Menjadi rumah doa bagi segala bangsa (Breakthrough Prayer 2011) (Pdp Paulus Daniel Santo)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Sejak akhir Januari, Tuhan terus taruh ayat-ayat dalam Markus 11:15-17 untuk saya renungkan. Tuhan mau pakai wadah gereja ini untuk sebuah tujuan yang mulia.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" (Markus 11:15-17)

Peristiwa Yesus masuk ke bait Allah dan mulai menyucikan bait Allah, terjadi dua kali. Pertama dimulai pada awal pelayanan Tuhan Yesus dan kedua kali, menjelang akhir pelayanan-Nya. Apa pesan Tuhan bagi gereja dan wadah pelayanan yang sudah Tuhan pakai belasan tahun ini? Tuhan mau supaya kita, destiny kita adalah menjadi rumah doa bagi segala bangsa.

Saudara, waktu kita masuk 9 Weeks of Breakthroughs mulai Oktober-Desember 2010 yang lalu, Tuhan mulai revive kita, Tuhan mulai nyalakan api doa kita lebih lagi. Tuhan akan pakai kita untuk berdoa bagi bangsa-bangsa dan Tuhan akan mengurapi kita secara khusus.

Tahun 1999, saya mulai melayani sebagai fulltimer sebagai penjaga doa. Satu malam, saya melihat peta dunia dan mulai berdoa bagi negara-negara yang ada di situ, yang nama-namanya bahkan ada yang belum pernah saya kenal. Satu kali Tuhan berkata, “Aku akan membawa kamu untuk berjumpa dengan orang-orang dari negara-negara yang kamu doakan.” Dan memang benar, satu kali dalam doa bersama, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa.

Waktu saya diingatkan, saya langsung bertobat karena saya sudah lama tidak lagi berdoa bagi bangsa-bangsa. Apalagi waktu kita lihat, di televisi, bangsa-bangsa mengalami krisis politik, saya mulai kembali berdoa. Waktu kita berdoa, maka Tuhan mulai berikan pelayanan untuk apa yang kita doakan. Satu ketika, tiba-tiba saya dihubungi teman-teman dari bangsa-bangsa, ada yang dari Kalkuta (India), lalu ada lagi dari Seattle (Amerika Serikat) hubungi saya lewat email dan kami berdoa bersama.

Saya lihat, Tuhan mau bawa kita ke lebih dalam lagi, mempelainya harus siap didandani lewat doa-doa. Injil bisa masuk ke Indonesia, karena ada orang-orang yang menjadi rumah doa bagi semua bangsa. Mereka pergi ke negara yang belum pernah mereka datangi ratusan tahun lalu. Ketika kita mau menjadi rumah doa bagi segala bangsa, tuaian jiwa-jiwa akan dilepaskan, dan janji Tuhan, berkat bangsa-bangsa akan mengalir ke rumah Tuhan, itu akan digenapi.

Amin.