Menuai melalui keteladanan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Ketika Gideon sampai ke sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga ratus orang yang bersama-sama dengan dia, meskipun masih lelah, namun mengejar juga. (Hakim-Hakim 8:4)

Pendahuluan

Pasukan Gideon adalah pasukan yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan sekian juta bangsa Israel dari penjajahan bangsa Midian. Selama 7 tahun lamanya bangsa mereka ditekan, diintimidasi, dan dibuat sangat menderita.

Pasukan Gideon tidak banyak, hanya 300 orang, tapi terbukti mampu menyebabkan kekalahan bagi musuh-musuhnya, bangsa Midian, yang jumlahnya 135.000 orang! Bahkan ketiga ratus pasukan kecil ini, tidak seorang pun yang binasa, tidak seorang pun terluka!

Pertanyaannya, bagaimana cara Gideon memimpin ke-300 pasukannya sehingga mereka bisa menjadi pasukan yang begitu luar biasa? Satu hal yang menonjol dari kepemimpinan Gideon yaitu keteladanan.

Isi dan sharing

Sebagai seorang pemimpin, Gideon tidak cuma duduk di singgasana, perintah sana-perintah sini. Alkitab mencatat bahwa Gideon ikut terjun berperang melawan musuhnya. Dia menjadi teladan di depan bagi pasukannya. Kalau kita mau menjadi pemimpin seperti Gideon, pasukan yang luar biasa, siapapun kita, apapun posisi kita, kita harus bisa menjadi teladan.

  • Dalam keluarga, suami sebagai kepala keluarga harus hidup sebagai teladan bagi istri dan anak-anak kita. Demikian juga suami dan istri sebagai orang tua, harus menjadi teladan dalam perkataan, teladan dalam tindakan, jangan cuma “omdo” (“omong doang”). Anak-anak akan melakukan apa yang kita lakukan bukan apa yang kita katakan. Kalau kita mau mengajarkan agar anak-anak hormat pada kita sebagai orang tuanya, demikian juga kita harus melakukan terlebih dahulu, menghormati orang tua kita! (Efesus 6:1-4)
  • Sebagai pimpinan, baik di perusahaan maupun di organisasi termasuk gereja, kita harus menjadi teladan. Karena keteladanan, seorang pemimpin akan mudah untuk diikuti oleh yang berada di bawah kepemimpinannya dan yang dipimpin pun harus respek, tunduk terhadap otoritas yang berada di atasnya. (Efesus 6:5, 9)
  • Dalam pergaulan, kalau kita mau orang lain respek, kita mau dihargai orang lain, kita dahulu yang harus menghargai orang lain. Orang menghargai kita bukan karena kita kaya, bukan karena kita punya jabatan tinggi, tetapi karena kita mau dan bisa menghargai orang lain. (Roma 12:10).

Kesimpulan dan saling mendoakan

Dalam bahasa Inggris ada ungkapan, “Action speaks louder than words”, atau “Keteladanan lebih menyentuh daripada kata-kata”. Yesus adalah teladan, Dia bukan cuma “omdo” tapi Dia melakukan semua yang Dia perkatakan.

Yesus nyatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6) Ikuti teladan-Nya, pada waktunya kita akan bertemu bersama-sama dengan Bapa di Surga.