Simplicity and Humility (Breakthrough Prayer 2011) (Khotbah Pdp Paulus Daniel Santo)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Simplicity and Humility (Breakthrough Prayer 2011)
Paulus Daniel Santo-20101027-3x4.jpg

Pdp Paulus Daniel Santo

Ringkasan Khotbah
KebaktianBreakthrough Prayer 2011
TanggalSabtu, 12 Maret 2011
GerejaGBI Danau Bogor Raya
TempatGraha Amal Kasih
KotaBogor
Simplicity and Humility (Breakthrough Prayer 2011)
Breakthrough Prayer (2011)
Breakthrough Prayer
PeriodeMaret 2011
Tanggal12 Maret 2011
OlehPdp Paulus Daniel Santo

Matius 18:1-4,

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Ada dua karakteristik dari anak kecil, yang harus ada pada kita, kalau kita mau dipakai Tuhan di akhir zaman ini:

  1. Karakter yang pertama dari anak kecil ialah simplicity (kesederhanaan/kepolosan). Kalau kita perhatikan anak-anak kecil, maka kita akan melihat betapa polosnya mereka, betapa jujurnya mereka, betapa mudahnya mereka memaafkan, betapa mereka begitu percaya kepada orang tua mereka.
    Ini berbicara mengenai hati yang murni/polos di hadapan Tuhan. Hati yang murni pastilah tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak punya motivasi yang tidak benar.
  2. Karakter kedua dari anak kecil ialah humility (kerendahan hati). Kita melihat juga betapa mereka adalah pribadi-pribadi yang rendah hati, ini terlihat dari betapa sangat bergantungnya mereka terhadap orangtua nya.
    Demikian juga, ciri dari orang yang merendahkan hati di hadapan Tuhan ialah selalu bergantung kepada Tuhan dalam segala perkara, tidak menggunakan kekuatannya sendiri.

Kalau kita mau dipakai Tuhan, maka kita harus memiliki sifat-sifat tersebut.

Kamis lalu, saya mengajak beberapa pengurus Komisi Pemuda dan Anak untuk berdoa di Menara Doa SICC. Saya berpikir yang akan datang paling hanya beberapa belas anak muda saja. Tapi kemudian saya terkejut karena ternyata datang dari Jonggol, Cibinong, dan Bogor, sekitar 50-an Pengurus KPA dan para pengerja di KPA. Kami di Menara Doa hanya untuk satu tujuan, yaitu mengalami perjumpaan dengan hadirat Tuhan. Dan Tuhan pun melawat kami dalam penyembahan dan doa, dan kami pun mengalami lawatan yang memulihkan dan membangkitkan kembali.

Ada begitu banyak ikatan yang mengikat generasi muda. Dan mereka hanya bisa terlepas dari pelbagai ikatan tersebut, kalau mereka mengalami jamahan kuasa hadirat Tuhan. Dan untuk mengalami hadirat Tuhan, mengalami perjumpaan dengan-Nya, kita hanya perlu menjadi simpel di hadapan-Nya, menjadi apa adanya di hadapan-Nya, dan juga merendahkan hati kita, seperti anak kecil, maka Tuhan akan melawat kita dengan kasih dan kuasa-Nya yang memulihkan dan membangkitkan.