The next wave of the Holy Spirit is coming (Pdt Fess Montezuma, SH, MA, CBC)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Gelombang berikutnya dari pekerjaan Roh Kudus akan semakin membuka pintu penginjilan dan membawa penuaian jiwa yang besar, sehingga gereja perlu tetap fokus kepada Tuhan serta menuntaskan Amanat Agung dengan kuasa Roh Kudus. Untuk terlibat di dalamnya, setiap orang percaya perlu menjalankan prinsip JULI: jangan kehilangan fokus, ubah karakter dan perilaku yang masih salah, libatkan orang lain melalui kesatuan dan komunitas, serta ingat bahwa segala sesuatu memiliki waktu dan prosesnya. Ketika gereja hidup dalam ketaatan, karakter Kristus, kerja sama, dan kesabaran menantikan waktu Tuhan, kehidupan orang percaya akan menjadi berkat dan Tuhan sendiri akan menambahkan orang-orang yang diselamatkan.

Jalan-jalan ke Pasar Minggu,
pulangnya ketemu si jantung hati.
Selamat ibadah Minggu,
kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Amin. Puji Tuhan!

Buat yang mengikuti dari rumah, pantunnya apa ya?

Kalau ikan di dalam kolam,
bunga tumbuh di tengah taman.
Kalau kasih sudah begitu mendalam,
bertemu lewat online tetap terasa nyaman.

Haleluya!

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini saya ingin menyampaikan pesan yang bernuansa profetik, yang mungkin membuat hati Saudara tergelitik, tetapi pastinya membuat hidup Saudara semakin asyik.

Kita sudah memasuki semester kedua tahun 2026. Di dalam perenungan saya pada akhir bulan Juni, saya mendapatkan satu pesan Tuhan: pada semester kedua ini akan ada gelombang berikutnya dari Roh Kudus yang melanda Indonesia dan dunia. Gelombang ini akan membuat pintu penginjilan semakin terbuka lebar dan penuaian jiwa semakin besar.

Bahkan akan terjadi pertobatan jiwa-jiwa melalui cara-cara yang tidak masuk akal bagi manusia. Itulah pekerjaan Roh Kudus di era Pentakosta Ketiga.

Karena itu, tema kita hari ini adalah: The Next Wave of the Holy Spirit Is Coming

Dengan semakin terbukanya pintu penginjilan, kuasa Roh Kudus yang menggerakkan gereja-Nya untuk menuntaskan Amanat Agung juga akan semakin nyata. Kegerakan orang-orang kudus akan semakin meningkat dan semakin dahsyat.

Tuhan mengingatkan saya kepada janji-Nya di dalam Kisah Para Rasul 1:8:

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)

Saudaraku, untuk menuntaskan Amanat Agung kita memerlukan kuasa. Tanpa kuasa Roh Kudus, kita bisa rontok di tengah jalan, bahkan sejak awal perjalanan.

Mengapa kita memerlukan kuasa Roh Kudus? Karena Amanat Agung adalah perintah Tuhan, dan kita memerlukan kuasa Roh Kudus untuk melakukan perintah-Nya.

Banyak orang Kristen mengetahui apa yang benar.

Ibadah itu benar.
Penginjilan itu benar.
Pemuridan itu benar.
Mengampuni juga benar.

Kita tahu yang benar, tetapi tidak selalu mampu melakukannya dengan taat dan setia. Itulah sebabnya Tuhan memberikan Roh Kudus sebagai Penolong dan sumber kekuatan bagi orang percaya.

Amanat Agung adalah untuk keselamatan manusia, sekaligus bagian dari ketaatan kita kepada Tuhan.

Tuhan Yesus berkata:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

Jadi, Amanat Agung bukan hanya berbicara tentang keselamatan orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan, tetapi juga tentang apakah kita yang sudah percaya mau melakukan kehendak Bapa.

Ada banyak alasan yang dapat membuat kita berhenti melakukan Amanat Agung: ketakutan, kekhawatiran, keterbatasan dana, dan berbagai alasan lainnya.

Makan kue sus, makan ketan;
di dalam Yesus ada kekuatan.

Amin!

Menjelang berakhirnya Piala Dunia sepak bola, saya digerakkan Tuhan untuk menonton kembali khotbah Gembala Pembina kita, Pdt. Niko Njotorahardjo, dalam MDPJ tahun 2011 di SICC, Sentul.

Pada waktu itu, Pak Niko berkata bahwa Tuhan bertanya kepadanya, “Kamu mau melihat penuaian jiwa besar-besaran?” Pak Niko menjawab, “Mau, Tuhan.” Kemudian Tuhan berkata, “Kalau begitu, Aku tuntun lagi: libatkan COOL.” Di dalam video itu Pak Niko berkata bahwa anak-anak muda dan COOL akan semakin diberdayakan oleh Roh Kudus.

Ketika saya menontonnya, hati saya bersukacita. Tuntunannya sudah jelas. Kalau kita ingin dipakai Tuhan sebagai alat untuk menjangkau dan menyelamatkan jiwa-jiwa, Tuhan sudah menunjukkan salah satu jalannya melalui COOL.

Pertanyaannya: Saudara mau atau tidak dipakai Tuhan?

Semua mau dipakai Tuhan untuk keselamatan jiwa-jiwa? Amin! Puji Tuhan.

Jaga api Tuhan di dalam hidupmu. Jangan sampai padam.

Ada empat hal penting yang perlu kita lakukan mulai bulan Juli ini dan sepanjang semester kedua. Keempatnya saya singkat menjadi JULI.

J — Jangan hilang fokus

Katakan bersama-sama: Jangan hilang fokus.

{{p0|Tuhan Yesus berkata:]]

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Matius 28:19)

Pesan Tuhan yang disampaikan melalui Gembala Pembina adalah menuntaskan Amanat Agung.

Menuntaskan artinya menyelesaikannya sampai akhir. Kalau hanya melakukan, seseorang mungkin berhenti di tengah jalan. Tetapi menuntaskan berarti terus melangkah sampai selesai.

Fokus itu penting. Ketika seseorang kehilangan fokus kepada Tuhan, tujuan hidupnya bisa menjadi kabur.

Ada orang yang mulai bingung dan berkata, “Hidup saya membosankan.” Padahal dia orang Kristen. Mengapa? Mungkin karena dia sudah kehilangan fokus kepada Tuhan.

Kehilangan fokus juga dapat menurunkan produktivitas. Orang mulai merasa tidak mempunyai gagasan dan kreativitas lagi, padahal Tuhan adalah sumber hikmat dan kreativitas.

Kalau kita ingin hidup penuh hikmat dan kreativitas, kita harus terus terhubung dengan Tuhan. Kita terhubung kepada Tuhan ketika kita percaya, taat, dan setia melakukan perintah-Nya.

Orang yang kehilangan fokus dapat mengalami stres yang semakin berat, bahkan burnout. Stres dalam kadar tertentu dapat mendorong kita bertindak. Namun stres yang tidak terkendali dan terus berulang dapat menjadi berbahaya.

Jangan-jangan fokus kita bukan lagi kepada Tuhan. Fokus kita sudah berpindah kepada uang, permainan, atau media sosial.

Doa sudah low.
Baca Alkitab sudah low.
Yang penting baterai telepon genggam jangan sampai low.

Hati-hati. Orang yang kehilangan fokus juga lebih mudah mengambil keputusan yang kurang bijaksana.

Karena itu, jangan hilang fokus kepada Tuhan dan jangan hilang fokus melakukan perintah Tuhan.

Dalam kaitannya dengan Amanat Agung, ada beberapa momen dalam perhelatan sepak bola dunia yang menarik perhatian saya. Saya melihat para pemain yang berdoa di lapangan, disaksikan ribuan orang di stadion dan jutaan orang melalui berbagai media. Mereka tidak malu menyatakan bahwa mereka berharap dan mengandalkan Tuhan.

Saya juga melihat bagaimana lagu-lagu yang memuat kata “Haleluya” dan nama Yesus semakin sering terdengar melalui media sosial. Lagu anak-anak sekolah minggu seperti Dengar Dia Panggil Nama Saya serta lagu tentang kasih Yesus juga dinyanyikan dan disebarkan oleh banyak orang.

Apakah semuanya hanya kebetulan? Saya percaya Roh Kudus sedang bekerja dengan cara-Nya.

The next wave of the Holy Spirit is coming.

Jesus for Everyone akan semakin digenapi. Haleluya.

Karena itu percayalah bahwa COOL sedang dipakai Tuhan dalam penuaian jiwa besar-besaran. Jangan hilang fokus untuk menuntaskan Amanat Agung.

Saya sendiri pernah kehilangan fokus. Tetapi melalui COOL—yang dahulu disebut Family Altar—saya sering diingatkan kembali oleh teman-teman untuk fokus kepada Tuhan dan perintah-Nya.

Ketika kita fokus kepada Tuhan, kita terhubung kepada sumber hikmat, damai sejahtera, dan sukacita.

Bagi Saudara yang mulai kehilangan fokus, ayo kembali.

Ada buaya mengejar tikus,
orang percaya harus belajar fokus.

Haleluya!

U — Ubah yang bisa diubahkan

Hal kedua adalah: ubah yang bisa diubahkan.

Kita memang tidak bisa mengubah semuanya.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu.
Kita tidak bisa memilih atau mengubah orang tua kita.
Kita juga tidak bisa memaksa anak atau orang lain berubah.

Tetapi ada yang bisa kita ubah, yaitu karakter dan perilaku kita sendiri, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

Salah satu tanda seseorang hidup intim dengan Tuhan dapat terlihat dari karakter dan perilakunya.

Firman Tuhan berkata:

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:31-32)

Tuhan berkata agar kita membuang sakit hati, dendam, kemarahan, kebencian, perkataan kasar, dan perilaku yang melukai orang lain. Sebaliknya, kita harus menjadi orang yang baik hati, penuh belas kasihan, dan mudah mengampuni.

Tuhan tidak mungkin menyuruh kita melakukan sesuatu tanpa memberikan pertolongan untuk melakukannya. Dia Bapa yang baik. Kalau Dia memberikan perintah, Dia juga memberikan Roh Kudus yang memampukan.

Pertanyaannya: kita mau atau tidak?

Karakter dan perilaku saya banyak dibentuk di COOL. Dari orang yang emosional, saya belajar menjadi lebih sabar dan mengendalikan diri. Dari orang yang menyimpan dendam, saya belajar menjadi orang yang lebih mudah mengampuni.

Saya banyak belajar di COOL. Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya.

Injil yang diberitakan dan pemuridan yang dilakukan oleh orang-orang yang baik hati, penuh belas kasihan, sabar, serta mudah mengampuni akan lebih mudah diterima oleh orang-orang yang belum percaya.

Saya sendiri menjadi saksinya. Latar belakang saya bukan Kristen. Dulu saya keras kepala—saking kerasnya, rambut saya sampai rontok.

Tetapi saya dapat dijamah oleh berita Injil melalui orang-orang yang baik hati, berbelas kasihan, dan sabar menghadapi saya.

Karena itu, jangan terlalu sibuk berusaha mengubah orang lain. Biarlah Tuhan terlebih dahulu mengubah diri kita dari dalam ke luar—from the inside out.

Ketika bagian dalam kita diubahkan oleh Tuhan, dari kehidupan kita akan mengalir kuasa dan kasih Roh Kudus.

Hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari seberapa banyak kehidupan orang lain menjadi lebih baik karena mereka melihat karakter dan perilaku kita.

Mau berubah karakter dan perilakunya? Amin!

Buat apa beli pepaya kalau bukan di Kampung Rambutan?
Buat apa mengaku orang percaya kalau tidak ada perbuatan?

Amin.

L — Libatkan yang lainnya

Hal ketiga: libatkan yang lainnya. Jangan berjalan sendirian.

Di dalam Lukas 5:6-7, murid-murid Yesus mendapatkan begitu banyak ikan sampai jala mereka mulai koyak:

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Ikan di sini dapat menjadi gambaran jiwa-jiwa yang dijangkau. Banyaknya ikan juga menggambarkan besarnya berkat Tuhan.

Dari peristiwa ini kita menangkap bahwa dalam penuaian jiwa yang besar, Tuhan mau kita bekerja sama satu dengan yang lain.

