Having Mary's heart in a Martha World (Pdp Alyssa Rusli)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kita hidup di dunia yang serba cepat dan serba sibuk, tetapi jangan sampai porsi kehidupan jasmani mengambil porsi yang lebih banyak daripada kehidupan kerohanian kita untuk mencari Tuhan; jadilah seperti Maria yang memilih duduk dekat kaki Yesus dan menjadikan Yesus fondasi dalam pribadi, keluarga, usaha, pekerjaan, mimpi, dan harapan kita. Kekhawatiran, pergumulan, kesedihan, bahkan berkat Tuhan bisa menjadi distraction yang membuat kita tidak lagi fokus kepada Tuhan, sehingga kita perlu kembali mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya serta mengembalikan fokus kepada Tuhan Yesus sendiri.

Shalom, apa kabarnya, Bapak, Ibu? Luar biasa. Kita percaya kita dalam keadaan yang baik karena kita punya Tuhan Yesus yang dahsyat. Yesus Kristus nama-Nya.

Hari ini kita mau belajar tentang satu tema dari Lukas 10:38-42, yaitu Having Mary's Heart in a Martha World—mempunyai hati Maria di tengah dunianya Marta.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:38-42)

Amin.

Waktu itu Yesus sedang berjalan dengan murid-murid-Nya. Dia mampir ke sebuah rumah, rumahnya Maria dan Marta. Mereka kakak-adik, dan saudaranya lagi adalah Lazarus. Maria dan Marta menerima Yesus di rumahnya.

Seperti normalnya ketika ada tamu di rumah kita, kita mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Marta menyiapkan segala sesuatu, tetapi saudarinya, Maria, memilih bagian yang terbaik, yaitu duduk dekat kaki Yesus. Dia tinggalkan segala sesuatu hari itu dan spending time with Jesus. Dia memutuskan untuk duduk dekat kaki Yesus.

Kita hidup di dunia yang serba cepat. Dunia bilang, “Ayo kerja lebih banyak, ayo cari uang lebih banyak lagi, ayo hidup lebih mewah, ayo ini-itu, semuanya berusaha lebih keras, pokoknya harus jadi lebih baik, harus jadi A, B, C.”

Saya mau katakan, itu semua ngga salah. Tuhan juga suka orang yang bertanggung jawab, orang yang bekerja dengan susah payah, orang yang melipatgandakan talenta. Tuhan juga senang. Tapi jangan sampai porsi kehidupan jasmani itu mengambil porsi yang lebih banyak daripada waktu kita datang menghadap Tuhan.

Seperti Marta dan Maria. Marta melakukan segala sesuatu, tetapi Maria memilih untuk mengutamakan duduk dekat kaki Yesus.

Bagaimana kita bisa punya hati seorang Maria di dunianya Marta, di dunia kita yang serba cepat, serba sibuk? Kita cuma punya 24 jam. Kita melakukan segala sesuatu, tetapi bagaimana hidup kita becoming a Mary before we become Martha di hadapan Tuhan?

Saya berdoa setiap kita di tempat ini ngga cuma tahu dan dengar siapa Yesus, tetapi kita kenal betul Pribadi itu, Juru Selamat kita, Tuhan kita satu-satunya, Yesus Kristus.

#1 Bangun kehidupan rohani sebagai yang utama

Yang pertama dari cerita Maria dan Marta, saya mau katakan bahwa bangun kehidupan kita yang utama adalah kehidupan rohani.

Yesus sebagai fondasi di dalam kehidupan kita.

It's about being a Mary before you become a Martha.

Menjadi Maria sebelum kita menjadi seorang Marta.

Bapak/Ibu, jangan karena hidup kita baik-baik saja, usaha kita lancar, hidup kita fine-fine saja, keluarga kita oke-oke saja, lalu itu bikin kita ngga mencari Tuhan lebih lagi, ngga mau berdoa lebih sungguh-sungguh lagi. Tidak. Biarlah segala aspek dalam kehidupan kita dibangun dengan Yesus sebagai fondasi yang nomor satu.

Dalam kultur Yahudi, kalau seseorang duduk di bawah kaki seorang guru atau rabi pada zaman dulu, dia adalah murid. Kita tahu bahwa Maria duduk di bawah kaki Yesus. Ini menggambarkan karakter seorang murid.

