Posisi dan porsi (Pdt Paulus Daniel Santo)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Di dalam Kristus, posisi orang percaya telah berubah dari terhilang menjadi anak Allah dan menerima porsi keselamatan yang menyentuh kehidupan rohani, jiwani, jasmani, serta pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pengalaman nyata atas janji Tuhan berkaitan dengan bagaimana kita memosisikan hati, menjaga diri agar tidak mendukakan Roh Kudus, serta membangun persekutuan yang dalam dengan Tuhan melalui sikap duduk, tinggal, dan melekat kepada-Nya. Seperti ranting yang hanya dapat berbuah ketika tetap terhubung kepada pokok anggur, orang percaya akan mengalami pertumbuhan dan porsi yang Tuhan sediakan ketika hatinya terjaga, hidupnya selaras dengan Firman, dan persekutuannya dengan Kristus terus diperdalam.

Shalom, God is good all the time, and all the time God is good!

Saya berdoa jemaat di tempat ini terus mengalami anugerah demi anugerah dan kasih karunia demi kasih karunia, sekalipun kita berada di tengah goncangan yang semakin meningkat.

Fokus kita tentunya bukan kepada goncangan, melainkan kepada janji Tuhan. Ketika goncangan terjadi, pada waktu yang sama Tuhan juga mencurahkan Roh-Nya dalam pencurahan yang besar menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Katakan amin.

Menutup bulan ketujuh ini, pesan yang Roh Kudus berikan untuk saya bagikan saya beri tema: Posisi dan Porsi.

Ketika kita percaya dan mengalami kelahiran baru di dalam Kristus Yesus, posisi kita berubah. Sebelumnya kita berada dalam posisi terhilang, menuju kebinasaan kekal dan keterpisahan dari Allah. Tetapi kasih karunia mendatangi kita melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Posisi kita yang terhilang diubahkan menjadi anak-anak Allah.

Kita diangkat menjadi anak-anak-Nya. Karena itu, kita tidak lagi menuju kebinasaan, tetapi memperoleh hidup yang kekal. Ada kepastian bahwa setelah kehidupan di dunia ini selesai, kita akan bersama dengan Bapa di dalam kemuliaan selama-lamanya.

Amin!

Ada satu hal yang pasti: ketika kita berada di dalam Tuhan, iman kepada Yesus memberikan kepastian bahwa posisi kita adalah bersama dengan Dia.

Bersama dengan posisi tersebut, Tuhan juga memberikan porsi yang hanya dapat diterima oleh mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Tuhan Yesus berkata:

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10)

Inilah porsi kehidupan yang Tuhan berikan: hidup yang berkelimpahan.

Keselamatan Tuhan menyentuh seluruh dimensi kehidupan kita. Ketika kita percaya, roh kita dilahirkan kembali. Seiring perjalanan kita bersama Tuhan, jiwa kita—pikiran, perasaan, dan kehendak—terus dipulihkan dan diperbarui.

Tubuh kita juga menjadi milik Tuhan dan dipakai untuk melakukan kehendak-Nya. Kita boleh berdoa serta percaya kepada pertolongan dan kesembuhan Tuhan, sambil tetap menjalani proses dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita.

Kita juga hidup di dalam dunia jasmani dan materi. Karena itu, pemeliharaan dan kecukupan juga merupakan bagian dari kasih karunia Tuhan.

Jadi porsi yang Tuhan kerjakan menyentuh kehidupan kita secara utuh: Rohani, jiwani, jasmani, dan materi.

Namun Alkitab menjelaskan bahwa untuk mengalami porsi yang sudah Tuhan janjikan, kita juga perlu melakukan bagian kita sebagai anak-anak-Nya.

Allah adalah Bapa yang baik. Dia tidak membiarkan anak-anak-Nya bertumbuh tanpa pembentukan. Firman Tuhan bahkan berkata bahwa orang yang dikasihi-Nya dididik dan dihajar-Nya.

Bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk membentuk serta mendisiplinkan kita supaya menjadi seperti yang Dia rancangkan.

Karena itu, setelah kita berada dalam posisi diselamatkan, kita perlu belajar memosisikan hidup dengan benar supaya mengalami porsi yang Tuhan sediakan.

Dunia sedang memasuki masa yang semakin tidak mudah. Garis waktu profetik dalam Alkitab terus berjalan. Semua itu tidak bisa dihindari hanya dengan kekuatan manusia. Namun kabar baiknya, kita tidak menghadapinya sendirian. Ada kasih karunia Tuhan yang menopang kita.

Haleluya!