Tuhan mau memakai setiap gereja dan COOL untuk mengelola berkat Tuhan serta menjadi penjala manusia. Berkat Tuhan juga dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Siapa yang mau diberkati?
Siapa yang sudah diberkati?

Puji Tuhan. Tetapi ingat:

Ikan sepat, ikan tenggiri;
kalau dapat berkat, jangan dinikmati sendiri.

Murid-murid meminta bantuan dari perahu yang lain. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Meminta pertolongan adalah tanda kerendahan hati.

Di dalamnya ada kasih, kerendahan hati, dan kesediaan bekerja sama dengan anggota tubuh Kristus lainnya.

Karena itu, bagi yang belum bergabung, ayo segera ikut COOL dan nikmati kebersamaan di dalamnya.

Liburan ke Tasik beli bakul,
hidup makin asyik kalau ikut COOL.

Masih banyak tugas kita sebagai gereja Tuhan. Kita adalah anak Raja dan kehidupan kita seharusnya mencerminkan Bapa kita.

Kalau Sang Raja baik hati, anak-Nya juga harus baik hati.
Kalau Sang Raja mengampuni, anak-Nya juga harus mengampuni.
Kalau Sang Raja menyelamatkan manusia, anak-Nya juga harus memberitakan Injil.

Masih banyak tugas sebagai anak Raja yang harus kita tuntaskan bersama-sama sebelum kedatangan Tuhan Yesus.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti pertemuan yang difasilitasi Bimas Kristen. Dalam presentasi yang disampaikan, salah satu hal yang dibahas adalah pertambahan jemaat di gereja-gereja Indonesia.

Sebagian besar pertambahan jemaat masih berasal dari perpindahan antar-gereja dan pertumbuhan biologis, sedangkan bagian yang berasal dari penginjilan disebut masih sangat kecil. Ada pula survei yang menunjukkan bahwa hanya sedikit orang Kristen Indonesia yang memandang penginjilan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-harinya.

Angka-angka tersebut perlu diverifikasi kembali sebelum dipublikasikan sebagai data resmi, tetapi pesannya jelas: kita perlu semakin serius menjadikan pemberitaan Injil sebagai bagian hidup.

Makan adalah bagian hidup.
Tidur adalah bagian hidup.

Kalau pemberitaan Injil sungguh menjadi bagian hidup, kita akan terus mencari kesempatan untuk menyatakan kasih Kristus melalui perkataan dan perbuatan.

Saya juga mengikuti online seminar tentang iman di dunia kerja. Di sana dijelaskan bahwa ada pekerja Kristen yang berhasil mengintegrasikan iman dalam pekerjaannya. Mereka memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sarana mendapatkan uang, melainkan sebagai panggilan untuk melayani Tuhan.

Ada pula orang yang sebenarnya memiliki hati untuk melayani, tetapi terhambat oleh sistem atau keterbatasan wewenang. Di gereja mereka menyala, tetapi di tempat kerja api mereka redup karena tekanan lingkungan.

Ada juga pekerja yang melakukan pekerjaannya dengan benar, tetapi penggerak utamanya hanya aturan, target, atau tuntutan sosial, bukan hubungan dengan Tuhan.

Yang paling berbahaya adalah pekerja yang berkompromi dengan sistem demi posisi aman dan keuntungan. Mereka mengaku Kristen tetapi rela melanggar nilai kebenaran demi uang.

Apa yang dibutuhkan oleh banyak pekerja Kristen supaya dapat mewujudkan imannya di tempat kerja?

Mereka membutuhkan mentor, teman diskusi, dan komunitas seiman yang aman, menerima, serta berempati—bukan hanya menghakimi.

Mereka juga membutuhkan teladan nyata, sistem pendampingan, mentoring, dan coaching, supaya dapat bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan di dunia kerja.

Di sinilah gereja dan COOL harus menjawab kebutuhan tersebut. Bukan hanya meramaikan ibadah raya, tetapi turun untuk menjangkau, mendampingi, dan memperlengkapi orang.

Saya berkeyakinan bahwa dunia kerja bukan hanya diubahkan oleh orang-orang yang hebat, tetapi juga oleh orang-orang yang bersedia menolong dengan hati tulus.