Bukankah sebagai orang percaya, goal setiap kita adalah menjadi murid Kristus dan menjadi serupa dengan gambar-Nya? Pak Niko sebagai Gembala Pembina kita dan Pak Rusli sebagai Gembala di tempat ini terus berkata, “Ayo jadi murid, jadi murid, jadi murid.” Karena hanya murid yang akan memuridkan.

Maria menunjukkan karakter seorang murid: duduk dekat kaki Yesus. Untuk menjadi seorang murid, kita harus belajar dari Guru kita, yaitu Yesus Kristus sendiri. Kita belajar apa yang Dia ajarkan, kita dengar-dengaran, kita menghidupi teladan Yesus, dan kita melakukan kebenaran Firman Tuhan.

Intisari dari seorang Kristen adalah menjadi murid Kristus.

Karena itu, ayo perhatikan inner life kita, kehidupan kerohanian kita. Jangan cuma perhatikan yang di luar, yang jasmaninya saja. Biarlah yang nomor satu dalam hidup kita adalah kerohanian kita yang kita prioritaskan di hadapan Tuhan.

Saudara tahu bola ubi? Luarnya garing, crispy, mengkilap. Wah, enak. Tapi pas dimakan kempes, kopong, ngga ada isinya. Jangan sampai hidup kita yang di luar bagus, jasmani kita bagus, tetapi yang di dalam kosong.

Bukan seberapa lama kita menjadi orang percaya, tetapi seberapa dalam kita mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita.

Bangun pribadi kita dengan Tuhan. Bangun keluarga kita dengan Tuhan. Bangun usaha dan pekerjaan kita dengan Tuhan. Bangun mimpi-mimpi kita, anak muda, dan harapan kita bersama dengan Tuhan.

Saya ingat sejak kecil, setiap hari papi dan mami tumpang tangan dan mendoakan saya sebelum pergi sekolah. Tiap hari. Ayo bangun keluarga kita dengan mezbah doa. Mezbah doa kita bangun kembali. Bangun usaha dan pekerjaan kita bersama dengan Tuhan.

Tuhan mempercayakan saya di marketplace, mengelola satu usaha. Saya bangun usaha itu dengan fondasi nomor satu adalah Tuhan Yesus. Saya mau mempunyai nilai-nilai Kekristenan yang bisa memberkati orang melalui usaha tersebut.

Bangun setiap mimpi dan harapan kita dengan dasar yang nomor satu: hubungan kita dengan Tuhan.

Bagaimana kita bisa menikmati atau merasakan Tuhan?

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! (Mazmur 34:9)

Sekarang lagi musim makanan viral. Tiap hari buka media sosial ada saja yang viral. “Bolu di situ enak, kue di situ enak, bakso di sana enak, kopi di situ enak.”

Tapi kita ngga pernah tahu betapa enaknya, betapa nikmatnya makanan atau minuman itu kalau kita ngga datang sendiri dan merasakannya. Kita cuma dengar dari kata orang atau baca dari testimoni orang.

Demikian juga kasih Tuhan Yesus secara pribadi harus kita kecap dan lihat, harus kita rasakan secara pribadi, lepas pribadi.

Ayat ini ditulis oleh Raja Daud. Waktu Daud diluputkan, dia berkata, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan.” Dia mengajak umatnya dan mengajak kita semua melalui ayat ini untuk mengecap dan melihat kebaikan Tuhan. Yesus sendiri harus kita alami.

Bukan apa kata orang, bukan apa kata pendeta, bukan apa kata Gembala COOL, tetapi kita sendiri harus mengalami Tuhan.

Saya mau katakan bahwa keselamatan itu sifatnya pribadi. Ngga bisa nebeng, Bapak, Ibu. Saya ngga bisa nebeng iman percaya orang tua saya meskipun mereka adalah Gembala. Ngga bisa nebeng suami atau istri. Ngga bisa nebeng keselamatan dari ketua COOL kita.

Keselamatan itu diberikan secara pribadi, lepas pribadi. Itu tanggung jawab kita sendiri dengan Tuhan.

Jadi saya ajak, ayo kita harus mengalami encounter with God, perjumpaan pribadi dengan Tuhan sendiri. Baru kita bisa tahu, “Oh, ini ya Tuhan Yesus, Juru Selamatku.”

Seperti Maria. Dia kepengin banget mengalami Tuhan. Mungkin sebelum bertemu Yesus, Maria sudah dengar banyak cerita tentang Yesus. “Yesus ini baik banget. Orangnya penuh belas kasihan. Dia melakukan mukjizat.”

Dia longing for God. Dia longing for Jesus to come.

