Diperbaharui

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Renungan Khusus 2019.jpgRenungan Khusus 2019-1x1.jpg
Renungan khusus
Tanggal22 Mei 2022
PenulisBudi MuljonoPdm Budi Muljono, MTh
Sebelumnya
Selanjutnya

Kemerosotan moral yang terjadi di dunia sudah begitu meluas di berbagai bidang dan kalangan. Dalam era post-modern dan post-truth ini kebenaran menjadi sangat bias dan standar moral sudah hampir mencapai titik terendah dalam sepanjang sejarah umat manusia. Dalam kondisi seperti ini seharusnya Gereja Tuhan menunjukkan identitasnya sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dunia, yang tidak terpengaruh oleh keadaan di sekelilingnya bahkan seharusnya bisa mempengaruhi keadaan di sekitarnya. Sebagai ‘garam’ gereja harus memberikan ‘rasa’ dan sebagai ‘terang’ gereja seharusnya mampu menerangi kegelapan yang terjadi. Tetapi sangat disayangkan, banyak Gereja Tuhan tidak berhasil menjadi garam dan terang dunia.

George Barna pernah menyatakan, “Setiap hari, gereja semakin menjadi seperti dunia yang semestinya harus diubahnya.” Survey yang dilakukan oleh Bilangan Research Center mengatakan bahwa ada 11,2% remaja yang mulai berhenti datang ke gereja karena merasakan banyaknya kepura-puraan dalam gereja.[1] Untuk itu, Gereja Tuhan harus berubah seperti yang dikehendaki Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus.

Bagaimana gereja bisa menjadi garam dan terang dunia?

French Arrington menjelaskan tentang hakikat Gereja, “Sebagai ciptaan Allah yang khusus, gereja ikut serta dalam hakikat ilahi dan sifatnya yang sudah diubah”.[2] ereja harus hidup di dalam pola hidup yang ilahi (tidak menjadi serupa dengan dunia) dan mengalami perubahan yang nyata (“paradigma yang baru”).

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Menjadi serupa (Yunani = suschēmatizō) dengan dunia artinya memiliki pola/gaya hidup yang sama dengan orang-orang yang tidak percaya yaitu pola hidup dalam dosa yang menuju kepada kebinasaan[3].

Tuhan menghendaki setiap umat-Nya mengalami perubahan dari pola hidup dalam dosa menjadi pola hidup dalam Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33), dan pada akhirnya menjadi serupa dengan Kristus. (Roma 8:29; 2 Korintus 3:18; 1 Yohanes 2:6)

Iman kepada Kristus yang membawa keselamatan dibuktikan dengan perbuatan iman yang nyata yaitu terjadinya perubahan. (Yakobus 2:17-18)

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menyeluruh (Inggris = transform, Yunani = metamorphoō) dan perubahan yang terjadi dari dalam ke luar (inside out) seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Hal ini dapat kita mengerti melalui kehidupan di alam yang Tuhan berikan sebagai contoh:

  • Perubahan pertama adalah seperti bunglon, yaitu berubah setiap saat sesuai dengan lingkungan sekitarnya untuk keselamatan diri dari pemangsa. Ini gambaran dari orang Kristen yang berubah statusnya saja, ketika di gereja perkataan dan tingkah lakunya berbeda ketika ada di tempat lain. Ini bukanlah perubahan yang dikehendaki Tuhan.
  • Perubahan kedua seperti kuda di mana perubahan yang terjadi hanya dalam ukurannya saja tetapi tidak dalam perilakunya; tetap saja harus dikendalikan dengan tali les atau kekang supaya dapat diarahkan sesuai dengan kehendak si pemiliknya. Ini gambaran dari orang Kristen yang tadinya tidak beribadah di gereja, kini menjadi rajin beribadah bahkan menjadi pengerja di gereja, tetapi tidak ada perubahan dalam karakter dan gaya hidup. Ini juga bukanlah perubahan yang dikehendaki Tuhan.
  • Perubahan ketiga adalah seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu melalui proses transformasi dalam kepompong. Ulat adalah binatang yang menjijikkan dan merugikan, namun berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan berguna dalam proses penyerbukan tanaman. Ini gambaran orang Kristen yang tadinya hidup dalam dosa yang menjijikkan dan merugikan orang lain, berubah menjadi hidup dalam kebenaran yang menjadi berkat bagi orang lain dan bahkan aktif dalam penuaian jiwa bagi Kerajaan Sorga. Inilah perubahan yang dikehendaki Tuhan.

Bagaimana gereja bisa mengalami perubahan?

Pada awalnya perubahan ini tidak terjadi karena kemauan dan usaha manusia, melainkan oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus serta pekerjaan Roh Kudus yang dialami oleh orang tersebut.

pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. (Titus 3:5)

Hanya mereka yang ada dalam Kristus yang akan mengalami perubahan secara menyeluruh seperti ini.

