Kitab Ayub dan Teologi Retributif

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Teologi Retributif adalah salah satu tiang ilmu filsafat yang bersifat universal. Paham ini dikenal di berbagai peradaban dunia dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang mengenalnya sebagai ‘karma’. Peradaban Mesir Kuno mengenal konsep ini di dalam “The Egyptian Book of the Dead” di mana hati manusia akan ditimbang oleh para dewa untuk menilai kemurnian hatinya yang akan menentukan apakah orang itu akan diizinkan untuk masuk keabadian. Peradaban Timur Jauh juga mengenal hal ini dengan konsep “keadilan langit”.

Pada dasarnya Teologi Retributif adalah prinsip bahwa perbuatan baik akan diberkati dan perbuatan jahat akan dihukum. Persamaan ini terlihat sangat sederhana, tetapi sangatlah mendasar. Teologi Retributif yang melampaui kehidupan jasmani inilah yang menjadi dasar yurisprudensi ilmu hukum. Di dalam persidangan, jika aparat penegak hukum tidak mampu mengumpulkan bukti yang kuat dan penuntut umum tidak mampu membangun kasus penuntutan dengan sempurna, maka hakim akan selalu diperhadapkan dengan dilema; menghukum orang yang tidak bersalah, atau membiarkan orang yang bersalah bebas. Dua-duanya merupakan pilihan yang tidak enak, namun menghukum orang dengan ketidakjelasan barang bukti adalah kejahatan yang lebih besar.

Dalam kasus seperti ini, hakim, biasanya akan berkata seperti ini:

“Saudara terdakwa, karena kekurangmampuan penuntut umum dan kecacatan barang bukti/saksi, maka saya sebagai hakim harus menyatakan Saudara tidak bersalah, meskipun hati nurani saya yang terdalam merasa bahwa Saudara sebenarnya bersalah.
Namun Saudara terdakwa jangan bersenang hati dahulu, karena nanti Saudara harus berdiri lagi di hadapan suatu mahkamah, dan mahkamah itu tidak pernah kekurangan bahan bukti, dan Saudara harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan Saudara di hadapan Hakim di atas semua hakim."

Ini adalah sebuah contoh sederhana Teologi Retributif dijalankan. Tanpa kepercayaan kepada hal ini, yang terjadi adalah ‘Court of Mob Justice’ (pengadilan jalanan) yang akhirnya berdampak kepada kekacauan masyarakat dan anarkisme. Iblis mengerti akan hal ini, dan di dalam kitab Ayub mencatat kisah hidup Ayub yang mengilustrasikan prinsip Teologi Retributif.

  1. Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan
  2. Kitab Ayub jelas mencatat bahwa Ayub adalah seseorang yang hidupnya tidak bercela di hadapan Tuhan. Tuhan sendiri menyatakannya: “Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8) “Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan." (Ayub 2:3) Di dalam Ayub 31, kitab Ayub mencatat beberapa aspek dari kesalehan hidupnya:
    1. Secara seksual, Ayub adalah seorang yang sungguh-sungguh menjaga moralitas pribadinya.
    2. “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?” (Ayub 31:1)
    3. Secara spiritual, Ayub tidak pernah tercobai untuk mencari berkat dan pertolongan dari ilah-ilah lain.
    4. Sebagai seorang pemimpin ia telah bertindak adil kepada semua karyawannya, dan ia tidak pernah melalaikan kesejahteraan karyawannya; bahkan keluarga mereka.
  3. Iblis tahu akan adanya Teologi Retributif Ia tidak mempertanyakan hal itu; ia mempertanyakan MOTIVASI di balik ketaatan Ayub.
    1. Iblis menuduh bahwa motivasi Ayub takut kepada Allah dan menjauhi kejahatan semata-mata karena prinsip Teologi Retributif; bahwa ada BERKAT yang sangat besar di balik ketaatan Ayub kepada Allah.
    2. Allah menganggap sangat serius tuduhan Iblis tersebut sehingga Ia mengizinkan Iblis menyerang Ayub dua kali, baik dari segi keluarga, kekayaan, dan kesehatan tubuh Ayub. Tuduhan iblis pada dasarnya: ketaatan Ayub adalah ketaatan yang dibeli karena berkat Allah (mercenary obedience).