Sampai akhirnya Yesus datang ke rumahnya. Dia ngga pedulikan yang lain, tetapi dia fokus kepada Tuhan, karena dia ingin benar-benar merasakan kehadiran Yesus dalam kehidupannya.

Pada zaman itu, dalam kultur yang berlaku, seorang wanita tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti pria untuk duduk sebagai murid di kaki seorang rabi. Tetapi Maria mendobrak kultur itu. Dia push herself untuk duduk dekat kaki Yesus.

Bapak, Ibu, apa yang menjadi kultur kita hari-hari ini? Dunia akan bilang, “Udahlah, ngga usah Kristen-Kristen banget. Ngga usah Yesus-Yesus banget. Ke gereja sebulan sekali cukup. Kita biasa-biasa saja jadi Kristen. Dosa ya dosa, kerjaan beda lagi urusannya.”

Tapi tidak. Kalau dunia bilang yang penting jadi orang baik, hati-hati. Orang baik belum tentu benar di hadapan Tuhan. Tetapi orang benar seturut Firman Tuhan sudah pasti baik di hadapan Tuhan dan baik kepada sesama.

Apa yang bisa kita dobrak dari kultur hari-hari ini? Tuhan berkata:

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Kita ngga sama dengan apa yang dunia tawarkan. Dunia taruh standar, kita ngga ikut. Kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kebenaran berbicara soal melakukan kebenaran Firman Tuhan.

Waktu dunia bilang, “Udahlah, jahatin balik. Kan dia jahat sama lu, ngapain baik?” Tetapi Firman Tuhan berkata untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menyakiti kita.

Kita dobrak kultur itu. Kita cari wajah Tuhan, kita cari Kerajaan Tuhan. Saya percaya waktu kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, semuanya akan ditambahkan kepada kita.

Ada mukjizat, ada berkat, jalan keluar, pertolongan Tuhan, damai sejahtera, dan kesembuhan kita alami dalam nama Yesus. Jadi, bangun yang utama: kehidupan kerohanian kita dengan Tuhan.

Seperti Maria, dia tinggalkan semuanya dan fokus kepada Tuhan.

#2 The better part is always available

Bagian yang kedua, saya mau katakan: the better part is always available.

Bagian yang terbaik itu akan ada dan terus ada. Hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih dan ada free will, kehendak bebas. Kita lahir sebagai pria atau wanita, lahir di keluarga seperti apa, tanggal dan tahun berapa, itu tidak kita pilih.

Tetapi banyak bagian kehidupan kita melibatkan pilihan. Bapak dan Ibu datang ke tempat ini, mau ke gereja atau ngga, itu pilihan. Habis ini mau makan apa juga pilihan. Nah, the better part is always available.

Tuhan tidak menyalahkan apa yang Marta lakukan. Yang dilakukan Marta dan Maria dua-duanya baik. Tetapi Maria mengambil bagian yang terbaik. Dia mengambil bagian yang terbaik untuk duduk di kaki Yesus.

Bayangkan kalau ada tamu spesial datang ke rumah kita, misalnya Bapak Gembala datang atau teman yang sudah lama kita rindukan. Kita senang sekali dan sebagai tuan rumah yang baik kita keluarkan segala sesuatu yang terbaik.

Tetapi pernah ngga orang yang datang itu berkata, “Udah, ngga usah repot-repot. Duduk saja di sini bareng aku. Kita ngobrol, spend time bersama-sama.”

Marta repot melakukan segala sesuatu ketika Yesus datang. Tetapi Maria mengambil bagian yang terbaik.

Yesus senang dengan setiap kita yang rajin, tekun, bekerja keras, dan melakukan segala sesuatu dengan baik. Tetapi jangan sampai semua itu mengambil porsi yang lebih banyak daripada kehidupan kerohanian kita untuk mencari Tuhan.

Di ayat 40 dikatakan Marta sibuk sekali. Dalam bahasa Inggris: But Martha was distracted.

Kata kuncinya adalah distracted. Marta terganggu. Pernah ngga kita merasa terganggu? Misalnya kita sedang mau mencatat Firman Tuhan, tiba-tiba ada WhatsApp masuk, “Eh, makan di mana nanti siang?” Nah, itu terganggu. Kita jadi ngga bisa fokus.

Marta was distracted. Dia terganggu sampai akhirnya ngga bisa melihat value yang paling penting: Yesus sendiri datang ke rumahnya dan dia punya kesempatan menikmati kebersamaan dengan Yesus.

