Memasuki Tahun Perkenanan Tuhan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Memasuki tahun 2012 Tuhan membawa kita ke dalam musim baru, yaitu musim perkenanan Tuhan. Kita telah melewati Tahun Multiplikasi dan Promosi di tahun 2011, dan Tuhan membawa ke level yang lebih unggul di tahun ini.

Karena itu kita harus mengerti apa yang Tuhan inginkan dari kita, agar wujud perkenanan Tuhan itu nyata kita alami; karena memberikan kepada-Nya apa yang diingini-Nya.

Di tahun 2012 kita percaya Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya bagi kita jauh melebihi apa yang kita alami di waktu lampau. Karena berkat-berkat itu akan jadi sarana untuk memperluas Kerajaan-Nya dan memperkenalkan nama-Nya bagi yang belum mengenal Dia. Berkat-berkat yang kita alami itu juga adalah tanda perkenanan Tuhan atas hidup kita.

Mari kita bercermin dari contoh-contoh di dalam Alkitab. Ada banyak teladan dari orang-orang yang mengalami perkenanan Tuhan. Daniel, Yusuf, Esther dan Daud adalah tokoh-tokoh yang sangat dikenali sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan. Mereka semua memiliki kesamaan di hadapan Tuhan, yaitu hati mereka disukai oleh Tuhan. Hati Tuhan bersuka mendapati hati mereka seperti yang diharapkan-Nya.

Kesamaan lainnya adalah, hati mereka teruji sebagai orang yang hidup dalam iman, ketaatan, kekudusan, dan kebenaran pada pandangan Tuhan. Hal ini juga yang harus kita kejar di musim baru ini, sehingga kita berkenan kepada Allah.

Ciri-ciri orang yang menarik perkenanan Tuhan atas hidupnya adalah:

#1 Iman

Ibrani 11:6, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Allah. Artinya jika kita hidup oleh iman, berjalan dengan iman, hal itu membuat Allah disukakan.

  • Iman berarti berjalan dengan hati percaya, bahwa apa yang Tuhan katakan itulah yang benar.
  • Iman melihat dengan mata batiniah, bukan melihat dengan mata jasmani, sehingga selalu memiliki pengharapan di dalam Tuhan.

Oleh iman kita tidak putus asa menghadapi apapun, kita tidak mengarahkan pandangan semata kepada apa yang terlihat oleh mata jasmani, melainkan melihat kepada yang tidak terlihat secara kasat mata, yaitu kepada yang Firman Tuhan nyatakan. Mata batiniah kita melihat kepada perkara surgawi. Iman membuat kita berfokus kepada apa yang dibukakan oleh Roh Kudus, mempunyai perspektif terhadap Firman Tuhan tepat sebagaimana yang Tuhan maksudkan.

Abraham di usianya yang sudah lebih dari 90 tahun dan memiliki istri (Sara) yang rahimnya sudah tertutup; mata jasmaninya tidak melihat apapun yang dapat dijadikan dasar pengharapan untuk memiliki anak kandung. Namun Abraham tetap berharap juga, karena mata batinnya melihat kepada apa yang Firman Tuhan janjikan, bahwa sebanyak bintang di langit, demikianlah kelak keturunannya. Melihat dengan mata batin kepada janji Tuhan membuat imannya makin kuat. Dan hal ini menyukakan hati Tuhan. Tuhan berkenan kepada iman. Ketika kita berjalan dalam iman, kita diperkenan Allah.

Roma 4:18-19, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.”

#2 Ketaatan

Yohanes 14:21, 23, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”

Ketika kita melakukan perintah-Nya, Tuhan katakan, Dia mengasihi kita dengan cara yang khusus. Dia akan menyatakan diri-Nya kepada kita secara khusus. Dalam kesukaan-Nya untuk menyatakan diri kepada kita, Allah ingin ada bersama dengan kita, menyatakan hadirat-Nya di dalam kita. Ini artinya kita diperlakukan secara khusus sebagai orang yang diperhatikan dan diistimewakan Tuhan. Orang yang berjalan dalam ketaatan akan firman-Nya berkenan kepada Allah.

Ketaatan ini bukan hasil upaya dari kemampuan manusiawi kita, melainkan buah dari kesetiaan kita tinggal di dalam Dia, membangun hubungan persahabatan yang mendalam dengan Tuhan.

Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Artinya, tanpa tinggal di dalam hubungan yang tekun dan disiplin membangun persekutuan dalam saat teduh dan penyembahan pribadi kepada Tuhan, kita akan lemah. Kita tidak punya kemampuan untuk hidup di dalam ketaatan. Sebaliknya ketekunan dan kesetiaan mencari wajah Tuhan dalam persekutuan pribadi dengan-Nya, membuat roh kita menerima kekuatan dari Roh Kudus. Hidup Roh Kudus yang mengalir ke dalam kita mendorong kita dan menjadi kekuatan dalam melakukan perintah-Nya. Kemampuan untuk melakukan firman-Nya adalah buah dari persekutuan yang intim dengan-Nya. Ketika kita taat melakukan perintah-Nya, Dia berkenan kepada kita.

#3 Kekudusan

Imamat 19:2, "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.”

Tuhan menginginkan kita hidup kudus. Artinya menjaga diri murni bagi Tuhan, tidak tercampuri oleh noda dunia. Karena Tuhan Bapa kita itu kudus, maka kita anak-anak-Nya seharusnya kudus, karena kita diciptakan serupa dengan gambaran-Nya.

Kelayakan untuk kita berada di dalam hadirat Allah adalah kekudusan. Dosa dan kecemaran yang tidak dibereskan membuat kita tidak akan bisa tinggal di dalam persekutuan dengan Allah, apalagi untuk membangun keintiman yang mendalam. Hati nurani yang tertuduh karena menyembunyikan dosa, dan dakwaan Iblis yang selalu mencari mangsa membuat kita tidak akan memiliki damai sejahtera untuk diam dalam hadirat-Nya. Keberanian kita untuk berdiri di hadapan tahta Allah adalah hati nurani yang murni dan hidup yang tidak tercemari noda dunia. Identitas kita di hadapan Tuhan adalah bangsa yang kudus, umat kepunyaan Tuhan. (1 Petrus 2:9)

Dalam Perjanjian Baru panggilan untuk kita hidup kudus ini diulangi lagi:

1 Petrus 1:15-16, “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Jika kita berkomitmen untuk hidup kudus, mengejar kekudusan dalam setiap aspek hidup kita, kita akan menjadi peralatan (instrumen) bagi Allah untuk tujuan yang mulia, dan dipisahkan secara khusus bagi Dia untuk perkara yang mulia. Kemuliaan-Nya dinyatakan melalui bejana-Nya yang kudus, bukan bejana yang kotor.

2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Ketika kita menjaga hidup tetap kudus, maka Allah berkenan kepada kita.

#4 Kebenaran

Mazmur 51:8, “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.”

Tuhan itu menyukai kebenaran di dalam batin. Karena Tuhan melihat hati kita, bukan melihat yang nampak di permukaan secara jasmani. Kebenaran adalah sifat yang mutlak dari Allah. Yesus katakan, “Akulah kebenaran ...” “Firman-Mu adalah kebenaran ...” Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang benar akhir zaman, yang hidup di dalam kebenaran-Nya. Kita pun dipanggil untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, mempraktekkan kasih dalam kebenaran.

Apakah yang kita peroleh ketika hidup sebagai orang benar? Doa orang benar besar kuasanya ketika dengan sungguh-sungguh didoakan. Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinganya kepada teriak mereka minta tolong. Kita diperhatikan Tuhan secara khusus. Karena itu kita harus menjaga hati nurani kita benar di hadapan Tuhan, sehingga kita berjalan dalam kebenaran firman-Nya setiap hari. Ketika kita hidup dalam kebenaran, Allah berkenan kepada kita.

Penutup

Tuhan sedang membawa kita ke dalam perkenanan-Nya, karena itu marilah kita perhatikan teladan dari orang-orang yang telah mengalami perkenanan Tuhan. Hidupilah apa yang mereka telah hidupi, kita pasti disanggupkan untuk melakukannya ketika tinggal diam di dalam Kristus seperti ranting yang tetap tinggal melekat kepada pokoknya. Dengan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, kita dimampukan menghidupi empat hal ini sehingga hidup kita berkenan kepada-Nya. Amin.

Sumber

  • [mg] (01 Januari 2012). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 05 Januari 2012.