Dimensi baru dalam keluarga

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal10 Mei 2020
PenulisJaliaman SinagaPdt Jaliaman Sinaga, MDiv
Sebelumnya
Selanjutnya

"Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan, perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14)

Adalah merupakan kehendak Allah, agar setiap anak-Nya mengalami kebenaran Firman-Nya. Dunia berpendapat, hidup ini seperti roda yang berputar, bisa di bawah, tetapi satu waktu bisa juga di atas, dan harus bersiap kembali untuk turun. Namun berbeda dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan. Engkau akan naik dan bukan turun, engkau menjadi kepala bukan ekor. Allah senantiasa rindu untuk setiap anak-anak-Nya mengalami hal-hal yang lebih baik dari waktu sebelumnya. Hal inilah yang disebut dengan dimensi yang baru dalam keluarga.

Ciri keluarga yang mengalami dimensi yang baru

  1. Lebih sehati
  2. Bila suami istri sehati, maka orangtua dengan anak akan lebih mudah untuk sehati. Sehati bukan berarti seragam, semuanya sama, bukan. Sehati berasal dari kata sumphoneo (Yunani), yang diterjemahkan ke symphony. Berbagai instrumen musik yang berbeda, tetapi mereka bermain di nada dan kunci yang sama, maka keluarlah alunan nada yang indah didengar. Sehati berarti semua anggota keluarga berbeda, tetapi mereka sepakat, berkomitmen untuk menyinergikan perbedaan mereka, bukan mempertentangkannya. Janji Firman-Nya bila dua orang sepakat, apapun doa mereka, Bapa di sorga akan menjawab. (Matius 18:19)

  3. Lebih mudah mengampuni
  4. Dalam perjalanan keluarga, merupakan satu hal yang alami bila terjadi konflik, baik antara suami istri, antara orangtua dengan anak, dan antara sesama anak. Karena setiap pribadi memiliki kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain, kesukaan yang berbeda, dan gaya yang berbeda. Hal-hal inilah yang dapat menimbulkan konflik dalam keluarga. Pribadi yang dewasa kerohaniannya akan lebih mudah untuk mengampuni karena kasih menutupi banyak dosa.

    Pribadi yang dapat mengampuni bukanlah pribadi yang lemah dan kalah, justru sebaliknya. Mereka yang mudah mengampuni merupakan pribadi yang kuat dan pemenang. Walaupun ia telah dikecewakan, bahkan mungkin dirugikan secara materi dan moril, tetapi ia tetap mengampuni. (Matius 6:14-15)

    Bila kita mengampuni, hal itu tidak berarti menyetujui kesalahan orang, menganggap kesalahan itu tidak pernah terjadi, memberikan kesempatan pada orang lain untuk memanfaatkan kita. Dalam teks Ibrani dipakai kata nasa yang artinya mengangkat, memikul, memaafkan, mengampuni, membawa pergi, menyingkirkan.

    Dalam teks Yunani dipakai kata aphete (dalam bentuk aktif orang kedua, jamak) artinya merelakan, membiarkan berlalu, seperti orang yang tidak menuntut orang lain membayar hutangnya.

    Pribadi yang tidak dapat mengampuni, hidupnya dikendalikan oleh orang lain yang menyakitinya. Bila ia teringat akan pribadi itu, maka emosinya menjadi labil dan marah.

  5. Lebih rendah hati

    "Orang yang merendahkan diri, akan ditinggikan oleh Tuhan, tetapi siapa yang meninggikan diri akan direndahkan." (Lukas 14:11)

    Penyebab utama mengapa keluarga dapat hancur, adalah karena kesombongan. Bila masing-masing saling menuntut dan tidak siap mengalah karena merasa hanya dirinya yang paling benar, maka keluarga akan hancur.

  6. Lebih bahagia

    Keluarga yang lebih sehati, lebih bisa mengampuni dan lebih rendah hati, akan menjadi lebih bahagia karena ia tidak memiliki ganjalan dalam hati, memiliki banyak teman, dan tidak memiliki musuh. Sebaliknya keluarga yang tidak sehati, tidak mau mengampuni dan tidak mau merendahkan diri, merupakan keluarga yang sering mengalami pertengkaran.

Cara keluarga mengalami dimensi yang baru

Agar keluarga dapat mengalami dimensi yang baru, maka setiap anggota keluarga harus hidup dalam kebenaran Firman-Nya, ada yang menjadi bagian Tuhan, ada juga yang menjadi bagian kita. Harus ada perjuangan dan usaha yang gigih yang harus kita lakukan untuk mengalami dimensi yang baru.

Beberapa hal penting yang harus kita lakukan, yaitu:

  1. Mendengarkan perintah Tuhan
  2. Mendengarkan perintah Tuhan berarti perlu menyediakan waktu untuk duduk di kaki Tuhan. Mengadakan mezbah keluarga dan saat teduh pribadi merupakan sarana yang indah untuk mendengarkan suara Tuhan dalam keluarga.

  3. Melakukan Firman Tuhan dengan setia
  4. Setelah mendengarkan Firman Tuhan, langkah berikutnya ialah melakukan Firman Tuhan dengan setia. Masing-masing anggota keluarga menjalankan perannya. Suami menghormati istri sebagai pewaris takhta kasih karunia Allah, sebagai imam, nabi dan raja/kepala. Istri sebagai penolong, pendamping dan penghibur/penopang bagi suami dan anak. Anak menghormati orangtua.

  5. Tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri
  6. "Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, kemanapun engkau pergi." (Yosua 1:7)

    Dalam setiap keadaan tetap berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan, tidak berkompromi dengan dosa. Berani menyatakan kebenaran walaupun diperhadapkan dengan risiko yang tidak ringan.

  7. Siap meninggalkan area nyaman
  8. "Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada Allah asing menyertai dia." (Ulangan 32:10-12)

    Induk rajawali pada waktu yang tepat menggoyang bangkitkan sarangnya, sehingga anaknya tidak dapat tinggal tenang, karena terus digoyang, pada saat itulah anak burung rajawali mulai belajar terbang. Kadang kala bisa terjatuh, tetapi dengan cepat induk burung rajawali mendukungnya di atas kepaknya. Demikianlah gambaran setiap anak Tuhan yang harus siap meninggalkan area nyaman, ketika Tuhan mengizinkan berbagai masalah. Meninggalkan area nyaman justru dapat menimbulkan kreativitas-kreativitas baru dan menggunakan potensi yang telah Tuhan berikan secara maksimal. (JS)

Sumber