Menjadi pribadi yang setia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Logo profetik.png
Devosi
Tanggal28 Februari 2022
Sebelumnya
Selanjutnya

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? (Amsal 20:6)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa dengan segera menyebut seseorang sebagai seorang yang baik hati hanya dengan melihat satu peristiwa yang singkat dari perbuatan seseorang tanpa perlu mengenal pribadi orang tersebut. Misalnya, saat kita dalam sebuah perjalanan kemudia melihat ada sekelompok anak-anak muda sedang membagikan makan siang gratis berupa nasi bungkus kepada para anak jalanan dan pengemis, kita akan berkata: "Wah... baik sekali anak-anak muda ini." Namun, jika berbicara tetang ‘setia' atau ‘kesetiaan', kita tidak dapat dengan segera menyebut seseorang sebagai pribadi yang setia tanpa mengetahui kisah hidup yang cukup dari orang tersebut yang membawa kita pada satu kesimpulan: "dia orang yang setia!"

Kesetiaan atau ‘setia' tidak pernah terlepas dari waktu. ‘Waktu' lah yang menjadi salah satu tolok ukur utama dalam menguji kesetiaan, bersama dengan kasih, pengorbanan, komitmen, penundukkan diri dan keberanian membayar harga. Dengan Bahasa yang lebih sederhana, kesetiaan membutuhkan integritas dan konsistensi.

Dalam ayat bacaan kita di atas, Pemazmur mengatakan sangat mudah untuk menemukan orang-orang yang akan berpura-pura baik. Banyak orang akan menyebut dirinya sebagai orang yang berbelas kasih, menyombongkan kebaikan apa yang telah dia lakukan dan kebaikan apa yang dia rencanakan untuk dilakukan, Namun, hanya orang yang setia yang terus menerus melakukan kebaikan secara konsisten dan konstan dengan motivasi yang benar tanpa peduli dengan penghargaan atau pengakuan dari orang lain.

Menjadi pribadi yang setia memang tidak mudah, namun bukan berarti mustahil. Untuk menjadi setia kita perlu memiliki iman yang penuh (faithfull and full of faith), percaya dengan tidak ragu kepada siapa kita setia, sekalipun secara kasat mata situasi dan kondisi yang sedang dialami kelihatannya bertolak belakang dengan harapan atau bayangan ideal kita. Percaya penuh bahwa ujung-ujungnya adalah kemenangan, percaya bahwa semua yang dijanjikan terjadi dalam kehidupan kita.

Kita harus menempatkan kesetiaan kita yang pertama-tama kepada TUHAN. Bukankah Dia sendiri yang mengatakan:

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8).

Tuntutan TUHAN akan kesetiaan manusia adalah hal yang sangat wajar, sebagai bagian dari perjanjian kasih setia-Nya kepada kita (Chesed). TUHAN kita adalah Allah yang setia. Hal ini tidak dapat diragukan. Kesetiaan kita kepada-Nya bukan sekedar pengiringan kita kepada Dia, tetapi juga setia melakukan segala perintah-perintah-Nya!

Kesetiaan kita harus kita tempatkan juga kepada pasangan suami/isteri kita masing-masing, karena suami-isteri adalah hubungan yang sangat istimewa di ‘mata' TUHAN, lembaga pertama yang dibentuk TUHAN di Taman Eden (Kejadian 1:26-28) serta sebagai perlambang hubungan Kristus dengan jemaat (Efesus 5:29-33), itulah sebabnya Ia berfirman:

"...Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -"' (Maleakhi 2:15-16a).

Kesetiaan kita juga harus kita tempatkan kepada otoritas yang TUHAN taruh di atas kita. Baik itu orang tua, pemimpin rohani dan yang terkait struktural di atas kita. Kesetiaan pasti selalu berbuah manis. Jadilah pribadi-pribadi yang setia!

"Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, ..." (2 Samuel 26). (DL)