The Great Commission (Khotbah Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
The Great Commission
Niko Njotorahardjo-101002-3x4.jpg

Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 3 Oktober 2010
GerejaGBI Jalan Gatot Subroto
TempatJCC Senayan
KotaJakarta

Saya baru pulang dari Tanah Perjanjian menghadiri convocation doa dari Jerusalem House of Prayer for All Nation yang selalu dimulai pada tahun baru orang Yahudi tersebut dan untuk ke-11 kalinya berkhotbah di convocation doa di Jerusalem House of Prayer for All Nation untuk mengimpartasikan pengurapan ke bangsa-bangsa.

Awal mulanya event tersebut dihadiri oleh utusan dari sekitar 150 bangsa, kemudian meningkat menjadi 200 bangsa, tetapi tahun ini luar biasa karena ada sekitar 250 bangsa yang datang dalam jumlah ribuan orang yang datang, tetapi puji Tuhan karena Tuhan memberkati mereka.

Tepat pada saat pergantian tahun dari Tahun Ayin (5770) menjadi Tahun Ayin Aleph (5771) pada tanggal 8 September setelah jam 6 sore, para wakil dari bangsa-bangsa, yaitu para penatuanya naik ke atas mimbar dan berdoa dalam bahasa masing-masing. Setelah itu mereka meniup shofar dan kami merayakan tahun baru itu dan merayakan sesuatu yang luar biasa yang akan Tuhan kerjakan ke depan ini.

Dua hari setelah tanggal pembukaan, yaitu pada tanggal 10 September yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, adalah giliran saya menjadi pembicara. Menjelang sesi tersebut, saya bercakap-cakap dengan Tom Hess, yang adalah ketua dari Jerusalem House of Prayer for All Nation. Tiba-tiba Tom Hess berkata demikian, “Ps Niko, saya mendapat visi 2 minggu yang lalu. Tuhan berbicara begitu kuat dan ini untuk tema kita tahun depan, yaitu tentang ‘The Great Commission’ (Amanat Agung Tuhan Yesus), yang diambil dari Kisah 1:8!”.

Mendengar ini saya sangat terkejut, sebab bukankah itu pesan Tuhan kepada kita hari-hari ini? Lalu Tom Hess melanjutkan, “Ini sangat kuat sekali sehingga sekarang saya membuat tulisan yang ditaruh di dinding tentang ‘The Great Commission’-Kisah 1:8 yang diterjemahkan ke dalam banyak bahasa”.

Jadi wujudnya seperti Doa Bapa Kami yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti yang ada di Tanah Perjanjian di mana terjemahan bahasa Indonesia pun ada di sana. Setelah Tom Hess selesai bercerita, saya lalu berkata,

“Tahukah Anda bahwa sebentar lagi saya mau menyampaikan tentang Kisah 1:8?”. Mendengar ini Tom Hess sangat terkejut! Dia naik ke atas mimbar dan berkata, “Saya sangat terkejut ketika mendengar Ps Niko akan berbicara tentang Kisah 1:8!”

Beberapa bulan terakhir ini sehubungan dengan pesan Tuhan ‘Aku datang segera’, sejak pertengahan tahun 2010 pesan Tuhan yang sangat... sangat... sangat kuat (saya belum pernah menyebutkan kata sangat ini hanya satu kali, saya selalu menyebutkan kata ‘sangat’ ini sebanyak 3 kali) dari Kisah 1:8 yang berkata, “...Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

  • Yerusalem, bisa diartikan di antara keluarga
  • Yudea, bisa diartikan di antara orang-orang yang seiman atau orang-orang yang sebangsa
  • Samaria, bisa diartikan di antara orang-orang yang tidak seiman atau bangsa-bangsa lain

Tuhan mengingatkan kita bahwa, “Kamu akan menjadi saksi-Ku!”, kata Tuhan. Karena itu Roh Kudus akan dicurahkan untuk memberikan kita kuasa.

Kita ingat bagaimana cara Tuhan mempersiapkan murid-murid-Nya untuk menjadi saksi Yesus 2000 tahun yang lalu, yaitu 120 murid-murid-Nya yang berada di kamar loteng. Ketika mereka sedang berdoa bersama-sama dengan bertekun dan sehati, tiba-tiba 10 hari setelah mereka berdoa, terdengarlah tiupan seperti angin keras, lalu tampaklah lidah-lidah seperti nyala api hinggap di atas kepala mereka masing-masing. Mereka penuh dengan Roh Kudus dan menerima kuasa itu dan mereka menjadi saksi Yesus yang luar biasa. Haleluya!

Perhatikan baik-baik, hari-hari ini kejadian seperti 2000 tahun yang lalu akan terjadi lagi! Roh Kudus sedang turun dalam bentuk Api dan Angin.

  • Api, untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam kita, yaitu hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan! Setelah itu;
  • Angin, yang akan mengarahkan kita.

Memang sebelum kotoran-kotoran atau hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan itu dibakar, kita tidak akan mengerti tuntunan Tuhan. Karena itu, Saudara harus mengerti hari-hari ini, mungkin di antara Saudara ada yang bertanya-tanya, “Saya ini sungguh-sungguh kepada Tuhan, tetapi kenapa hal ini terjadi? Kenapa?...”

Jawabannya, Roh Kudus sedang turun dalam rupa ‘Api’ yang mungkin sedang mendisiplinkan Saudara, mungkin sedang membakar hal-hal yang tidak benar, tetapi saya mau katakan, relakan!

Kalau kita mengerti, maka pasti keadaan kita akan lebih baik dari sekarang. Amin!

Beberapa waktu yang lalu, saya menelpon Pak Alex Abraham Tanuseputra. Saya memang sering berbincang-bincang dengan beliau, namun sudah cukup lama kami tidak pernah berbicara tentang visi. Tetapi yang luar biasa adalah ketika baru-baru ini di SPGI kami bertekad untuk kembali bergandengan tangan; yaitu Pak Alex Abraham dan Pak Timotius Arifin dan saya. Jadi untuk unity itu tidak perlu harus tergabung dalam satu denominasi, dengan berbeda denominasi sekalipun kita bisa ber-unity satu dengan yang lain.

Sudah lama saya dan Pak Alex tidak pernah berbicara tentang visi, tetapi hari itu beliau berbincang-bincang dengan saya tentang visi. Dan ketika itu Pak Alex berkata, “Nik, Tuhan berpesan kepada saya, bahwa ke depan ini akan ada banyak penghukuman!”

Kalau mendengar kata ‘penghukuman’ mungkin Saudara menjadi agak tegang, tetapi bolehlah kita ganti kata ‘penghukuman’ tersebut dengan ‘pendisiplinan’. Jadi, ‘penghukuman’, ‘pendisiplinan’ atau ‘hajaran’ seorang ayah kepada anaknya itu akan banyak terjadi ke depan ini. Saya amin-kan hal ini karena kita pun mendapatkan hal yang sama.

Saudara, penghukuman atau pendisiplinan yang ada di depan kita adalah:

  1. Penghukuman bagi yang tidak percaya
  2. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 3:16-18, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

    Saudara, dengarkan baik-baik! Ke depan ini, orang yang tidak percaya akan pesan Tuhan; akan dihukum! Kita tidak tahu seperti apa penghukuman tersebut karena penghukuman itu bermacam-macam, bisa saja seperti gempa dan sebagainya. Intinya adalah hal-hal yang tidak enak.

  3. Penghukuman bagi yang tidak mau menginjil
  4. Orang yang tidak mau menginjil; yang tidak mau menjadi saksi Yesus, mereka juga akan dihukum.

    Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:16 menulis, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. “

    Jadi, menginjil itu bukanlah untuk ‘gagah-gagahan’, karena menginjil itu adalah satu keharusan!

    Saudara, dengarlah, apa yang menjadi kata-kata Rasul Paulus itu sebenarnya adalah kata-kata kita. Kalau kita menginjil dan bisa memberitakan kabar baik kepada orang lain, itu bukan sebagai satu kesombongan atau ‘gagah-gagahan’, tetapi itu memang karena keharusan. “Celakalah aku, kalau aku sampai tidak menginjil”, kata Rasul Paulus. Ingatkah Saudara akan kisah Yunus?

    Kisah Yunus

    Yunus adalah orang yang kenal Tuhan. Saya pastikan bahwa dia adalah orang yang dekat dengan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan memberikan tugas kepadanya. Dalam Yunus 1:2 Tuhan berkata kepadanya, "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."

    Yunus memang mau disuruh Tuhan, tetapi Yunus bukan ke Niniwe melainkan ke Tarsis yang letaknya berlawanan arahnya! Yunus ditugaskan untuk menginjil, tetapi dia tidak mau menginjil. Apa akibatnya? Akibatnya, dia dihukum! Yunus masuk ke dalam perut ikan selama 3 hari!

    Mari kita bayangkan sebentar seperti apakah masuk ke dalam perut ikan itu:

    • Gelap
    • Pengap
    • Baunya luar biasa

    Adakah di antara Saudara yang seperti itu keadaannya? Di mana Saudara melihat dunia ini rasanya gelap semua? Kalau ada yang seperti itu, artinya Saudara sedang berada di perut ikan.

    Itulah keadaan Yunus pada waktu itu karena Yunus tidak mau menginjil. Dan di situlah Tuhan memberikan 2 pilihan, yaitu:

    • Bertobat, atau
    • Tidak bertobat

    Tetapi puji Tuhan akhirnya Yunus bertobat dan minta ampun sehingga dia keluar dari mulut ikan. Saya yakin kalau dia tidak bertobat maka dia tidak keluar dari mulut ikan, melainkan dari duburnya ikan! Apakah yang keluar dari dubur itu? Saudara tentu bisa menjawabnya sendiri. Itulah keadaan orang yang tidak mau bertobat. Saya berdoa supaya setiap kita yang mungkin sedang dalam keadaan seperti Yunus, mau bertobat!

    Pertanyaannya, kenapa Yunus tidak mau menginjil kepada orang Niniwe atau orang Asyur? Ternyata itu karena kebencian Yunus kepada mereka. Pikirnya, “Bangsa Niniwe adalah bangsa yang jahat, kalau sampai bertobat betapa enaknya nanti. Mereka seharusnya dihukum!”

    Saudara, orang yang hatinya kotor, mungkin karena kebencian, iri hati, kepahitan atau kesombongan, dia pasti sulit untuk menginjil! Mungkin kelihatannya menginjil, misalnya karena tugasnya adalah memang memberitakan Firman Tuhan sehingga perkataannya dari Alkitab dan ayat-ayat Firman Tuhan keluar semua dari ucapannya, tetapi di hadapan Tuhan dia tidak menginjil! Mengapa? Karena ada penolakan di dalam dirinya di mana hatinya sedang kotor.

    Hari ini Tuhan berpesan kepada kita, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

    Saudara, kalau hati kita sudah kotor maka kita akan malas-malasan untuk menginjil dan mungkin sudah mau pensiun. Semua itu adalah masalah di hati! Tetapi saya percaya hari ini kita sudah mendengar Firman Tuhan, yaitu satu pesan yang sangat...sangat...sangat kuat! Dia akan segera datang untuk kali yang kedua. Saudara dan saya diminta untuk menjadi saksi-Nya serta diminta untuk menginjil, yaitu memberitakan kabar baik di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Amin!

Kesaksian:

Saudara, sudah beberapa bulan terakhir ini kita diberi kesempatan untuk siaran di ANTV, yaitu acara “Pemulihan Bagi Anda”. Tadinya acara ini disiarkan jam 11 tetapi sekarang disiarkan jam 10 pagi. Mengapa dipindahkan ke jam 10? Itu karena ‘rating’-nya bagus.

Acara ini menjadi berkat bagi banyak orang dan salah satunya adalah pada tanggal 26 September yang lalu kita menerima SMS tersebut dari Bantul-Yogyakarta di mana ada seorang yang menyaksikan siaran tersebut pada tanggal 25 September 2010 dan dia berkata: “Saya ini lumpuh 18 tahun. Saya sedang nonton acara itu, tiba-tiba Bapak Pendeta berdoa dan saya mengikuti doa Bapak Pendeta. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kaki saya seperti kesetrum dan saya bisa berdiri serta bisa berjalan”. Haleluya!

Seperti beberapa waktu yang lalu saya saksikan bahwa kita ini diangkat untuk menjadi ‘bapa’ dari PGD (Persekutuan Hamba-Hamba Tuhan Garis Depan) yang sudah beranggotakan 7.000 hamba-hamba Tuhan dari pelbagai denominasi. Merekalah yang menjadi ujung tombak, yang akan mem-follow up hal itu.

Saudara, hari-hari ini yang seperti itu banyak terjadi. Mengapa? Karena Yesus akan segera datang untuk kali yang kedua. Dan saya mau beritahu bahwa nanti ketika Dia memerintah di bumi selama 1.000 tahun, maka setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah mengaku: “Yesus adalah Tuhan!” Haleluya!

Tahun Ayin Aleph

Melalui Ayin Aleph, seperti yang telah kita renungkan pada bulan lalu;

  1. Ayin itu berarti angka 70 di mana huruf Ibrani Ayin itu seperti sebuah mata dan memang itu berbicara tentang mata Tuhan dan mata kita.
  2. Mazmur 32:8 berkata, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

    Kita semua tentu membutuhkan tuntunan, arahan dan nasihat Tuhan, karena itu mata kita harus tertuju juga kepada Tuhan.

    Mazmur 123:2 berkata, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.”

    Seperti Maria yang senantiasa duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya, itulah yang juga harus kita lakukan.

    Bagaimana sikap hati dari orang-orang yang senantiasa memandang kepada Tuhan untuk mendapat tuntunan, arahan serta jalan yang harus ditempuhnya? Tuhan mengungkapkan itu melalui Aleph.

    Jadi dari Tahun Ayin (70) menjadi Tahun Ayin Aleph (71).

  3. Aleph berbicara tentang:
    1. Pertama, Terutama dan Prioritas
    2. Aleph itu berarti 1 (satu) dan ini berbicara tentang yang pertama, yang terutama dan prioritas.

      Siapakah yang terutama? TUHAN YESUS! Kalau dalam hati kita yang pertama adalah Tuhan Yesus, saya percaya mata kita akan senantiasa memandang kepada Dia dan berharap hanya kepada Tuhan serta hanya mengandalkan Tuhan. Biarlah yang terutama dalam hidup ini adalah meninggikan Nama Tuhan Yesus. Amin!

      Saudara, yang pertama adalah Tuhan Yesus dan yang terutama adalah memuliakan Dia!

      Roma 11:36 berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

      Kalau kita ada sebagaimana kita ada sekarang ini; apa pun yang Saudara miliki, jangan lupa bahwa itu adalah dari Tuhan Yesus, oleh Tuhan Yesus, kepada Tuhan Yesus! Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

    3. Kerendahan Hati
    4. Saudara, huruf Ibrani itu terdiri dari 22 huruf, tetapi ada 2 huruf di antaranya yang disebutkan tidak bersuara atau ‘silent letter’ dan itu justru adalah Ayin dan Aleph ; dan ini diterjemahkan sebagai kerendahan hati. Jadi, pada waktu orang yang rendah hati ditegor, dinasihati atau mungkin didisiplinkan, dia pasti diam atau berdiam diri. Dari mulutnya hanya keluar kata-kata, “Ya Tuhan....Ya Tuhan...”.

      Kisah Daud

      Daud adalah contoh orang yang rendah hati. Pada waktu Daud berbuat dosa dengan Batsyeba, Nabi Natan datang kepadanya dan menyampaikan sesuatu dengan perumpamaan. Raja Daud menyetujui perumpamaan itu dan berkata bahwa orang yang bersalah itu harus dihukum, padahal dia tidak mengetahui bahwa yang diceritakan Nabi Natan itu adalah dirinya sendiri. Tiba-tiba Nabi Natan berkata, “Engkaulah orang itu!”.

      Sebagai raja, Daud bisa saja langsung memenggal kepala Nabi Natan, tetapi pada saat itu Daud langsung turun dari singgasana nya dan berkata kepada Nabi Natan, "Itu aku.. ampuni aku...".

      Lalu Nabi Natan berkata, “Kamu mau pilih yang mana...mau dihukum dengan cara ini.. ini.. atau ini.. yang mana kamu pilih?”, tetapi Daud berkata, “Tidak, biar aku memilih dihukum oleh Tuhan sendiri”.

      Saudara, itulah Daud. Berbeda dengan Saul; begitu Saul ditegor kelihatanlah bahwa dia orang yang sombong karena dia mengeluarkan seribu satu alasan untuk menyalahkan orang lain, dan sebagainya. Bahkan lama-kelamaan mungkin menyalahkan Tuhan sendiri.

      Saudara, orang yang rendah hati pasti berdiam diri pada waktu ditegor. Dan kerendahan hati ini adalah karakter, yaitu karakter dari Tuhan Yesus. Kelemahlembutan itu juga berarti kerendahan hati. Saya percaya kalau kita seperti itu, mata kita akan senantiasa memandang kepada Dia. Sebab kalau tidak tentu tidak bisa karena kita akan mempunyai kemauannya sendiri dan merasa kepintarannya sendiri. Bahkan mencari alasan dengan kebohongan-kebohongan dan sebagainya. Dan begitu berbohong yang satu maka akan terus berbohong lagi dan begitu seterusnya.

Tanpa Tuhan Yesus kita tidak berarti

Aleph itu berarti 1, tetapi Aleph ini juga bisa berarti seribu dengan cara penulisan sebagai berikut: 1.000

Saudara, 000 tanpa angka 1 di depannya tentu tidak ada artinya, karena hanya kosong belaka. Tetapi 1 tanpa 000 tetap ada artinya, yaitu 1 (satu). Siapakah yang dimaksud dengan “1” ini? TUHAN YESUS!

Siapakah yang dimaksud dengan “000”? Kita semua!

Tanpa Tuhan Yesus... tanpa yang “1” ini, kita tidak berarti apa-apa. Amin!

Saya bayangkan kalau kita menulis 00000000 ...... dan seterusnya sampai seberapa panjang pun tetap kosong artinya kalau tanpa “1” di depannya. Sebaliknya tanpa 0000000.... seberapa panjang pun, kalau ada “1”, itu tetap ada artinya, yaitu 1 (satu).

Saya ingat pesan Rasul Paulus kepada kita semua dalam 1 Korintus 1:26-29, Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”

Saudara, ini adalah kesempatan yang baik; di mana hari-hari ini Tuhan sedang berbicara tentang karakter. Mari kita lihat diri kita sekarang dan mengingat masa lalu kita. Ketika saya merenungkan hal ini, saya selalu menangis dan berkata, “Tuhan, siapakah saya ini?”. Kalau sekarang saya bisa berdiri di hadapan Saudara seperti ini, siapakah saya ini?

Tahun 2010 adalah “Tahun Pemulihan dan Kelimpahan”. Kalau Saudara diberkati dan diangkat Tuhan sehingga Saudara menjadi kaya dan menjadi orang yang terpandang, janganlah lupa akan keadaan kita pada waktu kita dipanggil-Nya. Siapakah kita ini? Pada waktu itu kita tidak mempunyai apa-apa, sebab tanpa Tuhan kita tidak ada apa-apanya!

Orang-orang yang terus membusungkan dadanya tidak akan diberkati, sebaliknya orang-orang yang selalu ingat keadaannya pada waktu dia dipanggil serta mau merendahkan diri, dialah yang akan diberkati Tuhan!

Saudara, saya dalam pelayanan ini, apalagi dalam pelayanan “Healing”, itu tidaklah mudah. Maksudnya begini:

  • Misalkan ada orang yang berkhotbah, meskipun orang itu tidak diurapi tetapi dia masih bisa berkhotbah. Walaupun pada akhirnya tidak berarti apa-apa yang disampaikannya tersebut karena memang tidak ada pengurapan. Namun demikian dia tetap bisa berkata-kata dalam khotbahnya.
  • Selain itu, misalnya orang yang memimpin pujian dan penyembahan. Meskipun dia tidak diurapi tapi karena dia pintar menyanyi maka dia tetap bisa menyanyi bahkan mungkin masih ada yang kagum dengan suaranya yang merdu.

Tetapi bayangkan dengan pelayanan kesembuhan! Apakah lalu orang yang sakit itu kita panggil dan kita katakan kepadanya, “Awas! kalau kamu tidak sembuh, saya pukul nanti!”, apakah seperti itu? Tentu tidak bisa begitu! Kalau memang orang itu tidak sembuh...ya memang tidak sembuh! Itu tidak bisa direkayasa. Di situ saya mengerti sepenuhnya, betapa pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita hari-hari ini adalah betul-betul Tuhan yang mengerjakannya.

Jangan main-main! Sebab di sini tidak ada yang namanya ‘bakat’ atau kepintaran karena telah belajar menyembuhkan orang sakit secara supra-natural. Semuanya itu karena Tuhan!

Saya mau bercerita kepada Saudara, kalau saya selalu diurapi Tuhan itu di Tanah Perjanjian, yaitu di tempat-tempat yang ditentukan Tuhan. Saya tidak tahu dengan hamba-hamba Tuhan yang lain, tetapi bagi saya, sejak awal Tuhan selalu memberikan pengurapan-Nya di sana. Meskipun saya juga diurapi di tempat-tempat lain tetapi pengurapan terakhirnya adalah di sana.

Tahun lalu saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, pelayanan ‘healing’ ini apakah diteruskan ya, Tuhan? Apakah Tuhan masih akan terus memakai saya?”. Saya selalu bertanya kepada Tuhan karena saya tidak mau berjalan dalam pelayanan dengan maunya saya sendiri.

Ketika itu saya sedang berada di tengah Danau Galilea dan sedang berlayar dengan ‘boat’ di sana. Perlu Saudara ketahui bahwa 80% mujizat yang terjadi pada zamannya Tuhan Yesus itu terjadi di sekitar Danau Galilea. Ketika kapal yang saya tumpangi hampir merapat di daratan di situ saya lihat dijual poster berjudul: “Miracles of Jesus in Galilee”, yaitu mujizat-mujizat dari Tuhan Yesus di Danau Galilea. Lalu saya membeli dan membacanya.

Ketika saya sedang melihat-lihat gambarnya, tiba-tiba ada sinar putih yang datang kepada saya dan saya menangis ketika itu, sebab saya tahu bahwa Tuhan sedang menghampiri saya. Di situlah Tuhan berbicara kepada saya, “Kamu akan melakukan seperti yang Aku lakukan!”. Haleluya!

Dan ketika itu yang saya lihat paling jelas pada gambar tersebut adalah 153 ekor ikan. Apakah Saudara hari-hari ini sudah mendapatkan 153 ekor ikan yang berbicara tentang berkat Tuhan tersebut?

Pesan Tuhan melalui gambar di Danau Galilea tadi terjadi pada tahun lalu Dan tahun ini ketika saya sedang naik ‘boat’ ditempat yang sama (Danau Galilea), kembali saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada Tuhan. Begitu hampir selesai dan saya mau duduk, tiba-tiba pengurapan Tuhan turun ke atas saya. Dan ketika saya diurapi Tuhan, itu rasanya seperti mau terpental dan sebagainya. Dan kalau itu terjadi saya tahu bahwa Tuhan sedang melawat saya.

Tiba-tiba Tuhan berbicara kepada saya, yaitu perkataan yang sering saya sampaikan kepada Saudara, “Kalau engkau percaya kepada-Ku, Engkau akan melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang Aku lakukan, bahkan yang lebih besar dari itu!”. Haleluya!

Dan Tuhan berkata dengan jelas ketika saya diurapi, “Engkau akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang Aku lakukan pada waktu Aku di bumi!”.

Saudara, berarti ke depan ini yang namanya mujizat-mujizat itu akan lebih lagi terjadi! Tetapi jangan ada di antara Saudara yang berkata, “Ah, ini tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Saya masih ragu-ragu!”.

Di hadapan Tuhan jangan sekali-sekali Saudara berkata seperti itu. Sebab di hadapan Tuhan tidak ada yang tidak mungkin! Semua mungkin bagi orang yang percaya kepada Dia. Haleluya!

Sumber