Teknologi dalam perspektif teologi Pentakosta

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Renungan Khusus 2019.jpgRenungan Khusus 2019-1x1.jpg
Renungan khusus
Tanggal05 Juni 2022
PenulisTS(TS)
Sebelumnya
Selanjutnya

Definisi teknologi

Teknologi didefinisikan sebagai penemuan berbagai teknik, proses, metode dan prosedur untuk mengubah dunia natural menjadi dunia yang ramah terhadap manusia, di mana kebutuhan dan keinginan manusia dapat diwujudkan.[1] Berdasarkan definisi tersebut secara sederhana teknologi ada untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih mudah dan lebih efisien bagi manusia.

Contohnya dengan smartphone yang terhubung ke internet, seseorang dapat mengatur alarm di pagi hari, mendapatkan informasi perkiraan cuaca, mengetahui rute tercepat ke kantor, melakukan transaksi jual-beli, hingga menemukan restoran yang terdekat.

Teknologi dalam Alkitab

Alkitab menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dalam kehidupan manusia. Kitab Kejadian pertama-tama memperkenalkan Allah sebagai Pencipta dunia dan segala isinya, termasuk manusia. Uniknya manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa Allah diberikan perintah untuk menguasai dan mengelola bumi sambil berjalan dalam hubungan yang intim dengan Allah. (Kejadian 1-2)

Keindahan ini berlangsung hingga manusia memilih untuk tidak taat kepada Allah. Sebagai akibatnya manusia kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3:23)

Saat mengetahui keadaannya telanjang, manusia yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah Pencipta, mereka kemudian membuat cawat dari daun pohon ara untuk menutupi tubuhnya. Melihat kekurangan dalam teknologi yang diciptakan manusia, Allah membantu meningkatkan kualitasnya. Bahan pakaian dari daun yang mudah rusak diganti dengan kulit binatang yang lebih tahan lama. (Kejadian 3)

Kejadian 3:7 menuliskan, “mereka (manusia) … membuat cawat.” Kata "membuat" dalam ayat tersebut diterjemahkan dari bahasa Ibrani עָשׂהָ asah yang digunakan juga dalam ayat-ayat sebelumnya. “Allah membuat (עָשׂהָ asah) cakrawala (1:7), matahari, bulan dan bintang-bintang (1:16), binatang liar, ternak dan binatang melata (1:25). Kemudian pada akhirnya Allah membuat (עָשׂהָ asah) manusia (1:26). Dari sudut pandang Allah, proses membuat pakaian untuk manusia tidaklah lebih rendah dibandingkan dengan membuat semua ciptaan lainnya (1:31).[2]

Berdasarkan ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi bersumber dari Allah. Sebagai konsekuensinya maka teknologi bersifat baik. (lihat Yakobus 1:7; Kejadian 1:31)

Alkitab juga menunjukkan penggunaan teknologi dalam Perjanjian Baru. Kitab-kitab Injil menceritakan bagaimana Tuhan Yesus dan para Rasul berjalan dengan aman dari satu kota ke kota lainnya untuk melayani. Hal tersebut dimungkinkan karena kekaisaran Romawi yang menguasai wilayah Israel pada masa itu dengan teknologi membangun jalan-jalan yang bagus dan aman untuk dilalui di seluruh wilayahnya, dalam kondisi yang dikenal dengan istilah Pax Romana (Perdamaian Roma).[3] Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya tidak anti-teknologi dan memanfaatkan teknologi yang ada untuk mendukung pelayanan-Nya.

Pewahyuan membawa teknologi lebih maju

Teknologi terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain itu juga dicatat mengenai lompatan kemajuan teknologi sebagai akibat dari pewahyuan Allah. Sebagai contoh Nuh mendapatkan instruksi dari Tuhan untuk membangun bahtera yang sangat besar dengan ukuran 133 m x 22 m x 13 m untuk menyelamatkan keluarganya. (Kejadian 6:13-22)

Yusuf mendapat hikmat dari Allah untuk menafsirkan mimpi Firaun, dan teknologi untuk menyimpan gandum yang sangat banyak untuk memberi makan seluruh dunia selama 7 tahun kekeringan. (Kejadian 41:1-41)

Musa yang diberi visi untuk membangun Bait Allah dibantu oleh Bezaleel dan Aholiab yang dipenuhi Roh Allah dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan sehingga dapat membangun tempat untuk Allah Yang Mahakudus hadir dan menyatakan kemuliaan-Nya. (Keluaran 31:1-11)

Pewahyuan Roh Kudus memungkinkan manusia untuk menerima teknologi yang lebih maju. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berkenan untuk umat-Nya terus mengembangkan teknologi dan mempergunakannya untuk kebaikan umat manusia dan kepentingan Kerajaan Allah.

Penyalahgunaan teknologi

Teknologi sejatinya membuat hidup manusia menjadi lebih baik. Namun, kejatuhan manusia dalam dosa menyebabkan terjadinya penyalahgunaan teknologi seperti: obat anestesi yang dijadikan narkoba, internet dipakai untuk penyebaran konten pornografi, dan sebagainya.

Martin Heidegger, seorang filsuf yang paling berpengaruh di abad 20 menyatakan bahwa teknologi adalah the ultimate danger to our existance. Sekalipun tidak menentang teknologi, Heidegger berpendapat bahwa teknologi dapat memiliki trajectory dengan maksud yang tidak baik dalam perkembangannya.[4]

Teknologi dalam sejarah gereja

Menyadari manfaat dan potensi penyalahgunaan teknologi, pada umumnya Kekristenan tidak menentang teknologi. Gereja justru banyak memberikan sumbangsih bagi perkembangan teknologi. Sebagai contoh University of Paris di bawah pengawasan Cathedral of Notre Dame de Paris diakui sebagai pusat intelektual di Eropa pada abad pertengahan.[5]

Thomas Aquinas, salah satu tokoh dari sekolah tersebut adalah seorang filsuf yang diakui dunia sekaligus seorang ahli teologi yang memberikan kontribusi besar kepada doktrin gereja.[6]

Albertus Magnus adalah seorang ahli teologi, yang menguasai ilmu botani, astronomi, kimia, fisika, biologi, geografi, logika, psikologi, metafisika, meteorologi, mineralogi, dan zoologi.[7] Albertus menunjukkan bahwa seorang Doktor Gereja dapat unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[8]

Pandangan Pentakosta terhadap perkembangan teknologi

Sejalan dengan itu, kelompok Pentakosta juga sangat terbuka terhadap teknologi dan perkembangannya. Dalam bukunya Thinking in Tongue, James K.A. Smith memberikan gambaran mengenai Spiritualitas Pentakosta yang mendasari sikap umat Pentakosta terhadap teknologi.[9]

  1. Keterbukaan radikal kepada Allah. Kelompok Pentakosta terbuka bagi kegerakan Roh Kudus dinyatakan melalui teknologi.
  2. Roh Kudus dipercaya turut hadir dalam ciptaan Allah (alam) dan dalam ciptaan manusia (budaya - termasuk teknologi).
  3. Kelompok Pentakosta percaya bahwa tubuh dan dunia materi tidak jahat, sehingga penggunaan dan perkembangan teknologi untuk kemajuan dunia materi dianggap tidak salah selama diarahkan untuk kepentingan Kerajaan Allah dan kebaikan umat manusia.
  4. Pengetahuan dapat bersumber dari perasaan dan pengalaman yang disampaikan dalam bentuk cerita/narasi.
  5. Orientasi terhadap akhir zaman terkait dengan pekerjaan misi dan perwujudan keadilan sosial. Teknologi ditujukan untuk mendukung pekerjaan misi dan mewujudkan keadilan sosial dalam masyarakat. Teknologi penting dalam mendukung penggenapan Amanat Agung Tuhan Yesus.

Umat Pentakosta percaya bahwa teknologi berasal dari Allah, sehingga memiliki sikap yang terbuka terhadap penggunaan dan pengembangan teknologi untuk kebaikan umat manusia dan kepentingan Kerajaan Allah. Dosa mengakibatkan terjadinya berbagai penyalahgunaan teknologi yang bersifat merusak kehidupan manusia. Kelompok Pentakosta percaya bahwa tubuh dan dunia materi ikut ditebus melalui pengorbanan Kristus, sehingga dengan kuasa Roh Kudus teknologi dapat dipakai sebagai alat untuk terjadinya perjumpaan dengan Allah dan sarana untuk mendukung penyelesaian Amanat Agung Tuhan Yesus. (TS)

Referensi

  1. ^ Donald K. McKim, The Westminster Dictionary of Theological Terms, 2nd ed. (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2014).
  2. ^ Kitab Kejadian menuliskan proses penciptaan dengan dua kata Ibrani yaitu: bara (בָּרָא, to create) dan asah (עָשָׂה, to make or do). Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah penggunaan kata bara hanya ditujukan untuk subjek Allah saja. Kata asah digunakan kalimat-kalimat dengan subjek Allah juga manusia.
  3. ^ Robert H. Gundry, A Survey of The New Testament, 5th ed. (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2012).
  4. ^ Martin Heidegger, The Questions Concerning Technology and Other Essays (New York: Garland Publishing, Inc., 1977).
  5. ^ Alister E. McGrath, Christian History An Introduction (West Sussex, UK: Wiley-Blackwell, 2013).
  6. ^ Ibid.
  7. ^ Irven M. Resnick, A Companion to Albert the Great : Theology, Philosophy, and The Sciences, ed. Irven M. Resnick (Leiden: Brill, 2013).
  8. ^ Doktor Gereja (artinya pengajar gereja) adalah gelar yang diberikan oleh Gereja Katolik kepada tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi Gereja. Albertus Magnus diangkat sebagai Doktor Gereja pada 16 Desember 1931 oleh Paus Pius X.
  9. ^ James K. A. Smith, Thinking in Tongues: Pentecostal Contributions to Christian Philosophy (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010).