He is the King (Pdt Rubin Ong)
Pdt Rubin Ong | |
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 27 September 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Yesus bukan hanya Juru Selamat yang menolong kebutuhan kita, tetapi Raja yang berhak memerintah seluruh hidup, sehingga pengenalan kita terhadap siapa Dia akan menentukan cara kita berpikir, hidup, melayani, dan menggunakan segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita. Sebagai ekklesia, orang percaya dipanggil untuk terlebih dahulu memerintah diri sendiri, hidup dalam pewahyuan dan tuntunan Roh Kudus, menjaga kesatuan, serta membawa nilai Kerajaan Allah ke berbagai bidang kehidupan tanpa diperbudak uang, ego, jabatan, kenyamanan, atau ukuran sukses dunia. Menjadi murid berarti tetap mengikuti Yesus bukan hanya ketika keinginan kita dipenuhi, tetapi karena kita mengakui bahwa He is the King—Raja yang menyelamatkan dan berdaulat atas seluruh kehidupan.
Shalom semua. Apa kabar? Luar biasa!
Terakhir saya datang tahun lalu. Jadi ini anugerah Tuhan buat saya. Saya datang dengan istri saya, dan kami sudah ada di Bogor sejak kemarin. Izinkan saya hari ini berbagi buat Bapak, Ibu semua tanpa rasa bahwa saya paling tahu atau paling pintar. Sama sekali ngga. Jangan berpikir ini mau menggurui. Saya hanya ingin berbagi Firman.
Pertanyaan saya sekarang: Saudara menganggap Yesus itu sebetulnya Raja seperti apa? Itu menentukan sudut pandang kita dan menentukan cara hidup kita. Kalau orang menganggap Yesus hanya sebagai Juru Selamat—walaupun memang Dia Juru Selamat—nanti fokusnya hanya, “Yang penting saya selamat. Yang penting saya masuk surga. Yang penting kesehatan saya selamat, aset saya selamat.”
Jangan hanya melihat Yesus dari sisi Dia Juru Selamat. Memang Dia Juru Selamat, tetapi Dia juga adalah Raja.
Di Efesus 1:13 dikatakan:
- Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Kata “Injil keselamatan” memang ada di sini. Tetapi berulang kali kita juga membaca mengenai Injil Kerajaan Allah, sebab Dia adalah Raja. He is the King.
Kalau Saudara melihat awal pelayanan Yesus, misalnya di Matius 4:17:
- Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
Lalu di Markus 1:15:
- “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Jadi yang diberitakan adalah Kerajaan Allah, karena memang Dia Raja.
Kalau kita sudah masuk pada pemahaman bahwa Dia Raja, cara hidup kita akan berbeda. Komitmen kita berbeda. Dia Raja, kok. He is the King.
Ekklesia dimulai dari memerintah diri sendiri
Sekarang kita masuk ke Matius 16. Ini peristiwa yang sangat penting. Di bagian ini Yesus berbicara mengenai jemaat-Nya, mengenai ekklesia.
Kita ini ekklesia. Kita ini orang-orang yang dipanggil keluar untuk hidup di bawah pemerintahan Allah. Tetapi memerintah itu dimulai dari mana? Salah satunya dimulai dari memerintah diri sendiri.
Kalau saya ngga bisa memerintah diri sendiri, bagaimana saya bisa memimpin keluarga atau memengaruhi yang lain? Diri sendiri saja berantakan, karakter berantakan, pengelolaan uang ngga benar, suka bohong, suka menipu, hubungan juga ngga dijaga—bagaimana mau memimpin yang lain?
Makanya saya mulai dari mengelola diri sendiri.
Saya keras terhadap diri saya sendiri, Bapak, Ibu. Walaupun saya berusaha lembut kepada orang lain, kepada diri saya sendiri saya keras. Soal waktu saya ngga mau sembarangan. Soal uang saya kelola dengan baik. Soal hubungan saya ngga mau gampang berkhianat.
Saya juga ngga mau sembarangan batal pelayanan. Ngga mau sembarangan minta fasilitas pelayanan. Kadang ditawari, “Pak Rubin, mau business class?” Saya bilang, “Ngga.”
