9 Weeks of Breakthroughs: Batu peringatan (Khotbah Pdt Sutadi Rusli)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
9 Weeks of Breakthroughs: Batu peringatan
Sutadi Rusli-20101114-3x4.jpg

Pdt Sutadi Rusli

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 14 November 2010
GerejaGBI Danau Bogor Raya
TempatGraha Amal Kasih
KotaBogor

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! (Mazmur 34:2-4)

Mari ucapkan syukur kepada Tuhan, begitu banyak yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita, berkat, keluputan, kekuatan untuk menghadapi setiap masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang ada. Dia sudah memberikan keluarga, pasangan hidup, anak-anak dalam hidup kita, diberkati dalam segala perkara, dalam pekerjaan kita, pelayanan, setiap apa pun langkah-langkah kita, kita tahu kalau kita boleh ada itu semua karena Tuhan.

Terima kasih Tuhan, Engkau baik, Engkau sungguh baik!

Bapa, Engkau sungguh baik
Kasih-Mu melimpah di hidupku
Bapa, Kubert'rima kasih
Berkat-Mu hari ini yang Kausediakan bagiku

Kunaikkan syukurku buat hari yang Kaub'ri
Tak habis-habisnya kasih dan rahmat-Mu
S'lalu baru dan tak pernah terlambat pertolongan-Mu
Besar setia-Mu di s'panjang hidupku

Kami siapkan hati kami menerima pesan-pesan-Mu hari ini, berbicaralah pada kami, terima kasih Bapa, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Shalom, pasti semua berbahagia dan diberkati Tuhan, ada begitu banyak pertolongan Tuhan pagi hari ini. Sejak 9 Oktober 2010 kita sudah memulai gelombang 9 Weeks of Breakthroughs dan akan kita akhiri pada 18 Desember 2010.

Saya tahu ada banyak di antara Saudara yang tidak berkesempatan untuk datang bersama-sama setiap hari Sabtu pagi, di mana selama 5 minggu ini kita telah bersama-sama sekian ratus jemaat yang dengan antusias datang, dua kali awal di Gedung Lautan dan setelahnya di tempat ini. Saya terharu begitu banyak yang datang dari berbagai tempat dengan antusias, padahal kita mulai pagi-pagi benar pukul 05.30-07.30. Begitu banyak yang datang dari Sukabumi, Jakarta, Cianjur, dan dari tempat-tempat lain, semuanya mau bersama-sama dalam pujian-penyembahan.

Saya mau membagikan pesan-pesan Tuhan yang ada dalam gelombang 9 Weeks of Breakthroughs ini, supaya Saudara yang mungkin tidak berkesempatan hadir juga memiliki pesan dan spirit yang sama dari Tuhan:

  • Tuhan berbicara visi 2010 untuk gereja kita adalah Tahun Pemulihan, Kelimpahan, dan Tahun Terobosan.
  • Tuhan katakan juga melalui Dr Peter Wagner, bahwa setiap gereja Tuhan yang menangkap pesan Tuhan pada tahun 2010 dan melakukan dengan sungguh-sungguh, akan berdampak sampai tahun 2020. Ini hal yang luar biasa, kita kerjakan hal yang kecil yang Tuhan suruh dengan sungguh-sungguh, maka akan berdampak dahsyat sampai 10 tahun ke depan. Dunia dan Indonesia sedang digoncangkan, dan kalau kita tidak menangkap sungguh-sungguh maka kita akan hanyut seperti dunia ini. Tapi kita adalah orang-orang yang dipakai Tuhan dan akan bersama-sama Tuhan Yesus.
  • Tahun 2010 juga berbicara Tahun Ayin Aleph, berbicara mengenai prioritas, unity, dan kerendahan hati. Kita bersama-sama dalam doa pagi, kita memberikan prioritas bagi Tuhan. Dan pada waktu kita unity dan dalam kerendahan hati, mau ditegor dibersihkan, maka kita mengerti Tuhan menuntun kita masuk tahun 2011 dengan lebih luar biasa lagi.

Saudara percaya hari-hari ke depan dunia akan lebih digoncangkan lagi? Tapi orang-orang percaya akan lebih dipelihara, lebih diberkati, lebih diluputkan, karena itu adalah janji Tuhan bagi hidup orang percaya.

Saudara, selama 5 minggu berjalan, ada hal-hal penting yang akan saya bagikan pada Saudara, biar hari ini kita di-refresh kembali, apa pesan Tuhan yang menjadi rhema dalam hidup kita.