#1 Posisi hati menentukan porsi yang kita terima

Hal pertama yang perlu kita mengerti adalah: Posisi hati kita menentukan porsi yang akan kita terima

Secara status, kita sudah dijadikan milik Tuhan dan anak-anak Allah. Kita menjadi ahli waris janji-Nya. Namun apakah janji itu sungguh kita alami dalam kehidupan sehari-hari juga berkaitan dengan bagaimana kita memosisikan hati dan hidup kita.

Mari kita mengingat kisah Saul dan Daud.

Setelah Daud mengalahkan Goliat, dia masuk ke dalam lingkungan istana, menjadi bagian dari pasukan Israel, dan kemudian menjadi menantu Saul.

Suatu kali Saul dan Daud memimpin pasukan Israel berperang melawan musuh. Tuhan memberikan kemenangan.

Ketika mereka pulang dari medan peperangan, rakyat menyambut mereka dengan sorak-sorai. Para perempuan menari dan menyanyi berbalas-balasan:

Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. (1 Samuel 18:7)

Kalau kita melihatnya sekilas, sepertinya ada sesuatu yang terbalik. Saul adalah raja. Secara posisi resmi, dialah pemimpin Israel. Namun kemenangan yang lebih besar justru dilekatkan kepada Daud, yang saat itu belum menjadi raja.

Mengapa? Ayat selanjutnya berkata:

Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. (1 Samuel 18:9)

Saul menjadi iri dan dipenuhi kecemburuan. Bahkan dia berusaha membunuh Daud dengan melemparkan tombak kepadanya.

Padahal beberapa pasal sebelumnya, kita mengetahui bahwa Saul telah berkali-kali tidak menaati perintah Tuhan. Dia berkompromi dan memilih melakukan kehendaknya sendiri. Akibatnya, Tuhan menolak kelanjutan pemerintahannya sebagai raja.

Di dalam Perjanjian Lama, Roh Tuhan yang mengurapi Saul untuk tugas kerajaan kemudian undur daripadanya. Saul lalu semakin dikuasai oleh kecemburuan, kemarahan, dan dorongan yang menghancurkan.

Di sinilah kita melihat perbedaannya. Secara jabatan, Saul masih menjadi raja. Tetapi posisi hatinya telah bergeser jauh dari Tuhan. Sebaliknya, Daud belum menjadi raja. Namun dia memiliki hati yang tertuju kepada Tuhan.

Karena Allah melihat hati, porsi penyertaan dan kemenangan yang lebih besar justru dialami oleh Daud. Dari sini kita belajar: Posisi hati menentukan porsi yang menjadi bagian kita

Hati yang terbelenggu akan menghalangi kita mengalami kepenuhan janji Tuhan.

Ada orang-orang percaya yang terus terikat oleh kegagalan masa lalu. Mereka terus memandang kegagalan tersebut sampai merasa tidak mempunyai masa depan. Padahal ketika kita jatuh, Tuhan tidak membiarkan kita terus tergeletak. Ketika kita sadar, bertobat, dan mau bangkit, kasih karunia Tuhan memberikan kesempatan yang baru.

Luka masa lalu, kemarahan, sakit hati, dan ketersinggungan juga dapat menjadi belenggu. Demikian pula dosa dan berbagai bentuk berhala yang tanpa sadar mengambil tempat Tuhan di dalam kehidupan kita.

Mari kita meminta pertolongan Roh Kudus supaya hati kita dibebaskan dan diposisikan kembali menjadi hati yang siap, murni, dan terbuka kepada Tuhan.

Firman Tuhan berkata:

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. (Amsal 28:13)
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)

Dari bagian Tuhan, janji sudah diberikan. Bagian kita adalah datang dengan jujur, mengaku, bertobat, dan merespons kasih karunia-Nya.

Semua itu pun kita lakukan bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan pertolongan Tuhan.

Jangan mendukakan Roh Kudus

Bagaimana dengan kita yang hidup di dalam Perjanjian Baru?

Ketika kita percaya, Roh Kudus diberikan kepada kita. Tuhan Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan menyertai kita. Ketika kita gagal atau jatuh, Roh Kudus tidak serta-merta meninggalkan kita. Namun ada sesuatu yang harus kita perhatikan:

Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. (Efesus 4:30)

Roh Kudus dapat didukakan. Apa yang mendukakan Roh Kudus? Ayat selanjutnya berkata:

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (Efesus 4:31)

Kepahitan, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan kejahatan mendukakan Roh Kudus.

Kita sudah berada di dalam Kristus. Bapa telah menyediakan janji-Nya. Namun dalam perjalanan untuk mengalami janji tersebut, kita perlu menjaga hati supaya tidak mendukakan Roh Kudus yang justru menolong dan memimpin kita.

