Ayo Baca Alkitab/01/23

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Rabu, 23 Januari 2019

Tuduhan Elifas dan Bildad, sanggahan dan keluhan Ayub

(Ayub 15:1-18:21)

Pendapat Elifas bahwa orang fasik akan binasa

Maka Elifas, orang Teman, menjawab:

"Apakah orang yang mempunyai hikmat menjawab dengan pengetahuan kosong,
dan mengisi pikirannya dengan angin?

Apakah ia menegur dengan percakapan yang tidak berguna,
dan dengan perkataan yang tidak berfaedah?

Lagipula engkau melenyapkan rasa takut
dan mengurangi rasa hormat kepada Allah.

Kesalahanmulah yang mengajar mulutmu,
dan bahasa orang licik yang kaupilih.

Mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau, bukan aku;
bibirmu sendiri menjadi saksi menentang engkau.

Apakah engkau dilahirkan sebagai manusia yang pertama,
atau dijadikan lebih dahulu dari pada bukit-bukit?

Apakah engkau turut mendengarkan di dalam musyawarah Allah
dan meraih hikmat bagi dirimu?

Apakah yang kauketahui, yang tidak kami ketahui?
Apakah yang kaumengerti, yang tidak terang bagi kami?

Di antara kami juga ada orang yang beruban dan yang lanjut umurnya,
yang lebih tua umurnya dari pada ayahmu.

Kurangkah artinya bagimu penghiburan Allah,
dan perkataan yang dengan lemah lembut ditujukan kepadamu?

Mengapa engkau dihanyutkan oleh perasaan hatimu
dan mengapa matamu menyala-nyala,
sehingga engkau memalingkan hatimu menentang Allah,
dan mulutmu mengeluarkan perkataan serupa itu?

Masakan manusia bersih,
masakan benar yang lahir dari perempuan?

Sesungguhnya, para suci-Nya tidak dipercayai-Nya,
seluruh langitpun tidak bersih pada pandangan-Nya;
lebih-lebih lagi orang yang keji dan bejat,
yang menghirup kecurangan seperti air.

Aku hendak menerangkan sesuatu kepadamu, dengarkanlah aku,
dan apa yang telah kulihat, hendak kuceritakan,
yakni apa yang diberitakan oleh orang yang mempunyai hikmat,
yang nenek moyang mereka tidak sembunyikan,
ketika hanya kepada mereka negeri itu diberikan,
dan tidak ada seorang asingpun masuk ke tengah-tengah mereka.

Orang fasik menggeletar sepanjang hidupnya,
demikian juga orang lalim selama tahun-tahun yang disediakan baginya.

Bunyi yang dahsyat sampai ke telinganya,
pada masa damai ia didatangi perusak.

Ia tidak percaya, bahwa ia akan kembali dari kegelapan:
ia sudah ditentukan untuk dimakan pedang.

Ia mengembara untuk mencari makan, entah ke mana.
Ia tahu, bahwa hari kegelapan siap menantikan dia.

Ia ditakutkan oleh kesesakan dan kesempitan,
yang menggagahinya laksana raja yang siap menyergap.

Karena ia telah mengedangkan tangannya melawan Allah
dan berani menantang Yang Mahakuasa;
dengan bertegang leher ia berlari-lari menghadapi Dia,
dengan perisainya yang berlapis tebal.

Mukanya telah ditutupinya dengan lemak,
dan lapisan lemak dikenakannya pada pinggangnya;
ia menetap di kota-kota yang telah hancur,
di rumah-rumah yang tidak dapat didiami orang,
yang ditentukan untuk tetap menjadi reruntuhan.

Ia takkan menjadi kaya dan hartanya tidak kekal,
serta miliknyapun tidak bertambah-tambah di bumi.

Ia tidak akan luput dari kegelapan,
tunasnya akan dilayukan oleh nyala api,
dan ia akan dilenyapkan oleh nafas mulut-Nya.

Janganlah ia percaya kepada kesia-siaan, akan tertipulah ia,
karena kesia-siaan akan menjadi ganjarannya.

Sebelum genap masanya, ajalnya akan sampai;
dan rantingnyapun tidak akan menghijau.

Ia seperti pohon anggur yang gugur buahnya
dan seperti pohon zaitun yang jatuh bunganya.

Karena kawanan orang-orang fasik tidak berhasil,
dan api memakan habis kemah-kemah orang yang makan suap.

Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan,
dan tipu daya dikandung hati mereka."

Ayub mengeluh tentang perlakuan Allah

Tetapi Ayub menjawab:

"Hal seperti itu telah acap kali kudengar.
Penghibur sialan kamu semua!

Belum habiskah omong kosong itu?
Apa yang merangsang engkau untuk menyanggah?

Akupun dapat berbicara seperti kamu,
sekiranya kamu pada tempatku;
aku akan menggubah kata-kata indah terhadap kamu,
dan menggeleng-gelengkan kepala atas kamu.

Aku akan menguatkan hatimu dengan mulut,
dan tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan.