Keluar dari zona nyaman

Saya tidak tahu apa zona kenyamanan Saudara hari-hari ini, tapi Tuhan ingatkan ayo keluar! Mungkin kita merasa sudah nyaman dengan kondisi kita, tapi jangan sampai Tuhan menggoyang sarang Saudara seperti seekor induk rajawali menggoyang sarangnya agar anaknya belajar terbang, tapi mari biar kita beri diri kita dan serahkan zona nyaman kita sepanjang tahun-tahun yang ada. Mungkin ada yang nyaman punya istri dua, suami tiga, mungkin ada yang nyaman berbuat dosa, iri hati, kebencian yang sudah Saudara simpan bertahun-tahun, sakit hati, dan Saudara pikir tidak apa-apa. Saudara mungkin juga nyaman tidak mengembalikan haknya Tuhan yaitu persepuluhan, nyaman tidak pernah baca Alkitab, tapi itu semua melanggar kebenaran Firman Tuhan tapi Saudara pikir biasa-biasa saja.

Hari ini Tuhan ingatkan, keluar dari zona nyaman! Setiap pribadi pasti ada zona nyaman, tapi Tuhan mau kita mau menjadi umat Tuhan yang bergerak mengikuti apa yang Tuhan suruh dalam hidup kita.

Kuduskanlah dirimu

Yosua 3:2-6, Setelah lewat tiga hari, para pengatur pasukan menjalani seluruh perkemahan, dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: "Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya-- hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."

Jaga jarak 2000 hasta

Ada rhema dalam hidup saya dari pesan Tuhan ini, yaitu jagalah jarak 2000 hasta. Jarak 2000 hasta ini atau sekitar 900 meter, sebuah jarak yang cukup jauh, adalah berbicara tentang jangan mempermainkan kasih Tuhan Yesus Kristus!

Kalau Dia tidak mengasihi kita, tidak mungkin Allah Bapa mengaruniakan Anak-Nya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Ada yang sering berpikir, Tuhan begitu panjang sabar, besar kasih-Nya. Itu memang benar 100%, tapi betapa sering kita malah jadinya menggampangkan segala sesuatunya? Tidak apa saya berbuat dosa, nanti saya minta ampun, dosa lagi, minta ampun lagi, toh Tuhan itu panjang sabar dan besar kasih-Nya. Saya nanti tinggal minta ampun, pergi ke gereja lagi. Begitu mudah jatuh bangun dalam dosa yang terus menerus sama seperti itu. Ada pepatah katakan keledai tidak akan terperosok dua kali pada lubang yang sama. Keledai itu begitu bodohnya, disuruh mundur malah maju, disuruh maju malah mundur. Saudara, jangan suka jatuh bangun terus dalam hal yang sama. Saya juga belajar agar tidak jatuh bangun.

Untuk itu, kalau Saudara mengerti kelemahan dalam hidup Saudara akan hal-hal yang bisa membuat jatuh dalam dosa, cobalah kita berdoa dan jangan menantang untuk menghadapi. Kalau sering jatuh perzinahan, janganlah melihat ini-itu macam-macam sehingga akhirnya membuat kita jatuh bangun dalam dosa yang sama.

Mungkin ada yang jatuh bangun sering berzinah. Saat kita mengerti kelemahan kita seperti itu, mari minta berusaha dengan pertolongan Roh Kudus. Saudara jangan sengaja lihat internet macam-macam yang membuat kita jadi kepingin atau macam-macam dan membuat jatuh lagi ke dalam dosa yang sama.

Tapi biarlah kita minta pertolongan Tuhan, karena kita tahu memang Tuhan itu panjang sabar dan belas kasihan pada kita, kasih-Nya begitu besar. Tapi janganlah kita mempermainkan kasih Tuhan. Mari terus berdiri dan lebih sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.

Kuduskan dirimu

Yosua 3:5 berbicara mengenai kita sudah dikuduskan dengan kuasa darah Yesus Kristus.

