The seven mountains: Development of the poor (Pdm Matius Ginting)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
VB 21 Days.jpg
VB 21 Days.jpg
Matius GintingPdm Matius Ginting
RINGKASAN KHOTBAH
Ibadah21 Days of Greater Breakthrough 2022
TanggalMinggu, 19 Desember 2021
GerejaGBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya
LokasiOnline
KotaBogor
VideoRekaman YouTube
Khotbah lainnya
Sebelumnya
Selanjutnya
Shalom Bapak/Ibu semuanya, berbicara tentang development of the poor, banyak orang yang khususnya di bawah Rayon 7 yang sudah bergerak untuk bidang ini.

Prolog (Gisela Kilisya)

Shalom Bapak/Ibu, kita telah mendengar bagaimana anak-anak Tuhan ditempatkan di lima gunung kemarin ini, ada gunung business, gunung media, arts, dan entertainment; education; government and military; serta family and health. Hari ke 19 ini Bapak/Ibu/Saudara kita juga akan mendengarkan paparan bagaimana anak Tuhan ditempatkan di gunung development of the poor yang akan disampaikan oleh Pdm Matius Ginting, sebagai Gembala GBI Ciawi dan pimpinan Panti Asuhan Benih Iman.

Development of the poor (Pdm Matius Ginting)

Shalom Bapak/Ibu semuanya, berbicara tentang development of the poor, banyak orang yang khususnya di bawah Rayon 7 yang sudah bergerak untuk bidang ini. Saya berdoa supaya kita semuanya juga yang belum terlibat, mari kita terlibat mengambil bagian. Ini adalah pelayanan terhadap orang-orang miskin, orang-orang yang tidak memiliki kesempatan, orang-orang yang tersenyum tetapi hati mereka terluka. Bapak/Ibu, pengertian daripada miskin ada banyak. Baik itu miskin secara jasmani, miskin secara rohani, ada juga miskin secara akhlak, tetapi saya mau mengambil satu garis besarnya sebenarnya semua kita manusia ini dari sejak lahir itu miskin. Karena kita terlahir dari rahim ibu kita tidak membawa apa-apa.

Saya yakin bahwa tidak ada bayi yang begitu lahir sudah memakai jas, dasi, dengan setelan yang mantap. Tidak ada seorang bayi yang baru lahir langsung dapat bersuara merdu, bernyanyi. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu disombongkan di dunia ini. Jika kita hidup 70-80 tahun di dunia ini bonusnya hanya setelan satu pakaian saja, karena yang kita dapatkan di dunia ini tidak akan kita bawa. Definisi miskin itu saya menggarisbawahi artinya adalah kekurangan. Contohnya orang-orang miskin secara jasmani adalah mereka yang seharusnya memiliki kebutuhan untuk makan dan minum sehari-hari 30.000 jika dinilai dengan nominal tapi mereka tidak punya.

Misalnya ada beberapa anak-anak yang kehilangan atau kekurangan kasih orang tua. Kehilangan ayah dan ibu, entah bagaimana faktornya, atau misalnya karena case tertentu akhirnya mereka ditempatkan di panti asuhan. Lalu orang-orang tua yang kekurangan kasih sayang dari keluarga dan anak-anaknya, akhirnya ditempatkan di panti jompo. Jadi artinya miskin itu adalah orang yang masih kekurangan. Sebenarnya cakupan dari pelayanan di kategori ini banyak sekali. Tapi di dalam kekurangan dan kelemahan mereka, gereja dan orang percaya. Saya dan Bapak/Ibu semuanya kita harus hadir menjadi jawaban realitas untuk pemenuhan akan kekurangan tersebut. Kita harus bergerak untuk menyampaikan kabar baik kepada mereka. Jangan sampai gereja kalah dengan orang-orang yang sudah sangat besar pelayanan mereka di dunia misi khususnya orang-orang yang berkekurangan, Ada lembaga-lembaga yang luar biasa kredibel, dipercaya oleh banyak khalayak ramai, bahkan juga mereka di bawah naungan pemerintah langsung. Kita semuanya harus bergerak dengan cepat dalam bidang ini. Selanjutnya, apa kata Alkitab mengenai pelayanan orang miskin.

Tuhan Yesus melayani orang yang miskin

Lukas 4:18,

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.

Artinya dalam pelayanan Yesus juga ada space tertentu, atau tempat untuk orang-orang yang sedemikian rupa. Tuhan memfokuskan pelayanan juga kepada orang-orang yang termarjinalkan. Dalam pelayanan Tuhan banyak beberapa contoh Dia dekat dengan orang-orang yang miskin. Tidak menjauhkan diri, tetapi Dia hadir untuk menjadi sahabat bagi mereka. Saya sendiri bergerak di panti asuhan yang namanya panti asuhan Benih Iman. Saya bersyukur bahwa banyak dari Rayon 7 yang sudah berbagi untuk anak-anak kami yang ada di panti asuhan Benih Iman. Secara khusus bapa rohani dan bapa gembala kita juga, Pak Sutadi Rusli pernah berkunjung untuk mengunjungi anak-anak ini dan mendoakan mereka.

