Bereskan rumahmu (Pdt Sutadi Rusli)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kita enggak pernah tahu kapan kita akan dipanggil pulang oleh Tuhan, karena itu selama kita masih diberikan kesempatan hidup, pergunakan waktu Saudara untuk kemuliaan Tuhan, untuk menjadi berkat, dan hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Set your house in order: bereskan hubungan dengan Tuhan, bereskan hubungan dengan keluarga supaya hidup rukun bersama-sama di dalam Tuhan, dan bereskan hubungan dengan sesama karena kita sudah lebih dahulu diampuni. Semua aspek dalam perjalanan hidup kita—pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, usaha, apa pun yang Saudara lakukan—dimulai dari hati yang benar di hadapan Tuhan.

Shalom, semua diberkati oleh Tuhan? Semuanya semangat? Semuanya sehat-sehat? Amin! Puji Tuhan.

Tidak terasa kita sudah dalam bulan Oktober 2026. Rasanya waktu begitu cepat berjalan, sebentar lagi nanti kita akan memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Bersama-sama kita merenungkan akan kebaikan Tuhan sehingga Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan setiap Saudara dan saya.

Pada siang hari ini ada satu tema yang saya ambil dari 2 Raja-Raja 20. Bereskan Rumahmu!

Sudah beres belum rumah Saudara? Sebelum Saudara ke gereja sudah beres belum? Di dapur segala macam sudah beres semuanya? Sudah rapi semuanya? Meja makan sudah beres belum?

Itu membereskan rumah secara jasmani. Tapi yang saya maksudkan hari ini adalah kita mesti membereskan rumah kita secara rohani. Rumah jasmani itu juga penting, tapi yang nomor satu adalah bagaimana kita mesti membereskan rumah rohani kita.

2 Raja-Raja 20:1,

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.”

Hizkia—the Lord is my strength, Tuhan adalah kekuatanku. Tapi satu waktu apa yang terjadi? Dia ternyata sakit. Lalu datanglah vonis daripada Tuhan melalui Nabi Yesaya:

“Set your house in order.”

Bereskan rumahmu dengan baik-baik, karena kamu tidak akan hidup lagi. Kamu akan mati.

Ini pesan buat kita, Bapak dan Ibu. Firman Tuhan berkata:

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi. (Ibrani 9:27)

Hari-hari ini, dalam beberapa bulan terakhir, saya mendengar dan melihat sendiri bagaimana teman-teman, orang-orang yang kita kenal, bahkan ada orang tua dari pelayan-pelayan jemaat kita yang masih muda, umur 40-an, belum di atas 50 tahun, tiba-tiba saja dipanggil pulang oleh Tuhan. Begitu mendadak rasanya.

Minggu lalu saya bersama dengan Ibu Fanny melayani ibadah kedukaan di Kota Sukabumi. Suami daripada bendahara gereja kita yang ada di sana tiba-tiba meninggal. Pagi harinya dia masih memberikan briefing kepada semua stafnya. Lalu sekitar jam 10 pagi, hanya dalam waktu satu-dua jam setelah memberikan briefing, tiba-tiba saja dia dipanggil pulang oleh Tuhan.

Mengagetkan semuanya. Keluarganya kaget, kita juga semuanya kaget. Ini menjadi pertanyaan buat kita. Tuhan tanya kepada kita: Apakah kita siap kalau satu waktu dalam waktu yang dekat ini Tuhan panggil kita?

Saya mau menggambarkan perjalanan seorang manusia seperti ada di dalam satu gerbong kereta api. Satu gerbong itu diisi penuh dengan orang-orang: keluarga inti kita, keluarga besar kita, teman-teman kita, handai tolan kita dalam pekerjaan, dalam usaha, teman-teman sepelayanan, pokoknya orang-orang yang kita kenal.

Dalam perjalanan, kereta api itu berhenti. Lalu ada yang naik. Bisa saja ada pertambahan jiwa, mungkin ada yang punya menantu, ada yang punya anak, bertambah jiwa.

Tapi dalam perjalanan berikutnya tiba-tiba ada yang turun. Sudah enggak ada lagi. Kita enggak pernah tahu kapan kita akan turun.

Tapi yang Tuhan minta kepada kita: Set your house in order. Bereskan rumahmu!

Orang kaya dan Lazarus

Ada satu cerita yang dibagikan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Lukas 16:19-23,}}

Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati lalu dikubur, dan sementara ia menderita sengsara di alam maut, ia memandang ke atas. Dari jauh dilihatnya Abraham dan Lazarus ada di pangkuannya.
Lalu ia berseru, “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.”

Kalau Saudara baca ayat berikutnya sampai dengan ayat 31, ini satu cerita yang Yesus bagikan sendiri dan sangat bagus untuk menjadi perenungan buat kita pribadi lepas pribadi.

Kita baca ada orang kaya yang pakaiannya berwarna ungu. Warna ungu berbicara mengenai kemegahan, mengenai kekayaan. Kerjanya setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Sementara di dekatnya ada seorang pengemis namanya Lazarus.

Ternyata dua-duanya meninggal. Lazarus dibawa ke pangkuan Abraham. Orang kaya tadi masuk dalam penderitaan.

Saudara percaya ada surga dan ada neraka? Kita mesti masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jangan sampai kita masuk ke tempat yang salah.

Abraham berkata, “Kalau mereka tidak mendengarkan Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan diyakinkan sekalipun ada seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Ini pelajaran luar biasa. Tuhan bilang kepada kita: kita tidak punya kesempatan lagi kalau kita sudah dipanggil pulang oleh Tuhan.

Bagian yang Saudara dan saya mesti lakukan adalah sepanjang kita masih diberi hidup. Hidup dalam kebenaran akan Firman Tuhan.

Kita hari ini bangun pagi, berarti Saudara dan saya masih diberikan kesempatan oleh Tuhan. Masih diberikan kesempatan dan kepercayaan oleh Tuhan. Setiap pagi saya berdoa, “Tuhan, terima kasih saya diberikan kehidupan, saya diberikan kesehatan, saya diberikan kesempatan, saya diberikan kepercayaan. Saya boleh bersyukur. Saya mau melakukan yang terbaik dan sungguh-sungguh di dalam Tuhan.”

Jadi setiap kesempatan itu begitu berharga. Kita enggak pernah tahu. Karena itu, sepanjang kita masih diberikan kesempatan hidup, pergunakan waktu Saudara untuk kemuliaan Tuhan, untuk menjadi berkat.

Kita juga masih punya kesempatan untuk menginjili keluarga kita, keluarga inti kita, teman-teman kita. Kalau kita sudah dipanggil pulang oleh Tuhan, kita enggak bisa lagi datang kepada mereka. Jadi selama masih diberikan kesempatan hidup, pergunakan waktu kita sebaik-baiknya.

Beres dengan Tuhan

Yang pertama, kita mesti beres dengan Tuhan. Firman Tuhan berkata:

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. (Galatia 3:26)

Saudara bangga jadi orang Kristen? Saudara bersyukur jadi orang Kristen? Saudara bersyukur Saudara sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus? Amin!

Kita mesti bersyukur. Ini satu kehormatan, satu privilege. Begitu Saudara menjadi orang percaya, Saudara adalah anak-anak Tuhan. Kita ini anak. Kita punya Tuhan, kita panggil Bapa.

Ada doa yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu Doa Bapa Kami:

Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Ini menjadi doa kita.

Ada orang-orang yang enggak bisa memanggil Tuhan itu Bapa karena dia punya trauma dengan bapak jasmaninya. Entah ada sesuatu yang menyakiti hatinya sehingga dia sulit memanggil Tuhan itu Bapa. Tapi kita boleh bersyukur kita punya Bapa yang sungguh sangat baik, yang senantiasa menolong, memberikan kita kekuatan dan damai sejahtera.

Karena itu, bereskan dengan Tuhan!

Kalau Saudara punya ganjalan, ada sesuatu dalam diri Saudara, dalam hati Saudara, mungkin juga kecewa sama Tuhan karena doa belum dijawab, mungkin kecewa karena pengharapan Saudara belum dijawab oleh Tuhan—bereskan sama Tuhan.

Kita enggak tahu kapan Dia datang menjemput kita. Karena itu kita mesti bikin beres setiap saat, minta ampun sama Dia.

Beres dengan keluarga

Yang kedua, beres dengan siapa? Beres dengan keluarga.

Mazmur 133:1,

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Coba cek bagaimana hubungan kita dalam keluarga. Cek satu dengan yang lain!

Siapa yang mau diberkati? Semua mau diberkati? Amin. Kalau ditanya berkat, cepat sekali jawabannya. Tapi kita cek dulu bagaimana hubungan kita dalam keluarga. Bagaimana hubungan suami istri? Bagaimana hubungan papa, mama, dan anak-anak?

Kalau dari keluarga saja hubungan suami istri enggak baik, hubungan papa, mama, anak-anak enggak kondusif, ayo bikin beres! Kalau Saudara mau diberkati, keluarga harus hidup rukun, ke situlah Tuhan memerintahkan berkat. Luar biasa.

Jadi berkat enggak usah diminta. Tuhan sendiri yang memerintahkan berkat kepada keluarga kita pada waktu keluarga kita rukun bersama-sama di dalam Tuhan. Amin!

Beres dengan sesama

Bagian terakhir, bereskan dengan siapa? Bereskan dengan sesama.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kolose 3:13-14)

Siapa yang sudah diampuni oleh Tuhan? Kita sudah diampuni. Amin!

Tuhan minta kepada kita, karena kita sudah lebih dahulu diampuni, kita juga harus saling mengampuni satu dengan yang lain supaya perjalanan kita betul-betul menjadi perjalanan yang diberkati Tuhan.

Firman Tuhan juga berkata:

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)

Jadi semua aspek dalam perjalanan hidup kita—baik pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, usaha, apa pun yang Saudara lakukan—dimulai dari hati yang benar di hadapan Tuhan.

Tuhan berkati kita semuanya. Amin.

Video