Sering kali tanpa sadar kita terbawa arus. Kita ikut panas oleh berita, komentar, atau situasi yang terjadi. Kita kemudian berkata dan bertindak tanpa menjaga hati. Karena itu kita perlu melatih diri untuk berjaga-jaga.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)

Kehidupan ilahi yang terpancar dari hati yang terjaga akan menolong kita mengalami porsi yang Tuhan sediakan.

Sering kali orang berkata, “Pastor, saya marah karena dia begini. Saya sakit hati karena mereka berkata seperti itu.” Namun Tuhan tidak menyuruh kita menjaga mulut orang lain. Tuhan menyuruh kita menjaga hati kita. Kita tidak bisa mengatur komentar, tindakan, atau perkataan semua orang. Tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa menjaga respons hati kita.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan supaya posisi hatimu tidak bergeser dan tetap kondusif untuk menerima apa yang Tuhan sediakan.

#2 Posisi persekutuan menentukan porsi yang kita terima

Hal kedua adalah: Posisi persekutuan kita dengan Tuhan menentukan porsi yang menjadi bagian kita

Dalam ibadah, kita sering mengucapkan Mazmur 91. Di dalamnya terdapat janji penyertaan, perlindungan, dan keluputan. Namun kunci untuk mengalaminya terdapat pada dua ayat pertama:

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (Mazmur 91:1-2)

Garis bawahi dua kata: duduk dan bermalam. Ini berbicara tentang posisi.

Kalau saya hanya lewat rumah seseorang, membunyikan klakson, menyapa sebentar, lalu melanjutkan perjalanan, interaksinya sangat terbatas. Tetapi kalau saya turun, masuk, duduk, dan menyediakan waktu, terjadilah persekutuan yang lebih dalam.

Inilah yang kita lihat dalam kisah Marta dan Maria. Ketika Tuhan Yesus datang ke rumah mereka, Marta sibuk melayani. Maria memilih duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Marta kemudian mengeluh karena merasa melakukan semuanya sendirian. Namun Tuhan Yesus berkata:

Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. (Lukas 10:41-42)

Maria telah memilih porsi yang terbaik.

Apa yang tidak dapat diambil dari kita?

Uang dapat hilang.
Kesehatan dapat menurun.
Jabatan dapat berpindah.
Harta dapat lenyap.

Tetapi hubungan dan pengalaman kita bersama Tuhan menjadi harta yang kekal di dalam kehidupan kita.

Maria memilih duduk di kaki Tuhan. Dia memilih persekutuan.

Hal yang sama terlihat dalam kehidupan Daud. Ketika bangsa Israel merindukan tanah perjanjian, Daud memiliki kerinduan yang lebih dalam. Dia berkata bahwa Tuhanlah bagian dan warisannya. Ketika menjadi raja, Daud mencari tabut Allah karena dia merindukan kedekatan dengan Tuhan. Inilah porsi yang tidak dapat diambil dari kita: Tuhan sendiri menjadi bagian kita.

Haleluya!

Belajar duduk dan bermalam dalam hadirat Tuhan

Gereja ini mengajarkan kita untuk duduk, menikmati Tuhan, dan mengalami jamahan hadirat-Nya. Mazmur 91 bahkan tidak hanya berkata “duduk,” tetapi “bermalam.”

Artinya, dibutuhkan waktu untuk membangun hubungan dengan Allah. Penyembahan mempunyai dimensi kedalaman. Seberapa dalam pengalaman kita bersama Tuhan berkaitan dengan seberapa lapar, haus, dan sungguh-sungguh kita mencari-Nya. Semakin kita merindukan Tuhan, semakin dalam kita dibawa mengalami anugerah persekutuan bersama Bapa melalui Roh Kudus.

Karena itu, momen penyembahan merupakan momen yang sangat sakral dan berharga.

Di dalam ibadah di gereja mungkin kita menyembah selama sekitar 30 menit. Tetapi di rumah, kita bisa menyediakan waktu selama yang kita mau.

Kita dapat mengalami Tuhan dalam penyembahan pribadi maupun saat berkumpul bersama di ibadah, COOL, Menara Doa, dan persekutuan lainnya. Yang Allah rindukan adalah menjamah kita dengan urapan-Nya dan menarik hati kita semakin dekat kepada-Nya.

Ketika kita mengalami kemuliaan Tuhan, kita tidak mudah silau oleh tawaran dunia. Kemuliaan dunia tidak dapat dibandingkan dengan keindahan hadirat-Nya.

Ketika kita belajar duduk, bermalam, dan berlama-lama di hadirat Tuhan, janji-janji dalam Mazmur 91—perlindungan, penyertaan, dan keluputan—menjadi bagian yang kita alami dalam perjalanan bersama-Nya.

Allah menghendaki persekutuan. Dia menerima persembahan dan pelayanan kita. Namun lebih daripada semuanya, Dia menginginkan pribadi kita.