Lalu apa yang menjadi gangguan? Tuhan berkata:

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42)

Dalam bahasa Inggris: “You are worried and upset about many things.”

Ternyata kekhawatiran, pergumulan, dan kesedihan bisa menjadi gangguan untuk kita melihat kasih Yesus yang besar, untuk kita melihat betapa dahsyatnya Tuhan. Kenapa? Karena kita fokus kepada kekhawatiran dan pergumulan masalah kita. Kita ngga bisa melihat salib yang begitu besar yang sudah Tuhan berikan buat setiap kita.

Firman Tuhan berkata:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6)

Kekhawatiran bisa menjadi distraction. Kita ngga fokus sama Tuhan.

Mungkin hari ini kita datang dengan segala kegelisahan, kesedihan, sakit hati, kecewa, kemarahan, dan kesusahan. Anak muda mungkin berkata, “Tuhan, bagaimana masa depanku? Bagaimana ekonomi keluargaku? Bagaimana kesehatan keluargaku?”

Tetapi Tuhan merespons seperti Dia merespons Marta: datang kepada-Ku, duduk di kaki-Ku, cari Aku.

Sebenarnya Yesus ngga kenapa-kenapa dengan apa yang Marta lakukan. Marta melakukan sesuatu yang baik juga. Tetapi Yesus merespons setelah Marta komplain kepada Tuhan.

Marta berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Marta komplain, lalu dia menyuruh Tuhan. Berapa sering kita komplain kepada Tuhan? Sudah komplain, kita menyuruh Tuhan lagi dengan memakai cara pikir kita. “Tuhan, kok jawaban doanya ngga datang-datang? Engkau ngga peduli sama aku? Engkau ngga jawab doaku. Engkau ngga peduli dengan keluargaku. Tuhan, harusnya caranya A-B, kok malah C-D?”

Tetapi jalan pikiran kita ngga akan pernah sama dengan jalan pikiran Tuhan. Kultur kita ngga akan pernah sama dengan kultur surga.

Karena itu Tuhan mau kita mengembalikan fokus kepada Yesus, kepada kasih-Nya yang besar dan pengorbanan-Nya yang besar buat setiap kita.

Berkat pun bisa menjadi distraction

Kalau tadi pergumulan bisa menjadi distraction, berkat Tuhan juga bisa menjadi gangguan untuk kita mencari Tuhan.

Karena hidup kita fine-fine saja, usaha kita bagus, karier kita bagus, keluarga kita diberkati, kita ngga lagi fokus kepada Tuhan. Kita fokus kepada berkatnya, bukan kepada Pemberi berkat itu sendiri.

Pesan untuk setiap kita: kembalikan fokus kepada Tuhan Yesus sendiri. Firman Tuhan berkata:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

The better part will always and always be available

Tuhan ngga pernah memaksa Marta. Tetapi Maria memutuskan untuk mengambil bagian yang terbaik.

Kalau iblis ngga bisa membuat kita hidup dalam dosa, dia bisa membuat kita menjadi orang yang sibuk. Sibuk, sibuk, sibuk, sampai kita ngga punya waktu lagi untuk datang kepada Tuhan.

Kita ngga pernah punya mezbah pribadi bersama Dia. Mungkin dahulu kita punya mezbah keluarga, tetapi karena sibuk kita tinggalkan. Mungkin dahulu kita rajin mendoakan pekerjaan dan usaha kita, tetapi karena sibuk kita ngga lagi melakukannya.

Hari ini Tuhan berkata, “Bawa, datang kepada-Ku dan Aku akan memberi kelegaan.”

Kelegaan bukan selalu berarti jawaban atau mukjizat langsung terjadi. Itu bisa saja terjadi. Tetapi kelegaan juga berarti kita bisa melalui setiap pergumulan dan masalah dengan damai sejahtera dan sukacita. Kita bisa tidur nyenyak walaupun ada banyak masalah. Kita tetap bisa memberi walaupun dalam kekurangan. Itu kelegaan yang dari Tuhan sendiri.

Waktu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego masuk dalam perapian, mereka tetap harus melalui perapian itu. Bukan berarti perapiannya ngga jadi. Tetapi mereka bisa melalui perapian karena Tuhan ada bersama mereka, dan ada mukjizat yang terjadi.

Mungkin kita sedang berada dalam lembah kekelaman. Tetapi percayalah, waktu kita mengutamakan Tuhan dan Yesus menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita, Tuhan berjalan bersama dengan kita memberikan kemenangan demi kemenangan.

Amin.

Video