      (Perkataan Iblis):

      “Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu." (Ayub 1:10)

      “Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." (Ayub 2:4-5)

    3. Allah justru memakai peristiwa ini untuk membawa iman Ayub naik ke dimensi yang baru. Allah sangat percaya bahwa Ayub sanggup untuk menanggung semua ujian-ujian ini. Kitab Ayub adalah pembuktian dari 1 Korintus 10:13,

      “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

  4. Teman-teman Ayub hanya tahu Teologi Retributif

    Teman-teman Ayub tidak dapat melihat proses yang sedang terjadi di belakang semua peristiwa yang dialami Ayub.

    Bagi mereka, TEOLOGI RETRIBUTIF ADALAH SEGALANYA; orang benar pasti diberkati, orang jahat pasti dihukum. Ayub kelihatannya sedang dihukum, berarti Ayub pastilah orang jahat. Ada kejahatan yang Ayub lakukan yang tidak diakuinya.

    Elifaz, Bildad, dan Zofar, menyerang Ayub bertubi-tubi, hingga Elihu muncul terakhir kalinya untuk menenangkan keadaan dengan menegur semua pihak, termasuk Ayub.

    Elihu menyatakan bahwa kita sebenarnya sedang di dalam ketidaktahuan tentang rencana Allah yang besar di balik semua kekacauan yang terjadi. Pernyataan Elihu membuka jalan untuk Tuhan muncul dan berbicara.

  5. TUHAN muncul dan berbicara

    Pada Ayub Pasal 38-42, giliran Tuhan yang berbicara menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Allah menantang Ayub untuk menjelaskan proses keseimbangan yang terjadi di alam semesta, dimulai dari jagat raya sampai kepada keseimbangan ekosistem bumi. Bagaimana semua hewan, mulai dari predator yang besar sampai kepada makhluk yang terkecil sekalipun; diberi makan dan dipelihara oleh Tuhan.

    Ayub langsung mengerti dan menangkap maksud Tuhan di balik ‘display’ kekuasaan yang sedang ditunjukkan-Nya. Jikalau Allah sanggup mengurusi alam semesta ini mulai dari ‘Jagat Ageng’ (Macrocosms: Galaxy dan bintang bintang) sampai kepada ‘Jagat Alit’ (Microcosmos: sel dan molekul), apakah Ia tidak bisa bertanggung jawab dan memelihara kehidupan kita semua? Respon Ayub akan hal ini dirangkum dalam pernyataan Ayub 42:5,

    “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau."

Ternyata, pelajaran di balik ini semua adalah: ada sesuatu yang LEBIH TINGGI dari sekedar pengertian akan TEOLOGI RETRIBUTIF, yaitu PENGENALAN AKAN PRIBADI TUHAN. Inilah yang Tuhan gunakan untuk mematahkan tuduhan Iblis bahwa ketaatan kita sebagai anak-anak-Nya hanyalah ketaatan yang dibeli (mercenary obedience); diiming-imingi berkat. Tidak! Bagi anak-anak Tuhan yang MENGENAL Pribadi Tuhan, kita taat kepada-Nya dan takut akan Dia karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan! Allah akan sanggup membanggakan kita di hadapan Si Musuh karena kita telah menunjukkan pengenalan akan Tuhan yang sungguh- sungguh.

Melewati proses itu, Teologi Retributif terjadi lagi pada Ayub. Setelah lulus dari ujian pertama, Ayub diberkati dua kali lipat di dalam semua aspek di mana ia diserang oleh Si Iblis. Namun ada sesuatu perubahan yang terjadi; iman Ayub masuk ke dimensi yang lebih tinggi. Iman Ayub tidak bisa lagi dituduhkan bahwa itu adalah iman yang bisa dibeli tetapi IMAN YANG SUNGGUH MURNI BERDASARKAN PENGENALAN AKAN TUHAN.

Di masa kini kita sedang dalam keadaan berdiam diri di bawah pengaruh serangan COVID-19, adalah waktu yang sangat tepat untuk menguji diri kita sendiri. Kita belum tahu maksud Tuhan mengizinkan serangan COVID-19 ini terjadi. Mungkin banyak dari kita telah mengalami banyak kehilangan seperti Ayub. Karena itu inilah waktu bagi kita untuk duduk merendahkan diri, mencari wajah Tuhan, sampai Ia sendiri datang untuk menolong dan membela kita. Iman kita akan naik ke Dimensi yang Baru. (AL)

Sumber