He really wants you.
Dia sungguh menginginkan Saudara.

Dia menikmati persekutuan ketika kita datang kepada-Nya.

Tuhan tidak menahan janji-Nya dengan hati yang enggan. Namun sering kali kitalah yang tidak memosisikan diri untuk tinggal dekat dengan-Nya. Karena itu, biarlah Firman Tuhan membawa kita semakin mengerti bahwa Dia rindu menjamah, membentuk, dan memberkati kita.

#3 Tanpa posisi yang akurat, kita tidak menerima porsi yang seharusnya

Ketiga, tanpa posisi yang akurat, kita tidak akan menerima porsi yang seharusnya.

Tuhan mungkin ingin mempercayakan sesuatu yang besar, tetapi karena posisi kita belum siap, Dia masih perlu memproses kita terlebih dahulu.

Suatu kali saya memarkir kendaraan di bawah sebuah pohon supaya tidak kepanasan. Ketika turun, saya melihat ada satu ranting yang daunnya berwarna cokelat, berbeda dari ranting-ranting lainnya. Saya mendekat dan memperhatikannya.

Ternyata ranting itu masih menempel pada pohon, tetapi sudah patah. Karena hubungannya dengan pohon tidak lagi utuh, ranting itu tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Perlahan-lahan ranting itu menjadi kering dan mati.

Pada saat itu Roh Kudus mengingatkan saya kepada perkataan Tuhan Yesus:

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5)

Perhatikan:

Posisinya adalah tinggal di dalam Kristus.
Porsinya adalah berbuah banyak.

Yang mau berbuah banyak katakan amin!

Pesannya sederhana. Tuhan mau kita melekat kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

Gereja menyediakan berbagai wadah supaya setiap jemaat dari segala usia dapat bertumbuh dan melekat kepada Tuhan. Ada ibadah hari Minggu. Tetapi kalau kita hanya terhubung satu kali dalam seminggu dan tidak membangun kehidupan rohani di hari-hari lainnya, pertumbuhan kita menjadi terbatas. Karena itu gereja menyediakan COOL, pembelajaran Alkitab, KOM, dan berbagai wadah pemuridan.

Saudara dapat belajar mengenai Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, keselamatan, Roh Kudus, kesembuhan ilahi, berkat Tuhan, akhir zaman, dan berbagai kebenaran lainnya. Semua itu merupakan nutrisi yang menolong kita bertumbuh. Seiring pertumbuhan rohani, Tuhan juga memperluas kapasitas kita untuk menerima dan mengelola kepercayaan yang lebih besar.

Karena itu kita perlu bertanya:

Bagaimana saya mengisi waktu hari ini?
Apakah kehidupan saya menghasilkan buah?
Apakah saya terus memosisikan diri untuk hidup selaras dengan kehendak Bapa?

Selalu ada tantangan dan ujian terhadap kesetiaan kita.

Misalnya, ketika ada pertandingan sepak bola pada hari Minggu, itu bisa menjadi ujian bagi orang yang menyukai sepak bola. Apakah kita tetap memilih memprioritaskan Tuhan?

Hal-hal sederhana seperti itu menguji apakah hidup kita sungguh selaras dengan posisi yang Tuhan kehendaki.

Penutup

Posisi hati kita menentukan apakah porsi yang sudah Tuhan sediakan sungguh kita alami. Karena itu kita perlu menjaga hati dari kepahitan, kecemburuan, kemarahan, dan berbagai dosa yang mendukakan Roh Kudus. Posisi persekutuan kita juga menentukan porsi yang kita terima.

Tuhan mau kita masuk lebih dalam dalam penyembahan pribadi. Bukan hanya lewat sebentar, tetapi duduk, tinggal, bahkan menyediakan waktu yang panjang untuk mencari-Nya.

Tuhan mencari hati yang sungguh-sungguh tertuju kepada-Nya. Mata-Nya menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan kepada mereka yang hatinya sungguh-sungguh berpaut kepada-Nya.

Tanpa posisi yang akurat, kita belum siap menerima porsi yang seharusnya. Karena itu, inilah waktunya kita menggeser posisi hati dan kehidupan kita. Tinggallah di dalam Kristus. Jagalah hati. Bangunlah persekutuan yang dalam. Melekatlah kepada pokok anggur yang benar.

Tuhan rindu mencurahkan porsi kasih karunia, pertumbuhan, dan berkat-Nya bagi setiap kita.

Amin!

Nyanyi:

Di sini
Di hadapan-Mu
Ada kasih-Mu

Di sini
Di hadirat-Mu
Nyaman hatiku

Hadirat-Mu, hadirat-Mu, Tuhan
Tempat kesenanganku

Menyembah-Mu, menyembah-Mu, Tuhan
Ini kesukaanku