Kalau mulai muncul roh artis di dalam diri saya, maaf bahasanya, saya “bantai” itu dari diri saya sendiri. Kalau ngga hati-hati, panggung bisa menghasilkan selebriti-selebriti rohani. Saya ngga mau jadi selebriti. Saya orang biasa saja.
Jadi semuanya dimulai dari mengelola diri. Saya sudah melayani hampir 40 tahun. Saya pernah merintis jemaat tujuh kali, pernah menggembalakan sekitar sepuluh tahun di Yogyakarta bersama istri saya. Dalam perintisan, pernah ada masa tempat ibadah dilempari batu. Saya juga pernah masuk ke suatu daerah setelah konflik antarsuku, mengalami keadaan-keadaan yang berat.
Tetapi buat saya, yang paling sulit bukan aniaya. Yang paling sulit justru kenyamanan.
Pembunuh iman nomor satu sering kali bukan aniaya, tetapi kenyamanan. Lihat saja ketika semuanya nyaman, orang mulai tidak mencari Tuhan. Ketergantungannya mulai berpindah kepada uang, jabatan, dan fasilitas.
Makanya bagi saya, revival itu bukan sekadar kebaktian besar. Revival berarti hidup kembali. Kalau kebaktiannya besar tetapi setelah itu perselingkuhan tetap jalan dan bisnis tetap bohong, itu belum revival. Itu baru kebaktian besar.
Adik istri saya seorang misionaris. Dia baru pulang dari Afrika dan bertemu orang-orang percaya dari berbagai negara yang mengalami penganiayaan. Ada yang mengalami penderitaan yang sangat berat, bahkan kehilangan anggota keluarga.
Tetapi banyak dari mereka tetap bersukacita. Kadang kita melihat mereka lalu berkata, “Kasihan mereka.” Justru mereka bisa melihat kita dan berkata, “Kasihan kalian.”
Mengapa? Karena mereka dianiaya tetapi tidak mundur dari iman, sementara ada orang yang mundur dari iman hanya gara-gara uang atau jabatan. Firman ditukar demi kepentingan. Jadi kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya persoalan kita apa?
“Siapakah Aku ini?”
Mari kembali ke Matius 16:13.
- Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”
Kaisarea Filipi pada waktu itu merupakan daerah yang kuat dengan berbagai praktik penyembahan berhala. Justru di tempat seperti itulah Yesus berbicara mengenai siapa diri-Nya dan mengenai ekklesia-Nya.
Istilah Anak Manusia juga berhubungan dengan gambaran Mesias di Daniel 7. Jadi ketika kita berbicara tentang Yesus, jangan hanya berkata bahwa Dia “yang diurapi”. Banyak orang dalam Alkitab diurapi. Tetapi Yesus adalah Raja yang diurapi.
Jangan hilangkan aspek Rajanya. Tuhan memang menyelamatkan, tetapi Dia adalah Raja yang menyelamatkan. He is the King!
Masalahnya, manusia sering tidak suka kalau Yesus menjadi Raja, karena manusia ingin dirinya sendiri yang menjadi raja. Atau uangnya yang menjadi raja.
Karena itu orang masuk gedung gereja belum tentu berarti hidupnya sudah berada di bawah Kerajaan Allah. Dia bisa hadir di gedung gereja, menyanyi dan beribadah, tetapi yang menjadi rajanya masih uang, ego, jabatan, atau kepentingannya sendiri.
Kalau masuk Kerajaan Allah, Yesus harus menjadi Raja.
Kerajaan Allah dan cara berpikir kita
Yesus bertanya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”
Jawaban murid-murid pada waktu itu macam-macam.
- Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (Matius 16:14)
Kalau zaman sekarang mungkin seperti jawaban hasil pencarian umum—kata orang begini, kata orang begitu.
Tetapi kemudian Yesus bertanya secara pribadi: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15)
Saya mau bertanya juga kepada Saudara: Menurut Saudara, Yesus itu siapa?
Karena jawabannya memengaruhi cara hidup kita. Kalau Yesus hanya dianggap sebagai Juru Selamat, fokus kita bisa terus kepada manusia: “Dia selamatkan kesehatan saya, aset saya, perjalanan saya.”
