Ayo Baca Alkitab/01/27

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Minggu, 27 Januari 2019

Sekali lagi Ayub mengaku tidak bersalah.

(Ayub 30:1-31:40)

Sengsara yang dialami

"Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka,
yang umurnya lebih muda dari padaku,
yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina
untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku.

Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka?
Mereka sudah kehabisan tenaga,
mereka merana karena kekurangan dan kelaparan,
mengerumit tanah yang kering,
belukar di gurun dan padang belantara;
mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak,
dan akar pohon arar menjadi makanan mereka.

Mereka diusir dari pergaulan hidup,
dan orang berteriak-teriak terhadap mereka seperti terhadap pencuri.

Di lembah-lembah yang mengerikan mereka harus diam,
di dalam celah-celah tanah dan sela-sela gunung;
di antara semak-semak mereka meraung-raung,
mereka berkelompok di bawah jeruju;
mereka itulah orang-orang bebal yang tak dikenal,
yang didepak dari negeri.

Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran
dan ejekan mereka.

Mereka mengejikan aku, menjauhkan diri dari padaku,
mereka tidak menahan diri meludahi mukaku,
karena tali kemahku telah dilepaskan Allah dan aku direndahkan-Nya,
dan mereka tidak mengekang diri terhadap aku.

Di sebelah kananku muncul gerombolan, dikaitnya kakiku,
dan dirintisnya jalan kebinasaan terhadap aku;
mereka membongkar jalanku dan mengusahakan kejatuhanku;
tidak ada yang menghalang-halangi mereka.

Seperti melalui tembok yang terbelah lebar mereka menyerbu,
mereka datang bergelombang di tengah-tengah keruntuhan.

Kedahsyatan ditimpakan kepadaku;
kemuliaanku diterbangkan seperti oleh angin,
dan bahagiaku melayang hilang seperti awan.

Oleh sebab itu jiwaku hancur dalam diriku;
hari-hari kesengsaraan mencekam aku.

Pada waktu malam tulang-tulangku seperti digerogoti,
dan rasa nyeri yang menusuk tak kunjung berhenti.

Oleh kekerasan yang tak terlawan koyaklah pakaianku
dan menggelambir sekelilingku seperti kemeja.

Ia telah menghempaskan aku ke dalam lumpur,
dan aku sudah menyerupai debu dan abu.

Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab;
aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku.

Engkau menjadi kejam terhadap aku,
Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tangan-Mu.

Engkau mengangkat aku ke atas angin,
melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut.

Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut,
ke tempat segala yang hidup dihimpunkan.

Sesungguhnya, masakan orang tidak akan mengulurkan tangannya kepada yang rebah,
jikalau ia dalam kecelakaannya tidak ada penolongnya?

Bukankah aku menangis karena orang yang mengalami hari kesukaran?
Bukankah susah hatiku karena orang miskin?

Tetapi, ketika aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang;
ketika aku menantikan terang, maka kegelapanlah yang datang.

Batinku bergelora dan tak kunjung diam,
hari-hari kesengsaraan telah melanda diriku.

Dengan sedih, dengan tidak terhibur, aku berkeliaran;
aku berdiri di tengah-tengah jemaah sambil berteriak minta tolong.

Aku telah menjadi saudara bagi serigala,
dan kawan bagi burung unta.

Kulitku menjadi hitam dan mengelupas dari tubuhku,
tulang-tulangku mengering karena demam;
permainan kecapiku menjadi ratapan,
dan tiupan serulingku menyerupai suara orang menangis."

Sekali lagi Ayub mengaku tidak bersalah

"Aku telah menetapkan syarat bagi mataku,
masakan aku memperhatikan anak dara?

Karena bagian apakah yang ditentukan Allah dari atas,
milik pusaka apakah yang ditetapkan Yang Mahakuasa dari tempat yang tinggi?

Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang
dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan?

Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku
dan menghitung segala langkahku?

Jikalau aku bergaul dengan dusta,
atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya,
biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti,
maka Allah akan mengetahui,
bahwa aku tidak bersalah.

Jikalau langkahku menyimpang dari jalan,
dan hatiku menuruti pandangan mataku,
dan noda melekat pada tanganku,
maka biarlah apa yang kutabur, dimakan orang lain,
dan biarlah tercabut apa yang tumbuh bagiku.

Jikalau hatiku tertarik kepada perempuan,
dan aku menghadang di pintu sesamaku,
maka biarlah isteriku menggiling bagi orang lain,
dan biarlah orang-orang lain meniduri dia.

Karena hal itu adalah perbuatan mesum,
bahkan kejahatan, yang patut dihukum oleh hakim.

Sesungguhnya, itulah api yang memakan habis,
dan menghanguskan seluruh hasilku.

Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan,
ketika mereka beperkara dengan aku,
apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri;
kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?

Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga?
Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?

Jikalau aku pernah menolak keinginan orang-orang kecil,
menyebabkan mata seorang janda menjadi pudar,
atau memakan makananku seorang diri,
sedang anak yatim tidak turut memakannya
--malah sejak mudanya aku membesarkan dia seperti seorang ayah,
dan sejak kandungan ibunya aku membimbing dia--;
jikalau aku melihat orang mati karena tidak ada pakaian,
atau orang miskin yang tidak mempunyai selimut,
dan pinggangnya tidak meminta berkat bagiku,
dan tidak dipanaskannya tubuhnya dengan kulit bulu dombaku;
jikalau aku mengangkat tanganku melawan anak yatim,
karena di pintu gerbang aku melihat ada yang membantu aku,
maka biarlah tulang belikatku lepas dari bahuku,
dan lenganku dipatahkan dari persendiannya.

Karena celaka yang dari pada Allah menakutkan aku,
dan aku tidak berdaya terhadap keluhuran-Nya.

Jikalau aku menaruh kepercayaan kepada emas,
dan berkata kepada kencana: Engkaulah kepercayaanku;
jikalau aku bersukacita, karena kekayaanku besar
dan karena tanganku memperoleh harta benda yang berlimpah-limpah;
jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar,
dan bulan, yang beredar dengan indahnya,
sehingga diam-diam hatiku terpikat,
dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya,
maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim,
karena Allah yang di atas telah kuingkari.

Apakah aku bersukacita karena kecelakaan pembenciku,
dan bersorak-sorai, bila ia ditimpa malapetaka
--aku takkan membiarkan mulutku berbuat dosa, menuntut nyawanya dengan mengucapkan sumpah serapah! –

Jikalau orang-orang di kemahku mengatakan:
Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya?
--malah orang asingpun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir! –

Jikalau aku menutupi pelanggaranku seperti manusia dengan menyembunyikan kesalahanku dalam hatiku,
karena aku takuti khalayak ramai
dan penghinaan kaum keluarga mengagetkan aku,
sehingga aku berdiam diri dan tidak keluar dari pintu!

Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku!
--Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! -- Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku!

Sungguh, surat itu akan kupikul,
dan akan kupakai bagaikan mahkota.

Setiap langkahku akan kuberitahukan kepada-Nya,
selaku pemuka aku akan menghadap Dia.

Jikalau ladangku berteriak karena aku
dan alur bajaknya menangis bersama-sama,
jikalau aku memakan habis hasilnya dengan tidak membayar,
dan menyusahkan pemilik-pemiliknya,
maka biarlah bukan gandum yang tumbuh, tetapi onak,
dan bukan jelai, tetapi lalang."

Sekianlah kata-kata Ayub.