Ada seorang anak kecil senang bermain hujan-hujanan, bermain lumpur, bergelimpangan sehingga begitu kotor. Papanya melihat dan berteriak kencang memanggil anaknya dari rumah, suruh keluar dari lumpur dan masuk ke dalam. Melihat kotornya anak itu, dimandikan oleh Papanya, digantikan pakaian. Tapi waktu sudah bersih, terlihat anaknya mengepalkan tangan. Mula-mula anak itu tidak mau kasih lihat apa isi kepalan tangannya, dia pegang kuat-kuat. Tapi akhirnya sedikit ketakutan sambil malu-malu akhirnya anak itu mau membuka tangannya perlahan, dan waktu dibuka, ternyata di genggaman anak itu ada kodok, buduk lagi. Papanya suruh dia untuk membuang kodok buduk itu. Bukankah itu Saudara dan saya? Kita semua sudah ditebus oleh kuasa darah Yesus, sudah dibersihkan, tapi kita masih suka bawa kodok-kodok buduk itu, mungkin di saku kita, entah di mana. Biar hari ini, yang masih pegang kodok-kodok buduk itu, semua dibuang dalam nama Yesus Kristus. Jangan ada lagi! Saya tidak tahu kodok-kodok buduk Saudara berbentuk apa tapi mari buang dalam nama Yesus Kristus.

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku

Yosua 4:1-7, Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian: "Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap-tiap suku, dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari sini, dari tengah-tengah sungai Yordan ini, dari tempat berjejak kaki para imam itu, bawalah semuanya itu ke seberang dan letakkanlah di tempat kamu akan bermalam nanti malam."

Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku, dan Yosua berkata kepada mereka: "Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya."

Pesan Tuhan ini berbicara mengenai tiga hal:

  1. Menjadi saksi bagi Kristus
  2. Warisan iman
  3. Warisan Perjamuan Kudus

#1 Menjadi saksi bagi Kristus

Pada waktu orang Israel menyeberang sungai Yordan, Tuhan perintahkan kepada Yosua dan memberitahukan kepada orang-orang di bawahnya. Setiap suku satu batu, panggul di bahu. Batu ini bukan batu kecil yang sekedar bisa digenggam, tapi batu yang besar, karena harus ditaruh di bahu mereka.

Batu besar ini berbicara mengenai keagungan dan kebesaran Tuhan, dan bahu bicara mengenai setiap orang harus mengambil tanggung jawab. Ini berbicara bahwa kita, pribadi lepas pribadi, dengan penuh tanggung jawab harus menjadi saksi bagi Kristus. Ada batu yang harus kita panggul di bahu kita, tanggung jawab sebagai orang-orang yang diselamatkan. Inilah tanggung jawab kita yaitu keselamatan harus kita bagikan dan beritakan bagi banyak orang, bukan hanya untuk kita sendiri.

Menjadi saksi itu bagaimana? Saya mau katakan pengertian yang sangat sederhana, menjadi saksi bagi Kristus yaitu menceritakan kebaikan Tuhan. Haleluya!

Saudara, pasti semua sudah menerima kebaikan Tuhan, pribadi lepas pribadi. Ayo kita ceritakan! Saya sangat yakin Saudara sudah terima kebaikan Tuhan, sudah diselamatkan, sudah diberkati, sudah banyak mendapatkan pertolongan mujizat Tuhan. Saudara bisa cerita, mungkin di rumah pada suami yang belum percaya pada Yesus. Tidak usah injili macam-macam tapi cerita saja kebaikan yang sudah Tuhan kerjakan.

Waktu ketemu seseorang, Saudara tidak usah cerita macam-macam, Saudara cerita saja kebaikan Tuhan, bahwa Saudara sudah merasakan pertolongan Tuhan, bahkan ada di tempat ini pun itu semua karena pertolongan Tuhan, macam-macam hal bisa kita ceritakan. Daripada menggosip yang tidak karuan macam-macam, lebih baik ceritakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, maka kita sudah jadi saksi bagi Kristus.

Pada akhir bulan lalu kita sudah mengumpulkan dana bagi korban bencana, saya ucapkan terima kasih akan apa yang sudah Saudara kumpulkan, dan kita sudah salurkan melalui Pelayanan Masyarakat Sinode Gereja Bethel Indonesia. Saya juga sudah kirimkan tim untuk bersama-sama tim dari Sinode GBI ke Merapi dan Mentawai.

Mereka di sana setiap hari melapor kepada saya, situasi begitu sulit. Mereka baru cerita belakangan kalau jarak mereka ternyata hanya 4 km dari Gunung Merapi. Rupanya rombongan ini naik ke atas. Kalau saya tahu saya tentu tidak izinkan, saya memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Tapi rupanya mereka baru menceritakan setelah kejadian.