Anak-anak yang ada di panti asuhan Benih Iman, adalah mayoritas anak-anak yatim piatu. Lalu 30-40% diantaranya kita alokasikan untuk anak-anak yang kurang mampu. Panti ini sendiri bergerak dari tahun 2005 sampai saat ini sudah hampir 40 anak yang sudah kita asuh. Program kita adalah dari SMP anak-anak harus dan wajib masuk SMK, selesai SMK mereka harus hidup mandiri, tidak boleh lagi hidup di asrama atau di panti asuhan. Mereka sudah dapat bekerja sendiri dan dari hasil pekerjaannya itu mereka dapat melanjutkan kuliah mencapai cita-cita mereka. Puji Tuhan ada beberapa anak kita yang bekerja di Taman Safari juga di bawah naungan Pak Jansen. Yang paling utama dalam pelayanan ini adalah saya menerapkan bagaimana supaya mereka mengalami kasih Bapa. Bagaimana agar hati mereka pulih. Mereka bukan kehilangan orang tua yang sesungguhnya, mereka bukan kehilangan bapak dan ibu yang sesungguhnya. Tetapi ada Kristus yang menggantikan posisi tersebut. Ada Tuhan yang menjadi orang tua bagi mereka.

Sehingga kita ajarkan bahwa mereka bukan anak-anak yang gampang atau berbeda dengan yang lain. Tetapi mereka adalah anak-anak Tuhan yang sama dengan yang lain. Dalam pelayanan di GBI Ciawi juga mereka kita libatkan untuk melayani, bergerak dalam misi, bahkan mereka juga kita sekolahkan di tempat-tempat yang ada di daerah sini dan di situ mereka menjadi berkat bagi teman-temannya.

Dasar motivasi pelayanan

Ini yang terakhir yang saya mau sampaikan dalam waktu yang singkat ini adalah bagaimana dasar motivasi dalam pelayanan ini. Alkitab mencatat:

1 Petrus 1:22,

Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

Bapak/Ibu dalam pelayanan ini memang ada sedikit pro kontra, jika kita melayani di bidang kemanusiaan, atau orang-orang miskin. Kadang kala kita mau bergerak dengan lebih baik ada saja sindiran dari orang lain. Ketika saya melayani di panti asuhan sejak tahun 2005 sampai sekarang ada saja orang yang berkata ini pelayanannya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tetapi motto saya itu seperti ayat di atas ini, saya melakukan dan melayani dengan ikhlas. Kita ada Lumbung COOL di Rayon 7, begitu kita memberi kepada orang itu, sukacitanya luar biasa. Lakukan saja dengan tulus, jika ada orang yang mencibir atau melakukan perkataan negatif, jalan saja, yang penting memang hati kita tulus.

Lalu hati kita juga harus memiliki belas kasihan, tidak boleh hanya karena untuk pamer, trending di media sosial, untuk dilihat orang itu memang tidak boleh. Mengapa kita melakukan dalam pelayanan itu adalah karena kita mengasihi mereka, karena mereka adalah orang-orang yang membutuhkan jawaban dalam hidupnya ini. Kita harus hadir, kita di sana menjadi jawaban atas cerita hati mereka. Ketika mereka menjerit, bukan menjerit kepada manusia tetapi Tuhan.

Tema natal besar dari PGI adalah bagaimana kasih Kristus menggerakkan persaudaraan, orang-orang yang kita bantu adalah saudara kita semua. Entah itu dari golongan gereja mana, entah itu mereka berbeda agama dan keyakinan, entah itu mereka orang-orang yang berbeda suku dengan kita, tetapi mereka semuanya adalah saudara kita. Lewat ini, Bapak-Bapak gereja di PGI dan semuanya juga di GBI secara umum itu disampaikan supaya kita berperang di lini development of the poor ini. Supaya kita berdampak dan ingat bahwa pelayanan itu sangat luas, jadi saya undang semua Bapak/Ibu bergerak dalam bidang ini. Kita berdoa supaya gerakan transformasi bahkan semua dalam lini development of the poor ini orang-orang yang belum terselamatkan dan mengenal Kristus melalui kehidupan kita dan melalui belas kasihan di hati kita yang kita salurkan kepada mereka. Ingat bahwa memberi tidak perlu menjadi kaya. Orang miskin di Alkitab dia memberikan persembahan kepada Tuhan bukan karena kekayaannya, tetapi karena itu yang dia punya, dia beri.

Penutup

Bapak/Ibu semuanya, pagi hari ini lewat pengalaman yang saya sharing-kan, bahwa saya mengajak untuk kita semuanya melakukan sesuai dengan kebenaran Firman. Kita melakukan, mengasihi mereka, mereka adalah orang-orang yang menjerit terhadap kehidupan mereka. Saya berdoa untuk kita semuanya menjadi jawaban atas doa-doa mereka. Kita menjadi bagian daripada doa mereka, karena mereka adalah Saudara kita. Yesus sendiri mengasihi mereka, kita juga mengasihi mereka. Mungkin ini saja yang dapat saya sharing-kan pagi ini, biarlah kiranya semuanya kita mengalami terobosan dalam dunia yang Tuhan tempatkan di mana pun kita berada, dan kita yakin bahwa di tempat ini juga banyak jiwa yang siap untuk dituai, Tuhan Yesus memberkati kita semuanya. Amin. (MGT)

Video