Ayo Baca Alkitab/01/24

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Kamis, 24 Januari 2019

Zofar dan Ayub berbeda pendapat mengenai hidup orang fasik

(Ayub 19:1-21:34)

Ayub yakin bahwa Allah akan memihak kepadanya

Tetapi Ayub menjawab:

"Berapa lama lagi kamu menyakitkan hatiku,
dan meremukkan aku dengan perkataan?

Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina aku,
kamu tidak malu menyiksa aku.

Jika aku sungguh tersesat,
maka aku sendiri yang menanggung kesesatanku itu.

Jika kamu sungguh hendak membesarkan diri terhadap aku,
dan membuat celaku sebagai bukti terhadap diriku,
insafilah, bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku,
dan menebarkan jala-Nya atasku.

Sesungguhnya, aku berteriak: Kelaliman!, tetapi tidak ada yang menjawab.
Aku berseru minta tolong, tetapi tidak ada keadilan.

Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya,
dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap.

Ia telah menanggalkan kemuliaanku
dan merampas mahkota di kepalaku.

Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap,
dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya.

Murka-Nya menyala terhadap aku,
dan menganggap aku sebagai lawan-Nya.

Pasukan-Nya maju serentak,
mereka merintangi jalan melawan aku,
lalu mengepung kemahku.

Saudara-saudaraku dijauhkan-Nya dari padaku,
dan kenalan-kenalanku tidak lagi mengenal aku.

Kaum kerabatku menghindar,
dan kawan-kawanku melupakan aku.

Anak semang dan budak perempuanku
menganggap aku orang yang tidak dikenal,
aku dipandang mereka orang asing.

Kalau aku memanggil budakku, ia tidak menyahut;
aku harus membujuknya dengan kata-kata manis.

Nafasku menimbulkan rasa jijik kepada isteriku,
dan bauku memualkan saudara-saudara sekandungku.

Bahkan kanak-kanakpun menghina aku,
kalau aku mau berdiri, mereka mengejek aku.

Semua teman karibku merasa muak terhadap aku;
dan mereka yang kukasihi, berbalik melawan aku.

Tulangku melekat pada kulit dan dagingku,
dan hanya gusiku yang tinggal padaku.

Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku,
karena tangan Allah telah menimpa aku.

Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah,
dan tidak menjadi kenyang makan dagingku?

Ah, kiranya perkataanku ditulis,
dicatat dalam kitab,
terpahat dengan besi pengukir dan timah
pada gunung batu untuk selama-lamanya!

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup,
dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.

Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak,
tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah,
yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku;
mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.

Hati sanubariku merana karena rindu.

Kalau kamu berkata: Kami akan menuntut dia
dan mendapatkan padanya sebab perkaranya!,
takutlah kepada pedang,
karena kegeraman mendatangkan hukuman pedang,
agar kamu tahu, bahwa ada pengadilan."

Pendapat Zofar, bahwa sesudah kemujuran sebentar, orang fasik akan binasa

Maka Zofar, orang Naama, menjawab:

"Oleh sebab itulah pikiran-pikiranku mendorong aku menjawab,
karena hatiku tidak sabar lagi.

Kudengar teguran yang menghina aku,
tetapi yang menjawab aku ialah akal budi yang tidak berpengertian.

Belumkah engkau mengetahui semuanya itu sejak dahulu kala,
sejak manusia ditempatkan di bumi,
bahwa sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja,
dan sukacita orang durhaka hanya sekejap mata?

Walaupun keangkuhannya sampai ke langit
dan kepalanya mengenai awan,
namun seperti tahinya ia akan binasa untuk selama-lamanya;
siapa yang pernah melihatnya, bertanya: Di mana dia?

Bagaikan impian ia melayang hilang, tak berbekas,
lenyap bagaikan penglihatan waktu malam.

Ia tidak lagi tampak pada mata yang melihatnya,
dan tempat kediamannya tidak melihatnya lagi.

Anak-anaknya harus mencari belas kasihan orang miskin,
dan tangannya sendiri harus mengembalikan kekayaannya.

Tulang-tulangnya boleh penuh tenaga orang muda,
tetapi tenaga itupun akan membaringkan diri bersama dia dalam debu.

Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya,
sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya,
menikmatinya serta tidak melepaskannya,
dan menahannya pada langit-langitnya,
namun berubah juga makanannya di dalam perutnya,
menjadi bisa ular tedung di dalamnya.

Harta benda ditelannya, tetapi dimuntahkannya lagi,
Allah yang mengeluarkannya dari dalam perutnya.

Bisa ular tedung akan diisapnya,
ia akan dibunuh oleh lidah ular.

Ia tidak boleh melihat batang-batang air
dan sungai-sungai yang mengalirkan madu dan dadih.

Ia harus mengembalikan apa yang diperolehnya dan tidak mengecapnya;
ia tidak menikmati kekayaan hasil dagangnya.

Karena ia telah menghancurkan orang miskin, dan meninggalkan mereka terlantar;
ia merampas rumah yang tidak dibangunnya.

