Lima pilar teologi Pentakosta

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal23 Mei 2021
PenulisDio Angga PradiptaPdp Dio Angga Pradipta, MTh
Voice of PentecostVoice of Pentecost 41 (Abraham Rendy Hermawan)
Sebelumnya
Selanjutnya

Shalom Saudara, mungkin dari membaca judulnya saja, kita sudah bertanya-tanya “apakah ini suatu teologi baru?” atau “apakah gereja kita mengembangkan ajaran baru?”

Jawabannya adalah tidak. Gereja kita—di bawah tuntunan Roh Kudus— melalui Gembala Sidang dan Pembina, Pak Niko, mendapat tuntunan untuk menggali kembali dasar teologi yang menjadikan Pentakosta sebuah kegerakan yang unik. Apa yang membuat Pentakosta menjadi berbeda dengan aliran dan kegerakan lainnya? Salah satu jawabannya adalah karena penekanan pengajaran dan khotbah-khotbahnya yang berasal dari lima pilar ini.

Pengajaran ini bukanlah sesuatu yang baru, tetapi sudah ada sejak awal mula kegerakan Pentakosta ke-2 yang terjadi di Azusa Street. Kebangunan rohani yang terjadi di Azusa Street dimulai oleh pelayanan William Seymour di Los Angeles, California. Di Jalan Azusa itulah, ibadah-ibadah yang diadakan mengalami manifestasi hadirat Tuhan yang kuat serta jemaat dipenuhi Roh Kudus dengan tanda berbahasa Roh dan itu terjadi besar-besaran pada tahun 1906-1909.

Sebuah potongan artikel surat kabar dari pelayanan Seymour, Apostolic Faith Movement, tercatat keberadaan 5 pilar sudah diajarkan dan dikhotbahkan:

Gereja ini… menekankan pada pengalaman rohani yang berbeda, terpisah yang dikerjakan dalam hati orang percaya: Pembenaran, Pengudusan, dan Baptisan Roh Kudus… Pengajaran ini yang berhubungan dengan pengalaman rohani, beserta dengan pengajaran Kesembuhan Ilahi, dan kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua (premillennial)… memberikan fondasi yang solid dan Alkitabiah di mana gereja harus berdiri.”[1]

5 pilar teologi Pentakosta

Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelima topik ini adalah Fivefold Gospel atau 5 Pilar Teologi Pentakosta. Kenapa diperlukan pemahaman 5 pilar ini? Seringkali insan Pentakosta dituduh tidak memiliki kerangka berpikir teologi yang jelas, dan hanya berpusat pada pengalaman roh semata. Padahal kenyataannya tidak begitu, Vondey menjelaskan bahwa cerita yang menyatukan seluruh teologi Pentakosta dalam aspek pengalaman, kepercayaan, dan liturgi ibadah adalah 5 pilar teologi ini.[2]

Apa saja 5 pilar teologi Pentakosta itu?

1. Jesus as savior – Pilar keselamatan

Bagi insan Pentakosta, keselamatan adalah momen di mana seseorang bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pengakuan Iman GBI berkata,

“Semua manusia berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah sehingga harus bertobat dan berpaling kepada Allah untuk menerima pengampunan dosa.”

Pertobatan mencakup peristiwa di mana seseorang mendengar kabar Injil tentang karya Kristus, meresponi Injil dengan iman dan pertobatan, dan mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus. Hal ini yang terjadi ketika Petrus berkhotbah dalam Kisah Para Rasul 2:16-35, orang-orang yang mendengar “sangat terharu” (ayat 37), dan memberikan respon iman yaitu bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukankah hampir sebagian besar khotbah-khotbah dari Pentakosta menekankan akan pertobatan dan kepercayaan kepada Yesus sebagai Juruselamat pribadi?

2. Jesus as sanctifier – Pilar pengudusan

Ketika seseorang diselamatkan, dia memasuki proses yang bernama pengudusan. Pengakuan Iman GBI berkata,

“Penyucian hidup adalah buah kelahiran baru karena percaya dalam darah Yesus dikerjakan oleh kuasa Firman Allah dan Roh Kudus, karena itu kesucian itu azas dan prinsip hidup umat Kristen.”

Insan Pentakosta percaya bahwa anugerah keselamatan harus diresponi dengan benar dalam takut akan Allah.

Filipi 2:12-13 berkata,

“Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Di sini terlihat tanggung jawab orang percaya untuk mengerjakan keselamatannya atau menguduskan kehidupannya dalam takut akan Allah (2 Korintus 7:1).

