A preparation

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi per 20 Februari 2021 03.19 oleh Leo (bicara | kontrib) (fmt)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Pada kesempatan kali ini, Tuhan menggerakkan saya untuk membagikan kisah pembuatan sebuah Shofar. Mungkin banyak saudara yang sudah pernah mendengarnya, tapi tidak ada salahnya untuk kita merenungkan kembali hal tersebut.

Rev. Curt Landry, seorang Rabi Mesianik mengisahkan cara pembuatan Shofar pada jaman dahulu sebagai berikut:

  1. Untuk mendapatkan atau membuat shofar harus ada binatang yang dikorbankan. Setelah binatang tersebut mati, maka tanduknya diambil dan dimasukkan ke dalam air panas yang mendidih bercampur garam dengan suhu 120 derajat selama tujuh hari. Proses ini bertujuan untuk mengeluarkan seluruh isi dari tanduk binatang tersebut dari unsur daging dan lemak, dan untuk membuat tanduk tersebut menjadi lembut untuk dapat dibentuk pada proses selanjutnya.
  2. Setelah tujuh hari sang rabi akan mengangkat tanduk tersebut keluar dari air mendidih, mendinginkannya satu hari. Dan Rabi kemudian akan mengangkat tanduk ke atas dengan tangan kanannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Lalu setelah selesai, tanduk akan dibawa lagi dan direndam lagi dengan air panas selama beberapa jam. Setelah selesai, kembali sang Rabi mengambil keluar tanduk tersebut dan dibawa ke hadapan jemaat. Kali ini Rabi akan memelintir tanduk tersebut untuk memperoleh bentuk lengkungan yang dingini.
  3. Proses berikutnya adalah proses puncak pembuatan shofar. Proses ini adalah proses yang penting dalam pembuatan shofar; yaitu membuat lubang, atau pemotongan ujung tanduk tersebut agar dapat ditiup oleh Rabi.
  4. Setelah ujung tanduk dipotong, maka proses pembuatan shofar selesai. Sekali lagi Rabi akan membawa tanduk ke hadapan jemaat, meminyakinya, dan untuk pertama kalinya tanduk tersebut ditiup di hadapan jemaat. Setelah itu shofar akan dibawa masuk ke dalam Bait Allah dan ditaruh di peti kaca, disimpan di sana, dan akan dikeluarkan lagi pada saat diperlukan.

Dari catatan di atas, kita pelajari, bahwa untuk mendapatkan sebuah shofar yang siap untuk ditiup – tidaklah mudah. Dibutuhkan proses “kematian” untuk mendapatkannya. Proses, di mana segala kotoran-kotoran, daging-daging dan lemak yang ada, harus dikeluarkan dari dalam shofar tersebut. Proses di mana shofar tersebut harus direndam berkali-kali di air yang panas, dan dipelintir sesuai kehendak si pembuatnya. Proses di mana apa yang paling menjadi kebanggaan sang domba – yaitu ujung tanduknya harus dipotong. Semuanya adalah proses kematian!

Saudara-saudara, kita adalah shofar-shofar di tangan Tuhan, yang dari padanya – lewat hidup kita Tuhan mau menyatakan kasih dan kuasa-Nya bagi dunia ini (bukankah kita adalah Messengers of the 3rd Pentecost?). Tapi seperti halnya shofar tersebut, Tuhan mau kita dibentuk dan diprosesnya terlebih dahulu, agar kita bisa menjadi shofar-shofar yang berkenan di tangan-Nya. Sehingga suatu hari, saat shofar tersebut dikeluarkan dari tempat “persembunyian”-nya, dan dipakai oleh sang TUAN, banyak jiwa-jiwa yang akan diselamatkan, dan nama TUHAN yang dipermuliakan. Oleh karena itu di saat pandemi COVID-19 ini, kalau kita sedang dimurnikan oleh Tuhan, biarlah kita terus menguatkan dan meneguhkan hati kita, terus percaya, terus mengasihi Dia dengan segenap hati dan kekuatan, sampai akhirnya kita keluar sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang.