Membangun relasi intergenerasi dalam keluarga

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

"Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!"

Mazmur 128:3

Pendahuluan

Tuhan Yesus memberikan bukan sekedar pesan yang kuat, tetapi juga hati-Nya kepada Gembala Pembina untuk membangkitkan Generasi Yeremia, yaitu anak-anak muda yang dipenuhi Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan bergerak untuk memenangkan jiwa. Jika satu frekuensi dengan Gembala kita, Pak Niko, kita akan menyadari betapa kebangkitan generasi Yeremia ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan penting dalam era Pentakosta Ketiga ini.

Di dalam keseharian, kita pasti banyak berinteraksi dengan mereka (generasi Yeremia), entah dalam hubungan kekeluargaan, persahabatan, pekerjaan, bisnis, kerohanian dan lain-lain. Sehingga tentunya bukan hal yang sulit bagi kita untuk mengambil bagian dalam membangun relasi intergenerasi dengan generasi Yeremia dalam rangka membangkitkan generasi Yeremia.

Bagaimana kita dapat membangun relasi intergenarasi yang berkualitas dengan generasi Yeremia?

Isi dan sharing

  1. Bukan sekedar menjadi ayah dan ibu tapi menjadi sahabat bagi anak-anak kita
  2. Tanpa sadari, tidak sedikit yang membangun hubungan orang tua-anak secara kaku, minim ekspresi kasih sayang, minim waktu khusus untuk melaksanakan aktivitas bersama guna membangun keakraban, yang lebih parah adalah sama sekali tidak mau terlibat dalam kehidupan anak-anaknya, apa yang sedang mereka alami dalam pergaulan dan Pendidikan, siapa yang sedang dekat dengan mereka, siapa saja sahabat mereka, dan masih banyak hal lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi di kalangan orang tua (ayah-ibu), salah satunya faktor didikan dan pengalaman yang diterima dari orang tua mereka (kakek-nenek). Sekarang ini cara mendidik anak telah berkembang seiring dengan perubahan generasi anak-anak kita. Mereka bukan sekedar ingin memiliki ayah dan ibu yang mengayomi, melindungi dan mencukupkan kebutuhan jasmani mereka semata, tetapi juga yang bisa menjadi sahabat bagi mereka, di mana mereka bisa ‘curhat’ dengan nyaman tanpa rasa takut.

    Tuhan Yesus saja mau menjadi sahabat kita, mengapa kita tidak mau menjadi sahabat bagi anak-anak kita?

  3. Membangun kedalaman komunikasi bukan sekedar level permukaan.
  4. “Bagaimana sekolahmu hari ini?”, “Dapat nilai berapa ulangan hari ini?”, “Sudah makan atau belum?”

    Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut familier di telinga kita? Ya, tepat sekali! Itu mungkin adalah pertanyaan yang kita dengar dari orang tua saat kita masih anak-anak atau remaja dulu, dan kemungkinan besar masih menjadi pertanyaan yang sama yang kita sampaikan kepada anak-anak kita sekarang ini.

    Minimnya interaksi komunikasi antar orang tua dan anak menjadi salah satu penyebab anak-anak akhirnya mencari teman berkomunikasi, teman curhat yang kita tidak dapat pastikan apakah melaluinya anak-anak kita mendapatkan pengaruh positif dengan nilai-nilai firman Allah yang kita pegang atau tidak. Salah satu ‘dosa’ orang tua kepada anak-anak adalah pengabaian! Tidak sedikit kita yang karena terlalu sibuk berjuang untuk mengejar nafkah, membangun bisnis, terlalu sibuk dalam pekerjaan bahkan pelayanan membuat kita tidak memiliki waktu berbincang-bincang, berkomunikasi dengan anak kita secara mendalam, melibatkan mereka dalam diskusi baik tentang aktivitas mereka, pergaulan mereka, pendidikan mereka, tentang keluarga, tentang pekerjaan dan usaha yang kita jalankan, meminta pendapat mereka untuk apa yang kita kerjakan.

    Mari bangun komunikasi yang mendalam, bukan sekedar di permukaan saja seperti contoh di atas. Dan bangunlah komunikasi dengan suasana keakraban, kedekatan, seperti seorang sahabat.

Kesaksian

Sudahkan Anda membangun hubungan dalam keluarga, bagaimana hasilnya?

Kesimpulan dan saling mendoakan

Baik buruknya anak-anak, bergantung bagaimana para orang tua membimbingnya.