Tetapi Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16)
Mesias berbicara tentang Raja yang diurapi. Dia Raja. Kerajaan-Nya berbeda dengan kerajaan-kerajaan di dunia. Karena itu Yesus berkata kepada Petrus:
- “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17)
Ini pewahyuan. Ini bukan hanya pengetahuan manusia. Petrus menerima pengertian yang datang dari Bapa. Makanya penting hidup dituntun Roh Kudus. Kalau ngga, orang bisa mempunyai pengetahuan tinggi tetapi karakternya berantakan. Gelarnya tinggi, tetapi sombong, angkuh, atau pembohong.
Sebaliknya, kita bisa bertemu orang sederhana tetapi cara hidupnya penuh hikmat karena takut akan Tuhan. Pengetahuan penting, tetapi kita juga membutuhkan pewahyuan dan kehidupan yang dituntun Roh Kudus.
Saya juga mau dorong anak-anak muda. Ke depan, di zaman AI seperti sekarang, kalau ngga kreatif akan berat. Banyak pekerjaan mulai berubah karena teknologi dan otomatisasi.
Tetapi ngga usah takut selama Roh Kudus menyertai kita. Kita akan cakap melakukan apa yang Tuhan percayakan.
Kreativitas datang dari Sang Kreator.
Allah kita adalah Pencipta. Jadi kalau kita dekat dengan Sang Kreator, kita percaya Dia sanggup memberikan hikmat dan kreativitas untuk menghadapi perubahan zaman.
Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Tuhan.
Gereja berdiri di atas pewahyuan tentang Kristus
Kemudian Yesus berkata:
- “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)
Gereja berdiri di atas pengakuan dan pewahyuan tentang siapa Yesus.
Karena itu jangan membangun pelayanan hanya untuk uang, kekuasaan, posisi, atau kompetisi. Kalau sampai pelayanan menjadi rebutan, tarik-tarikan jemaat, atau kompetisi yang ngga sehat, kita harus bertanya lagi: sebenarnya kita sedang mencari apa?
Saya pelayanan karena Tuhan panggil. Kalau ada orang mau ambil pelayanan saya, ambil saja. Buat apa saya stres? Kita seharusnya saling memberkati.
Kalau gereja tidak bersatu, bagaimana kita mau melihat lawatan Tuhan? Makanya musuh senang memecah-belah gereja. Sebab kalau gereja bersatu, kekuatannya besar.
Tetapi untuk bersatu, kita perlu merendahkan diri. Ego harus dihantam. Menghantam setan mungkin terasa gampang, tetapi menghantam ego sendiri itu ngga gampang.
Yesus berkata bahwa alam maut tidak akan menguasai jemaat-Nya. Dalam gambaran “gerbang”, saya melihat ada titik-titik keputusan dan pengaruh yang penting di tengah masyarakat.
Karena itu gereja jangan hanya berada di dalam gedung. Gereja harus hadir menjaga berbagai “gerbang” kehidupan: ekonomi, politik, hukum, budaya, media, pendidikan, keluarga, dan bidang-bidang lain.
Jaga kota kita supaya jangan hancur karena korupsi, narkoba, pornografi, perselingkuhan, dan berbagai hal yang menghancurkan kehidupan manusia.
Kita kadang banyak menyanyi di dalam gedung gereja, tetapi pertanyaannya: pengaruh kita di luar bagaimana?
Kita harus strategis.
Kita adalah ekklesia.
- Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Matius 16:21)
Ini konsep Mesias yang berbeda dari pemikiran Petrus.
Petrus mungkin berpikir bahwa Raja harus terlihat keren, megah, menang secara politik, seperti kerajaan dunia. Tetapi Yesus berbicara tentang penderitaan, salib, kematian, dan kebangkitan.
Mesias datang bukan pertama-tama untuk mengambil alih Kekaisaran Romawi. Ada musuh yang lebih berbahaya yang harus dibereskan: yang ada di dalam manusia.
Siapa yang berkuasa di dalam kita? Tuhan atau uang? Kerendahan hati atau kesombongan? Kasih atau ego?
Petrus tidak suka konsep kerajaan seperti itu.
- Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:22)
Tetapi Yesus menjawab:
- “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23)
Yesus tidak membuang Petrus. Yang dikoreksi adalah cara berpikirnya.
Padahal beberapa ayat sebelumnya Petrus baru menerima pewahyuan yang luar biasa. Tetapi dalam pasal yang sama, cara berpikirnya bisa kembali salah.
Ini peringatan bagi kita.
Kita bisa menerima pewahyuan, tetapi tetap harus menjaga cara berpikir kita supaya terus selaras dengan Tuhan.
Saya tidak berkata bahwa Saudara ngga boleh punya uang, fasilitas, jabatan, rumah besar, pendidikan tinggi, atau gelar. Silakan.
Pertanyaannya adalah: Tujuannya untuk apa? Hati kita ditaruh di mana? Bukan masalah memiliki sesuatu. Yang berbahaya adalah ketika sesuatu itu memiliki kita.
Orang dunia mengukur kesuksesan dari uang yang banyak, mobil yang keren, rumah besar, jabatan tinggi, barang mahal. Boleh punya semuanya itu, tetapi jangan taruh hati di situ. Dia tetap Raja.
Penutup
Yang pertama, saya mau tekankan dalam penutup ini: Kalau Yesus hanya dijadikan Raja untuk memenuhi keinginan kita, Dia tidak mau.
Ingat Yohanes 6. Setelah Yesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan, banyak orang mencari Dia. Mereka bahkan ingin menjadikan Dia raja. Tetapi Yesus tidak membutuhkan pengakuan manusia untuk menjadi Raja. Dia memang Raja.
Masalahnya, banyak orang mencari Yesus karena mereka sudah makan sampai kenyang. Yesus menegur mereka karena mereka mencari Dia bukan karena mengerti tanda yang Dia kerjakan, tetapi karena mereka mendapat makanan.
Kemudian Yesus mengajar mengenai diri-Nya sebagai roti hidup. Pengajaran itu keras bagi banyak orang. Akhirnya:
- Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. (Yohanes 6:66)
Mengapa? Karena Yesus tidak mau hanya menjadi Raja yang memenuhi keinginan manusia. Selama kebutuhan dipenuhi, orang ikut. Begitu keinginan tidak terpenuhi, orang mundur. Kalau kekayaan ada, orang mendekat. Begitu habis, orang meninggalkan. Itu cara dunia.
Kalau orang Kristen masih hidup dengan pola yang sama, apa bedanya dengan dunia? Hanya karena menyanyikan lagu rohani bukan berarti hidup otomatis menjadi rohani.
Khotbah rohani pun tidak otomatis membuat orang menjadi rohani kalau hidupnya tidak mengikuti Firman.
Hampir 40 tahun saya melayani. Kalau orang bertanya, “Apa yang paling sulit?” Bagi saya yang paling sulit adalah: melakukan yang saya khotbahkan dan mengkhotbahkan yang saya lakukan.
Saya harus melakukan apa yang saya khotbahkan, dan saya harus berani mengkhotbahkan apa yang sungguh-sungguh saya hidupi. Itulah tantangannya.
Kemudian Yesus berkata kepada kedua belas murid: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yohanes 6:67)
Yesus tidak sedang mencari massa. Kalau kamu mau pergi, pergi. Yesus tetap Raja sekalipun semua orang pergi. Namun murid-murid menjawab:
- “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” (Yohanes 6:68)
Menjadi murid bukan perkara gampang. Kita tidak hanya mengikut Yesus ketika Dia memenuhi keinginan kita. Kita mengikuti-Nya karena Dia Raja. Karena itu kalau doa Saudara hari ini belum dijawab, jangan marah kepada Tuhan.
Dia tetap Raja yang berdaulat. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Yang setuju katakan amin!
Mari kerjakan kehendak Tuhan. Kalau kita berbicara mengenai raja, ada penghormatan. Kita tidak datang sembarangan. Kita sadar siapa yang sedang kita hadapi.
Demikian juga kepada Tuhan. Dia bukan sekadar Pribadi yang kita datangi ketika membutuhkan pertolongan. Dia bukan sekadar Pribadi yang kita cari supaya kesehatan, aset, dan urusan kita aman.
Dia memang menyelamatkan kita. Tetapi jangan lupa: Dia adalah Raja yang menyelamatkan. He is the King.
Karena itu biarlah seluruh kehidupan kita tunduk kepada pemerintahan-Nya—cara berpikir kita, uang kita, hubungan kita, pelayanan kita, ego kita, ambisi kita, dan seluruh hidup kita.
Tuhan memberkati jemaat GBI Danau Bogor Raya. Amin.