Orang percaya dikuduskan oleh darah Yesus (1 Yohanes 1:7; Ibrani 10:10; Wahyu 1:5) dan pada saat yang bersamaan Roh Kudus menyucikan hidup orang percaya (Roma 15:16; 1 Korintus 6:11) dengan tujuan menjadi serupa dan segambar dengan Kristus. Cara kita menjadi serupa dengan Kristus adalah dengan menanggalkan kehidupan kita yang lama (Efesus 4:22), dan mengenakan manusia baru kita (ayat 24).

3. Jesus as spirit Baptizer – Pilar baptisan Roh Kudus

Ini adalah bagian penting dari seluruh pengajaran insan Pentakosta dan menjadi pilar sentral yang mengikat keseluruhan 5 pilar yang ada. Baptisan Roh Kudus yang dimaksud adalah baptisan yang dialami setelah seseorang lahir baru. Sebuah pengalaman yang juga bisa disebut sebagai kepenuhan Roh (Kisah 2:4; 4:8; 9:17), pencurahan Roh (Kisah 10:45), menerima Roh Kudus (Kisah 10:47; 19:2). Tanda awal seseorang dibaptis oleh Roh Kudus adalah dia berkata-kata dalam bahasa roh sebagaimana yang diilhamkan oleh Roh Kudus.

Baptisan Roh Kudus dalam hidup orang percaya menghasilkan 2 hal: secara internal dan eksternal. Secara internal, kehidupan penyembahan yang lebih intim dengan Bapa, karena orang yang menyembah dalam Roh adalah mereka yang berkata-kata secara rahasia kepada Bapa (1 Korintus 14:2). Penyembahan ini membangun kekuatan rohani yang membuat pelayanan menjadi lebih efektif. Secara eksternal, baptisan Roh memberikan kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung (Kisah 1:8).

4. Jesus as healer – Pilar kesembuhan ilahi

Di dalam Pengakuan Iman GBI, kita mempercayai bahwa “kesembuhan ilahi tersedia dalam korban penebusan Yesus untuk semua orang percaya.” Bagian ini sangat penting karena kita mempercayai bahwa tanda dan mujizat masih berlaku di zaman ini. Bahkan orang yang telah dipenuhi Roh Kudus, akan melakukan pelayanan dengan tanda-tanda seperti yang Yesus katakan dalam Markus 16:18-19, “mereka akan meletakkan tangannya ke atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Dari mana kuasa untuk menyembuhkan itu datang? Dari kepenuhan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Bapa kepada setiap orang percaya (Lukas 24:49). Apa fondasi dari kesembuhan ilahi? Insan Pentakosta mempercayai bahwa kematian Kristus telah menebus segala dosa-dosa kita, termasuk menanggung segala sakit penyakit kita (Mazmur 103:3; Yesaya 53:4; Kisah 10:38).

5. Jesus as soon coming king – Pilar kedatangan Yesus yang kedua dengan segera

Pilar terakhir dipandang sebagai motivasi dan semangat untuk menyelesaikan Amanat Agung, memberitakan Injil dengan kuasa Roh Kudus, serta hidup dalam kekudusan. Kita percaya bahwa Yesus akan datang kali yang ke-2 untuk menjemput kita dengan segera. Pengakuan Iman GBI berkata,

“Tuhan Yesus Kristus akan turun dari Sorga untuk membangkitkan semua umat-Nya yang telah mati dan mengangkat semua umat-Nya yang masih hidup lalu bersama-sama bertemu dengan Dia di udara, kemudian Ia akan datang kembali dan bersama orang kudus-Nya untuk mendirikan Kerajaan Seribu Tahun di bumi ini.”

Kita percaya kedatangan Tuhan Yesus kedua untuk menjemput mempelai-Nya yang masih hidup atau biasa disebut rapture (1 Tesalonika 4:17) dan ini terjadi secara tiba-tiba dan tanpa seorangpun tahu kapan waktunya (1 Tesalonika 5:1-2). Ketidaktahuan kapan Yesus akan datang ini yang mendorong setiap jemaat untuk bisa mempersiapkan diri baik-baik dan menjaga integritas hidup setiap saat (1 Tesalonika 5:6-8).

Penutup

Lima Pilar inilah yang menjadi kerangka dari kepercayaan, pengalaman, dan juga praktek rohani yang dilakukan oleh insan Pentakosta. Semoga pengetahuan ini membawa kita semakin semangat di dalam menyelesaikan Amanat Agung dalam Api Pentakosta Ketiga. Maranatha! Tuhan Yesus memberkati. (DAP)

Referensi

  1. ^ Donald Dayton, Theological Roots of Pentecostalism, (Grand Rapids: Baker Academic, 1987), 21.
  2. ^ Wolfgang Vondey, Pentecostal Theology: Living The Full Gospel, (New York: T&T Clark, 2017), 6.

Lihat pula