Tetapi bila aku berbicara, penderitaanku tidak menjadi ringan,
dan bila aku berdiam diri, apakah yang hilang dari padaku?

Tetapi sekarang, Ia telah membuat aku lelah
dan mencerai-beraikan segenap rumah tanggaku,
sudah menangkap aku; inilah yang menjadi saksi;
kekurusanku telah bangkit menuduh aku.

Murka-Nya menerkam dan memusuhi aku,
Ia menggertakkan giginya terhadap aku;
lawanku memandang aku dengan mata yang berapi-api.

Mereka mengangakan mulutnya melawan aku,
menampar pipiku dengan cercaan,
dan bersama-sama mengerumuni aku.

Allah menyerahkan aku kepada orang lalim,
dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik.

Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku,
aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya,
dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya.

Aku dihujani anak panah,
ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan,
empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah.

Ia merobek-robek aku,
menyerang aku laksana seorang pejuang.

Kain kabung telah kujahit pada kulitku,
dan tandukku kumasukkan ke dalam debu;
mukaku merah karena menangis,
dan bulu mataku ditudungi kelam pekat,
sungguhpun tidak ada kelaliman pada tanganku,
dan doaku bersih.

Hai bumi, janganlah menutupi darahku,
dan janganlah kiranya teriakku mendapat tempat perhentian!

Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga,
Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi.

Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku,
namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,
supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah,
dan antara manusia dengan sesamanya.

Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang,
dan aku akan menempuh jalan,
dari mana aku tak akan kembali lagi.

Semangatku patah, umurku telah habis,
dan bagiku tersedia kuburan.

Sesungguhnya, aku menjadi ejekan;
mataku terpaksa menyaksikan tantangan mereka.

Biarlah Engkau menjadi jaminanku bagi-Mu sendiri!
Siapa lagi yang dapat membuat persetujuan bagiku?

Karena hati mereka telah Kaukatupkan bagi pengertian;
itulah sebabnya Engkau mencegah mereka untuk menang.

Barangsiapa mengadukan sahabatnya untuk mencari keuntungan,
mata anak-anaknya akan menjadi rabun.

Aku telah dijadikan sindiran di antara bangsa-bangsa,
dan aku menjadi orang yang diludahi mukanya.

Mataku menjadi kabur karena pedih hati,
segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang.

Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu,
dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik.

Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya,
dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.

Tetapi kamu sekalian, silakan datang kembali!
Seorang yang mempunyai hikmat takkan kudapati di antara kamu!

Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku,
cita-citaku.

Malam hendak dijadikan mereka siang:
terang segera muncul dari gelap, kata mereka.

Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku,
menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan,
dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku,
kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku,
maka di manakah harapanku?
Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?

Keduanya akan tenggelam ke dasar dunia orang mati,
apabila kami bersama-sama turun ke dalam debu."

Pendapat Bildad, bahwa orang fasik pasti akan binasa

Maka Bildad, orang Suah, menjawab:

"Bilakah engkau habis bicara?
Sadarilah, baru kami akan bicara.

Mengapa kami dianggap binatang?
Mengapa kami bodoh dalam pandanganmu?

Engkau yang menerkam dirimu sendiri dalam kemarahan,
demi kepentinganmukah bumi harus menjadi sunyi,
dan gunung batu bergeser dari tempatnya?

Bagaimanapun juga terang orang fasik tentu padam,
dan nyala apinya tidak tetap bersinar.

Terang di dalam kemahnya menjadi gelap,
dan pelita di atasnya padam.

Langkahnya yang kuat terhambat,
dan pertimbangannya sendiri menjatuhkan dia.

Karena kakinya sendiri menyangkutkan dia dalam jaring,
dan di atas tutup pelubang ia berjalan.

Tumitnya tertangkap oleh jebak,
dan ia tertahan oleh jerat.

Tali tersembunyi baginya dalam tanah,
perangkap terpasang baginya pada jalan yang dilaluinya.

Kedahsyatan mengejutkan dia di mana-mana,
dan mengejarnya di mana juga ia melangkah.

Bencana mengidamkan dia,
kebinasaan bersiap-siap menantikan dia jatuh.

Kulit tubuhnya dimakan penyakit,
bahkan anggota tubuhnya dimakan oleh penyakit parah.

Ia diseret dari kemahnya, tempat ia merasa aman,
dan dibawa kepada raja kedahsyatan.

Dalam kemahnya tinggal apa yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia,
di atas tempat kediamannya ditaburkan belerang.

Di bawah keringlah akar-akarnya,
dan di atas layulah rantingnya.

Ingatan kepadanya lenyap dari bumi,
namanya tidak lagi disebut di lorong-lorong.

Ia diusir dari tempat terang ke dalam kegelapan,
dan ia dienyahkan dari dunia.

Ia tidak akan mempunyai anak atau cucu cicit di antara bangsanya,
dan tak seorangpun yang tinggal hidup di tempat kediamannya.

Atas hari ajalnya orang-orang di Barat akan tercengang,
dan orang-orang di Timur akan dihinggapi ketakutan.

Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang,
begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah."