemenang.

Mengubah dunia dengan kelemahlembutan

  1. Tuhan Yesus
  2. Kelemahlembutan itu lebih merupakan sikap hati daripada sikap tubuh. Tuhan Yesus bisa marah terhadap ketidakbenaran, tetapi dalam hati-Nya Dia tetap mengasihi pemungut cukai, penukar uang dan orang berdosa lainnya. Tuhan Yesus melarang murid-murid-Nya untuk membela Dia dengan pedang.

  3. Gereja mula-mula
  4. Rasul-rasul tidak pernah bereaksi resistant terhadap aniaya. Gereja rasul-rasul tidak pernah menggunakan kekerasan di dalam menerapkan disiplin gereja.

    1 Korintus 7: Dikucilkan - bukan dihukum.

  5. Gereja di abad pra-pertobatan Kaisar Konstantin
  6. Di dalam mengubah karakteristik masyarakat Romawi yang kejam dan militeristik, para martir Kristen menerima semua resiko terhadap dirinya tanpa ada pembelaan dan pembalasan apa-apa.

Refleksi

Jadi, dengan cara apakah kita akan merubah "dunia" di sekitar kita? Kita dapat mengubahnya dengan "kekuatan" yang ada di dalam "kelemahlembutan".

Sumber

  • Divisi Pengajaran (Maret 2019). "210.2.1 Orang yang Lemah Lembut". KOM Seri 200 Pencari Tuhan (edisi ke-8, Maret 2019). Jakarta: GBI Jalan Gatot Subroto. ISBN 979-3571-06-3.