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Berikutnya, Gereja harus mengalami proses perubahan yang terus menerus di sepanjang kehidupannya.

Kolose 3:9b-10 berkata,

… karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.

Perubahan ilahi di awal yang mentransformasi kehidupan orang percaya akan mengakibatkan terjadinya proses perubahan yang terus menerus sampai mencapai keserupaan dengan Kristus. Roma 12:2 dalam terjemahan International Standar Version memperjelas hal ini,

Do not be conformed to this world, but continually be transformed by the renewing of your minds so that you may be able to determine what God's will is-what is proper, pleasing, and perfect.

Kata “continually be transformed” artinya secara terus menerus diubah, terjadi perubahan yang berkesinambungan sepanjang kehidupan orang percaya tersebut. Jadi perubahan besar yang dialami orang percaya sebagai akibat dari karya Kristus dan Roh Kudus, harus diikuti dengan proses perubahan yang terus-menerus terjadi setiap hari di sepanjang kehidupannya.

Jangan meremehkan perubahan yang dianggap kecil ketika ini merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk pemulihan kita. Kita harus menghargai setiap perubahan itu supaya kita semakin serupa dengan Kristus. Setialah pada proses yang Tuhan ijinkan terjadi. Berubah adalah tanggung jawab dari setiap orang percaya dan Roh Kudus memberi kemampuan kepada kita untuk melakukannya.

Bagaimana gereja bisa mengalami perubahan terus menerus?

Proses perubahan yang terus menerus ini terjadi ketika orang percaya tersebut masuk dalam keintiman dengan Tuhan di dalam kehidupannya setiap hari. Melalui Firman dan doa, maka proses perubahan ini akan terjadi. Proses perubahan melalui Firman Tuhan dijelaskan dalam 2 Timotius 3:16,

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Segala yang diilhamkan Allah adalah Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab yang akan mengajar (membuka pengertian yang memampukan orang percaya mengenal Allah dan mengerti kehendaknya), menyatakan kesalahan (membuat orang percaya menyadari dosa yang harus dibereskannya di hadapan Tuhan, bahkan dosa yang tersembunyi sekalipun), memperbaiki kelakuan (menyelaraskan kembali pola/gaya hidupnya dengan pola hidup Kerajaan Allah dan kebenarannya) dan mendidik dalam kebenaran (menjaga jalan hidup orang percaya sesuai dengan panggilan dan kehendak Tuhan).

Proses perubahan melalui doa dinyatakan dalam Matius 11:28-29,

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Perkataan Tuhan Yesus ini mengajarkan bahwa inti doa adalah datang kepada-Nya dan belajar pada kelemahlembutan dan kerendahan hati-Nya yang akan mengubah karakter kita menjadi sama dengan karakter Kristus. Doa bukanlah sekedar menyampaikan permintaan dan kebutuhan, tetapi lebih dari itu doa adalah persekutuan yang intim dengan Tuhan yang akan membawa perubahan karakter bagi orang tersebut. Manusia akan berubah menjadi seperti apa yang disembahnya. (Mazmur 115:4-8)

Bahkan dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13), Tuhan Yesus mengajar untuk meminta kehendak Bapa Sorgawi terjadi di bumi (dalam kehidupan kita) seperti di sorga. Artinya ada perubahan dari pola/gaya hidup yang bertentangan dengan kehendak Tuhan menjadi selaras dengan kehendak-Nya.

  • “Berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya” mengubah pola hidup tamak dan cinta hal-hal duniawi menjadi pola hidup sederhana dan cinta hal-hal yang rohani.
  • “Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” membawa perubahan pola hidup dalam kemarahan dan dendam menjadi pola hidup yang mengampuni dan memberkati.

Melalui Firman dan doa yang merupakan persekutuan dan keintiman pribadi dengan Tuhan Yesus bukan saja akan terjadi perubahan dalam karakter orang percaya, tetapi juga orang percaya tersebut akan menghasilkan buah seperti yang dikehendaki Tuhan.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. (Yohanes 15:5, 8)

Melalui buah yang dihasilkan orang percaya, Bapa dipermuliakan dan nama-Nya dimasyhurkan. Amin. (BM)

Referensi

  1. ^ Bilangan Research Center, 2022, https://bilanganresearch.com/gereja-sudah-tidak-menarik-bagi-kaum-muda.html, diakses 20 Maret 2022 pukul 22.39.
  2. ^ French L. Arrington, Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2015), hal. 493
  3. ^ Matthew Henry, Commentary on The Whole Bible: Complete and Unabridged (Peabody, MA: Hendrickson Publishers), p.1781