Don’t use people to build ministries but use ministries to build people.

Jangan memakai orang untuk membangun pelayanan, sebab itu dapat menjadi eksploitasi dan manipulasi. Pakailah pelayanan untuk membangun manusia.

Dalam menjalankan misi keselamatan dan mengelola berkat yang besar, jangan bergerak sendirian. Libatkan yang lainnya.

Amin.

I — Ingat, semua ada waktunya

Hal terakhir adalah: ingatlah, semua ada waktunya.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. (Pengkhotbah 3:11a)

Untuk menghasilkan buah yang banyak, kita tidak perlu ngoyo atau memaksakan diri.

Jangan terlalu memaksakan diri sampai mengorbankan kesehatan, ketenangan, keluarga, atau nilai-nilai yang benar. Jangan sampai kita mengalami burnout dan rumah tangga menjadi berantakan karena kita tidak memahami batas dan musim kehidupan.

Semua ada waktunya.

Jangan juga menyakiti sesama anggota tubuh Kristus dengan berebut jemaat dari gereja lain. Tidak perlu menggunakan cara-cara seperti itu.

Jalani proses penginjilan dan pemuridan dengan tenang. Tetap fokus kepada Tuhan dan perintah-Nya. Bangun diri kita supaya memiliki karakter Kristus serta perilaku yang menyenangkan.

Bergeraklah bersama-sama melalui COOL dengan disiplin dan konsisten. Maka saya percaya, seperti tertulis di dalam Pengkhotbah 3:11, Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Saudara dan saya akan berbuah lebat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Selama napas masih ada di dalam tubuh, ingatlah bahwa segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu kita berada di dunia, dan ada waktu kita dipanggil pulang.

Tuhan Yesus berkata bahwa bukan orang yang hanya berseru, “Tuhan, Tuhan,” yang masuk Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.

Penutup

Karena itu, empat hal ini perlu kita miliki:

J — Jangan hilang fokus.
U — Ubah yang bisa diubahkan: karakter dan perilaku kita.
L — Libatkan yang lainnya dan bekerja dalam kesatuan.
I — Ingat, semua ada waktunya.

Disingkat: JULI.

Jemaat mula-mula fokus kepada Tuhan dan perintah-Nya. Mereka hidup dalam kasih dan kesatuan, sehingga mereka disukai semua orang. Namun yang terpenting, mereka juga hidup berkenan kepada Tuhan.

Jangan sampai kita disukai semua orang, tetapi melakukan sesuatu yang tidak disukai Tuhan.

Tentang jemaat mula-mula, Firman Tuhan berkata:

... sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kisah Para Rasul 2:47)

Mereka fokus kepada Tuhan, disukai orang, dan berkenan kepada Tuhan. Buktinya, setiap hari Tuhan menambahkan orang-orang yang diselamatkan.

Saya percaya, kalau kita melakukan keempat hal yang disingkat JULI, apa yang dialami jemaat mula-mula juga dapat terjadi di COOL dan GBI Danau Bogor Raya.

Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Amin!

Pertanyaan Refleksi

Sebelum saya mengakhiri pesan ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur di hadapan Tuhan:

Ke manakah fokus saya selama ini?
Apakah fokus saya kepada Tuhan atau kepada hal-hal yang lain?

Apakah masih ada karakter dan perilaku yang harus saya ubah?
Apakah kehidupan saya semakin disukai orang dan semakin berkenan kepada Tuhan?

Apakah Amanat Agung sudah menjadi bagian hidup saya?
Kalau sudah, teruskan. Kalau belum, mengapa saya masih mengabaikannya?

Jawablah semuanya dengan kejujuran di hadapan Tuhan.

Semoga apa yang saya sampaikan menolong Bapak, Ibu, dan Saudara.

Ikan hiu, ikan sarden,
I love you and see you again.

God bless you.

Nyanyi:

Yang membelah laut
Yang teduhkan badai
Yang mustahil pun terjadi
Karena kuasa-Mu

Yang pegang hidupku
Yang buka jalan bagiku
Kau pembuat mujizat sejati

Video