Mereka ceritakan bahwa mereka membantu pengungsi yang tidak sempat lagi mengungsi di rumah-rumah. Mereka jalan dari kampung-kampung dan membagikan sendiri kebutuhan para pengungsi itu. Rupanya orang-orang ini sudah kehilangan pegangan. Saudara tahu, kuncennya di sana sudah tidak ada, sehingga mereka tidak ada pegangan lagi, mereka tidak tahu harus bagaimana. Sambil ini membagikan bantuan, tim ini mendoakan para pengungsi itu, dan mereka mulai memanggil Gusti Yesus. Kalau Tuhan izinkan ini terjadi, ini ada satu maksud supaya semua bertekuk lutut memanggil Yesus adalah Tuhan.

Goncangan belum berhenti karena Tuhan mengasihi Indonesia. Dan harus banyak orang datang bertekuk lutut memanggil Yesus adalah Tuhan. Saudara, mulailah bersaksi kebaikan Tuhan, di mana pun kita berada. Saudara harus menjadi saksi bagi Kristus karena itu adalah tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus. Amin!

#2 Warisan iman

Yosua 4:6b-7, … jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya."

Ini berbicara mengenai warisan. Mereka harus mewariskan sesuatu kepada anak-anak mereka. Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sebagai orang-orang percaya harus memberikan warisan kepada keluarga kita. Saya harus mewariskan tentu pertama-tama kepada keluarga saya, tapi juga kepada Saudara, kepada anak-anak rohani saya, kepada jemaat yang Tuhan percayakan, tentu saya harus mewariskan sesuatu dalam kebenaran Firman Tuhan, itu menjadi tanggung saya sebagai Gembala yang Tuhan percayakan.

Kita pribadi lepas pribadi juga harus mewariskan kepada orang-orang yang ada di bawah Saudara, entah itu anak-anak, istri Saudara, anak-anak rohani, teman-teman, Saudara harus mewariskan sesuatu kepada mereka. Kalau kita bicara warisan, nomor satu dalam benak Saudara apa? Pasti masalah uang. Memang benar, begitu bicara warisan, orang pasti pikirannya melayang ke uang.

Kemarin saya baca di Pojok Kompas, "Orangtua banting tulang, anak-anak rebutan!" Saudara, ini berbicara mengenai warisan. Ini tentu bukan kebetulan. Sudah terlalu banyak saya membaca, melihat, bahkan membereskan, kadang-kadang keluarga-keluarga yang anak-anaknya diwariskan bukannya bertambah kuat bersatu hati tapi justru apa yang diwariskan orang tuanya malah menjadi sumber perpecahan generasi-generasi berikutnya. Sudah tidak ada cerita lagi kakak-adik-saudara. Semua rebutan menghalalkan segala macam cara yang penting saya dapat bagian. Kita sering dengar cerita seperti ini bahkan mungkin mengalami.

Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita, jangan mewariskan nomor satu mengenai uang yang fana dan sumber perpecahan. Tapi ada warisan yang utama kepada mereka yang nomor satu yaitu warisan rohani, warisan iman.

Saudara sudah diselamatkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus? Apa yang sudah Saudara terima ini harus Saudara wariskan kepada orang-orang di bawah Saudara, anak-anak Saudara. Saya beberapa kali mendengar orang-orang tua Kristen begitu menggampangkan dan menyederhanakan, ah tidak apa-apa, biar aja anak-anak saya menentukan jalan hidupnya mau percaya kepada siapa Tuhannya. Saya sedih kalau dengar itu. Biarlah kalau agama lain, tapi ini adalah orang-orang Kristen! Mereka katakan, ini zaman demokrasi, biar saja mereka bebas memilih kepercayaan mereka. Saya berdoa tidak ada satu pun itu terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen di tempat ini.

Saudara harus berjanji di hadapan Tuhan untuk mewariskan iman Saudara kepada anak-anak Saudara. Kalau soal karier apa pun biar mereka bisa pilih, tapi waktu mereka mau mengerti untuk kepercayaan, tidak ada kata lain, harus Saudara confirm, hanya kepada satu nama Yesus Kristus.

Rasul Paulus punya anak rohani, Timotius. Rasul Paulus begitu menghargai Timotius, dalam suratnya 2 Timotius1:5, Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Timotius, anak rohani Paulus, adalah anak dari Mamanya, Eunike, dan Omanya, Lois. Rupanya iman Lois dan Eunike sudah diwariskan kepada anaknya, Timotius. Sebuah warisan dari Oma kepada Mama dan kepada cucunya, itu harus terjadi kepada Saudara dan saya, wariskan kepada anak-anak Saudara, iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mau panjang lebar sedikit bicara tentang warisan, karena ini penting. Seorang hamba Tuhan, Rick Warren, berkata setiap keluarga atau rumah tangga itu harus memiliki visi. Anak-anak mau dibawa ke mana? Kalau Saudara baru terpikir hari ini bahwa setiap keluarga harus punya visi, maka Saudara doakan, Tuhan, visi apa bagi keluarga saya? Kita akan tahu apa yang harus kita lakukan buat anak-anak kita.

Saudara yang dikasihi Tuhan, Saya tahu harus membawa anak saya ke mana. Saya mau didik anak saya sebagaimana pesan Tuhan sebagaimana Maleakhi 2:15, bahwa kita harus melahirkan keturunan-keturunan ilahi bagi anak-anak kita.

Sampai saya menunggu sampai dia harus masuk ke sebuah Sekolah Dasar, tapi saya tahu saya punya visi untuk dia sekolah yang menurut kami berdua memiliki integritas dalam kebenaran Firman Tuhan. Dia harus tunggu karena sekolah belum buka untuk kelas 1 SD. Biarlah dia terlambat beberapa bulan untuk masuk tapi kami berdua sudah punya konsistensi bahwa anak kami harus tetap dimasukkan ke sekolah ini, supaya anak kami punya integritas yang kuat sebagai orang-orang percaya. Harus kita kobarkan sesuatu. Ada pilihan lain tapi tidak kami ambil, karena tentu kami memilih agar anak kami harus masuk dalam lingkungan dengan integritas yang kuat sebagai orang-orang percaya.

Saya juga membagikan nilai-nilai dalam keluarga saya, terutama buat anak saya. Kami suami istri memiliki kesibukan dan punya kegiatan-kegiatan masing-masing. Kadang kalau saya cerita, mungkin orang pikir nyeleneh. Kami punya kebiasaan di mana kalau sudah malam selesai makan malam, seringkali dalam seminggu itu 3-4 kali, kami "mengukur jalan". Apa yang kita lakukan bertiga? Kita naik mobil keliling Bogor, bukan untuk buang waktu atau buang bensin, tapi saya tahu dalam kesempatan yang ada dalam keliling itu saya bisa punya waktu yang cukup dan berkualitas membagikan nilai-nilai kepada keluarga saya, saya ceritakan bermacam-macam dan bagikan kepada keluarga saya.

Kenapa bukan di rumah? Karena kalau di rumah masing-masing punya kegiatan, sampai di rumah, bapaknya ngapain, mamanya ngapain, anaknya di dalam kamarlah. Kalau tidak begitu, entah ada yang nonton televisi atau melakukan kegiatan lain, lalu mungkin ada juga telepon yang masuk. Tapi kalau di dalam mobil 30-45 menit berkeliling, saya bisa cerita kebenaran Firman Tuhan, ini waktu berkualitas.

Memang sekarang ini hidup kita saat ini rasanya sudah punya ego sendiri-sendiri. Ada satu ungkapan berkata, dulu kita hidup di desa (suasananya sepi), terus kita hidup di kota (suasananya makin ramai), tapi kita sekarang hidup di internet, yaitu dunia maya.

Dua bulan lalu saya pergi berdua istri ke satu Mal di Jakarta. Kami duduk di salah satu restoran, cuma minum yang sederhana sambil ngobrol. Waktu kita duduk, ada satu keluarga lagi datang, bapak, anak, dan istrinya, bertiga. Ini keluarga dari suku di Indonesia, yang jarang sekali beragama Kristen. Mereka duduk di meja yang posisinya agak di atas, sehingga pas posisi kita mudah untuk melihat mereka. Sambil ngobrol tiba-tiba kita tertarik bagaimana mereka bertiga duduk semuanya menunduk. Istri saya bilang, "Wah mereka baru berdoa." Kita jadi memperhatikan mereka, karena kita tahu bahwa suku ini jarang sekali yang beragama Kristen. Sambil kami mengobrol lagi, tiga-tiganya masih menunduk terus, kami pikir, kok doa makan lama amat? Barangkali itu 10 menit, lama benar. Doa di gereja saja kalah lama. Saya penasaran, berdiri berlagak jalan dekat meja mereka bertiga. Saya kaget, tiga-tiganya ternyata sambil menunduk itu pegang handphone! Jadi rupanya mungkin mereka ngobrol bertiga pakai sms.

Itulah, kita hidup di dunia internet, sudah masa bodoh satu sama lain. Jadi duduk di meja makan bukannya ngobrol tapi kesempatan masing-masing untuk sms-an ke sana kemari.

Saudara yang dikasihi Tuhan, biarlah kita wariskan kebenaran ilahi dalam keluarga kita.

#3 Warisan Perjamuan Kudus

1 Korintus 11:23, Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti …

Warisan yang Tuhan berikan kepada kita yaitu dalam Perjamuan Kudus, yang menjadi peringatan bagi kita setiap kali kita berkumpul. Dalam ayat-ayat berikutnya Tuhan ingatkan kita, dan senantiasa setiap kali kita masuk perjamuan kudus, hamba-hamba Tuhan ingatkan agar kita introspeksi, kalau ada yang mengganjal kita harus bereskan. Ini berbicara mengenai hati. Berulang-ulang kita diingatkan bahwa jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)

Kita diingatkan kembali hari ini, jaga hati kita pribadi lepas pribadi. Bahkan saya mau mencanangkan Gerakan Anti Sakit Hati. Saudara harus minta kekuatan dari Roh Kudus agar tidak mudah sakit hati, benci, marah, pokoknya mari kita canangkan ramai-ramai, Gerakan Anti Sakit Hati.

Pada Februari 1995, Rick Joyner dalam bukunya menulis singkat sekali, dia melihat pasukan neraka keluar dan di tengah-tengah pasukan itu ada orang-orang Kristen dalam jumlah banyak dengan luka di sana sini, ikut menyerang gereja Tuhan. Ini berbicara mengenai orang-orang percaya yang mengalami sakit hati, ikut menyerang gereja. Jangan sampai di antara kita justru mencemarkan lingkungan kita karena sakit hati. Tapi biarlah kita buang sakit hati ini supaya keluarga Saudara diberkati, keluarga-keluarga pribadi lepas pribadi diberkati oleh kehadiran kita bersama-sama.

Jangan ada sakit hati. Waktu kita sakit hati, ganjalan dalam hidup kita maka waktu kita makan Perjamuan Kudus, bukan berkat tapi kutuk yang akan datang menimpa kita, tapi biarlah kita jaga hati kita dengan penuh kewaspadaan.

Janganlah takut!

Dari tahun 1531 sampai tahun 2010 ini, ada 44 kali bencana alam yang luar biasa di berbagai belahan dunia yang kualitasnya besar sekali, di mana puluhan-ratusan ribu orang meninggal, itu terjadi setiap tanggal 26. Di Indonesia, bencana Merapi, Tsunami Aceh, juga terjadi pada tanggal 26. Goncangan-goncangan akan makin besar, tapi Tuhan ingatkan, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; (Hagai 2:6-7)

Tuhan katakan pada kita, goncangan ke depan makin banyak, ada puluhan gunung api di Indonesia sedang bergerak. Tapi Tuhan katakan jangan takut, kalau Roh Allah ada pada kita, Tuhan akan memberikan kita perlindungan. Kita diluputkan, diberkati, menjadi kepala, dan bukan ekor. Jangan takut, Tuhan Yesus beserta dengan kita.

Penutup

Yesus, Kaulah pembelaku
Pada siapa aku harus takut
Yesus, Kau perlindunganku
Ku tak gentar menghadapi musuh

Sekarang tegaklah kepalaku hadapi lawanku
Yang berada di sekelilingku
Dan mulutku memuji bermazmur bagi-Mu
Bersorak bagi kebesaran-Mu

Engkau sudah berbicara pada kami Tuhan, biarlah pesan-pesan-Mu kami tangkap, dan kami tahu ada sesuatu yang sudah Engkau sampaikan kepada kami untuk menjadi rhema dalam hidup kami.

Terima kasih Bapa, Engkau mau untuk kami menjadi saksi, untuk kami boleh mewariskan warisan iman kepada keluarga kami, anak cucu kami, kepada semua keturunan kami, supaya mereka boleh menjadi keturunan Ilahi.

Engkau mengingatkan kami, Tuhan, supaya kami tidak sakit hati. Kami mau memiliki hati yang terbuka, Tuhan bersihkan, biarlah berkat yang kami terima dalam Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah perjamuan Tuhan sendiri bahkan melalui Perjamuan Kudus, Engkau mau memberkati kami pribadi lepas pribadi.

Terima kasih Tuhan, kami bersyukur Tuhan biarlah hari ini kami boleh memeriksa hati kami, kalau ada yang tidak berkenan di hadapan Engkau, Tuhan ampuni kami. Mari pribadi lepas pribadi, kita bereskan, kita berani berkata tidak pada sakit hati supaya kita diberkati Tuhan.

Dalam nama Yesus Kristus. Amin.