Sesungguhnya, ia tidak mengenal ketenangan dalam batinnya,
dan ia tidak akan terluput dengan membawa harta bendanya.

Suatupun tidak luput dari pada lahapnya,
itulah sebabnya kemujurannya tidak kekal.

Dalam kemewahannya yang berlimpah-limpah ia penuh kuatir;
ia ditimpa kesusahan dengan sangat dahsyatnya.

Untuk mengisi perutnya, Allah melepaskan ke atasnya murka-Nya yang menyala-nyala,
dan menghujankan itu kepadanya sebagai makanannya.

Ia dapat meluputkan diri terhadap senjata besi,
namun panah tembaga menembus dia.

Anak panah itu tercabut dan keluar dari punggungnya,
mata panah yang berkilat itu keluar dari empedunya:
ia menjadi ngeri.

Kegelapan semata-mata tersedia bagi dia,
api yang tidak ditiup memakan dia dan menghabiskan apa yang tersisa dalam kemahnya.

Langit menyingkapkan kesalahannya,
dan bumi bangkit melawan dia.

Hasil usahanya yang ada di rumahnya diangkut,
semuanya habis pada hari murka-Nya.

Itulah ganjaran Allah bagi orang fasik,
milik pusaka yang dijanjikan Allah kepadanya."

Pendapat Ayub, bahwa kemujuran orang fasik kelihatannya tahan lama

Tetapi Ayub menjawab:

"Dengarkanlah baik-baik perkataanku
dan biarlah itu menjadi penghiburanmu.

Bersabarlah dengan aku, aku akan berbicara;
sehabis bicaraku bolehlah kamu mengejek.

Kepada manusiakah keluhanku tertuju?
Mengapa aku tidak boleh kesal hati?

Berpalinglah kepadaku, maka kamu akan tercengang,
dan menutup mulutmu dengan tangan!

Kalau aku memikirkannya, aku menjadi takut,
dan gemetarlah tubuhku.

Mengapa orang fasik tetap hidup,
menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat?

Keturunan mereka tetap bersama mereka,
dan anak cucu diperhatikan mereka.

Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan,
pentung Allah tidak menimpa mereka.

Lembu jantan mereka memacek dan tidak gagal,
lembu betina mereka beranak dan tidak keguguran.

Kanak-kanak mereka dibiarkan keluar seperti kambing domba,
anak-anak mereka melompat-lompat.

Mereka bernyanyi-nyanyi dengan iringan rebana dan kecapi,
dan bersukaria menurut lagu seruling.

Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran,
dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati.

Tetapi kata mereka kepada Allah: Pergilah dari kami!
Kami tidak suka mengetahui jalan-jalan-Mu.

Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepada-Nya,
dan apa manfaatnya bagi kami, kalau kami memohon kepada-Nya?

Memang, kemujuran mereka tidak terletak dalam kuasa mereka sendiri!
Rancangan orang fasik adalah jauh dari padaku.

Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan,
kebinasaan menimpa mereka,
dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!

Mereka menjadi seperti jerami di depan angin,
seperti sekam yang diterbangkan badai.

Bencana untuk dia disimpan Allah bagi anak-anaknya.
Sebaiknya, orang itu sendiri diganjar Allah, supaya sadar;
sebaiknya matanya sendiri melihat kebinasaannya,
dan ia sendiri minum dari murka Yang Mahakuasa!

Karena peduli apa ia dengan keluarganya sesudah ia mati,
bila telah habis jumlah bulannya?

Masakan kepada Allah diajarkan orang pengetahuan,
kepada Dia yang mengadili mereka yang di tempat tinggi?

Yang seorang mati dengan masih penuh tenaga,
dengan sangat tenang dan sentosa;
pinggangnya gemuk oleh lemak,
dan sumsum tulang-tulangnya masih segar.

Yang lain mati dengan sakit hati,
dengan tidak pernah merasakan kenikmatan.

Tetapi sama-sama mereka terbaring di dalam debu,
dan berenga-berenga berkeriapan di atas mereka.

Sesungguhnya, aku mengetahui pikiranmu,
dan muslihat yang kamu rancangkan terhadap aku.

Katamu: Di mana rumah penguasa?
Di mana kemah tempat kediaman orang-orang fasik?

Belum pernahkah kamu bertanya-tanya kepada orang-orang yang lewat di jalan?
Dapatkah kamu menyangkal petunjuk-petunjuk mereka,
bahwa orang jahat terlindung pada hari kebinasaan,
dan diselamatkan pada hari murka Allah?

Siapa yang akan langsung menggugat kelakuannya,
dan mengganjar perbuatannya?

Dialah yang dibawa ke kuburan,
dan jiratnya dirawat orang.

Dengan nyaman ia ditutupi oleh gumpalan-gumpalan tanah di lembah;
setiap orang mengikuti dia,
dan yang mendahului dia tidak terbilang banyaknya.

Alangkah hampanya penghiburanmu bagiku!
Semua jawabanmu hanyalah tipu daya belaka!"