Influencer (Pdt Nathan Subroto, MDiv)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Nathan Subroto 20210829.jpeg
Nathan Subroto-20210517-3x4.jpg
Nathan SubrotoPdt Nathan Subroto, MDiv
RINGKASAN KHOTBAH
IbadahIbadah Raya
TanggalMinggu, 29 Agustus 2021
GerejaGBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya
LokasiIbadah Online
KotaBogor
Video[1]
Lainnya
Sebelumnya
Selanjutnya

Shalom Bapak, Ibu, Saudara, hari ini saya tergerak untuk menyampaikan sebuah tema Firman Tuhan yang kata-katanya tidak asing buat generasi muda, yaitu menjadi influencer.

Shalom Bapak, Ibu, Saudara, selamat pagi. Hari ini saya tergerak untuk menyampaikan sebuah tema Firman Tuhan yang kata-katanya tidak asing buat generasi muda, yaitu menjadi influencer. Ada sebuah tren yang mengagetkan, bahkan terjadi sebelum pandemi, jika kita tanya kepada generasi sebelum kita, saat ditanya cita-citanya jadi apa. Umumnya berkata mau jadi pengusaha, dokter, insinyur, dan sebagainya. Jika ditanya dengan generasi muda saat ini, cita-citanya apa? Ada sebuah kata-kata yang tidak familiar untuk generasi sebelumnya yaitu menjadi influencer, youtuber, orang-orang dengan subscriber dan followers yang banyak di social media.

Pada dasarnya influencer terbagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah influencer yang tidak tahu sebuah produk, tidak mengenal, belum mendapatkan manfaatnya, tetapi karena ada bayaran yang dijanjikan mereka mau meng-influence orang lain untuk membeli dan memakai produk itu. Tipe kedua adalah orang-orang yang memang memakai produk itu dan mereka menemukan manfaatnya, kemudian mereka mempengaruhi orang lain untuk menggunakan dan membeli produk yang sama. Dari kedua tipe influencer ini ada benang merah yang dapat kita tarik yaitu: keduanya berusaha mempengaruhi orang lain untuk membeli sebuah produk dan mereka menunjukkan kepada orang yang ingin dipengaruhi bahwa mereka seakan-akan menggunakan produk tersebut.

Waktu saya meneliti kata-kata menjadi influencer, ternyata di Alkitab banyak sekali kata-kata yang mirip dengan menjadi influencer.

Influencer dalam Alkitab

Menjadi pemimpin

Ulangan 28:13a,

"Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor,"

Waktu kita membaca ayat ini, bayangan kita akan terbawa kepada sebuah keadaan menjadi pemimpin. Saat menjadi pemimpin, ilmunya adalah leadership. Ketika kita mempelajari ilmu kepemimpinan di dunia seakan-akan sepakat mengatakan hal yang sama “leadership is not only about position, but leadership is about influence.” Jadi saya berani katakan Ulangan 28:13 sebetulnya Tuhan sedang mengajar dan memerintahkan kepada kita kamu harus menjadi pengaruh. Kita yang sudah tahu kebaikan, kebenaran, dan Firman Tuhan harus dapat menjadi influencer buat dunia ini. Jadi untuk saudara-saudara muda yang bercita-cita menjadi influencer tidak salah sama sekali, karena Alkitab juga berkata Tuhan mau kita menjadi influencer.

Menjadi garam dunia

Matius 5:13,

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Saya percaya kita semua tahu rasanya garam itu asin. Dan ada sebuah fakta, apapun yang disentuh oleh garam menjadi asin. Saya berani mengatakan bahwa waktu Tuhan berkata kepada kita, kamu adalah garam dunia, Tuhan sedang mengingatkan kepada kita untuk menjadi pengaruh, seperti sebuah garam di mana pun dia ada benda-benda di sekeliling garam ikut menjadi asin. Di sini dikatakan jika garam kehilangan keasinannya, kemampuannya untuk memberi pengaruh, tidak ada gunanya selain diinjak dan dibuang. Sekali lagi saya katakan Firman Tuhan menyampaikan kita yang sudah tahu kebenaran, kebaikan, dan apa yang menjadi maunya kita, kita harus dapat mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kita.

Menjadi dingin atau panas

Wahyu 3:15b,

“Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!”

Kita harus di antara dingin atau panas, karena apapun yang dekat dengan benda yang dingin akan jadi dingin, apapun yang dekat dengan benda panas akan jadi panas. Sama pengertiannya ternyata Tuhan mau kita menjadi pengaruh, sehingga orang-orang di sekeliling kita akan terpengaruh dengan gaya hidup kita. Kita yang sudah tahu kebaikan dan kebenaran, serta Firman Tuhan. Kita harus dapat mempengaruhi orang-orang disekeliling kita untuk mengikuti gaya hidup kita.

Menjadi teladan

Bicara tentang influencer yang tadi, kita sama-sama belajar menjadi pengaruh, kita mau naik tingkat. Ternyata bicara menjadi influencer ada sebuah kata-kata yang artinya sama persis tetapi kata-kata ini lebih serius yaitu menjadi teladan. Jadi jika anak-anak muda mempunyai cita-cita itu, Firman Tuhan hari ini mendukung. Bukan hanya anak-anak muda tetapi kita semua. Tuhan mau kita menjadi pengaruh buat orang lain, lingkungan kita, kota kita, bangsa dan negara kita, dan dunia ini. Tuhan mau kita menjadi teladan.

1 Timotius 4:12,

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.

Beberapa hari atau minggu yang lalu, saya membaca sebuah artikel yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO). WHO berkata bahwa orang muda itu adalah orang yang usianya 60 tahun ke bawah. Tetapi di sini saya percaya muda atau tua tidak dipengaruhi oleh usia. Kita semua semangat yang muda. Makanya Firman Tuhan ini relevan untuk kita semua. Jadi walaupun kita masih muda, semangat kita muda, jangan orang menganggap kita rendah. Rasul Paulus kepada Timotius seperti seorang ayah kepada anaknya berkata, “jadilah teladan.” Hari ini saya berani mengatakan, Rasul Paulus berkata-kata kepada kita semua jadilah teladan. Di sini ada beberapa poin yang saya mau kita lihat sama-sama. Jadilah teladan:

#1 Jadilah teladan dalam perkataan

Betapa gampangnya kita jatuh lewat perkataan kita. Kitab Yakobus dikatakan, orang yang dapat menguasai lidah adalah orang yang sempurna. Waktu bicara menjadi teladan dalam perkataan kita harus ingat sebagai anak Tuhan, ada satu kuasa yang diwariskan Tuhan kepada kita, salah satunya adalah kuasa dalam perkataan. Waktu Tuhan menciptakan langit, bumi, dan segala isinya Tuhan hanya menggunakan kata-kataNya. Oleh karena itu kita harus benar-benar hati-hati menggunakan kata-kata kita, karena ada kuasa dalam perkataan. Sebagai manusia kadang-kadang kita emosi dan marah. Tetapi marilah hari ini kita diingatkan jaga perkataan kita.

Pada kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Beberapa kali Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya kalau kamu masuk ke dalam suatu rumah, kota, katakan kata-kata berkat (shalom). Ini mengingatkan kepada kita semua, marilah kita suka mengatakan kata-kata berkat. Jika orang yang kita beri kata-kata berkat memang layak diberkati, berkat yang kita sampaikan akan turun kepada orang itu. Jika orang-orang tidak layak menerima berkat itu, berkatnya akan kembali kepada kita. Kita juga harus hati-hati untuk tidak mengatakan kabar yang tidak benar lewat mulut kita, jangan menjadi penyebar atau pembuat hoaks.

#2 Jadilah teladan dalam tingkah laku

Hari ini Firman Tuhan ingatkan kepada kita menjadi teladan dalam respons. Kadang-kadang kita 'gak sadar, kita diperlakukan buruk kita memberikan respons yang salah. Sebagai manusia, kadang-kadang kita diperlakukan tidak adil dan tidak baik. Tetapi ingat, jadilah teladan dalam tingkah laku termasuk dalam respons kita, dalam bereaksi terhadap tingkah laku dan keadaan di sekeliling kita.

#3 Jadilah teladan dalam kasih

Jika bicara tentang kasih, pasti mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi Tuhan mengingatkan kepada kita, jadilah teladan dalam kasih kita kepada Tuhan, waktu kita mengasihi Tuhan dapat ditunjukkan lewat ibadah kita dan pelayanan kita, sehingga orang-orang di sekeliling kita melihat wah kamu rajin banget yah pelayanan, memberikan persembahan, karena kita mengasihi Tuhan. Demikian juga kasih kepada sesama, waktu kita menunjukkan kasih kepada sesama, orang-orang disekeliling kita melihat. Hal-hal yang sederhana memberikan sembako, tips yang lebih kepada orang lain. Itu dapat menjadi berkat buat orang-orang disekeliling kita.

#4 Jadilah teladan dalam kesetiaan

Di zaman ini, kesetiaan adalah benda yang semakin mahal harganya. Generasi di atas kita banyak sekali kita temukan dari sejak mereka lulus sekolah, mulai kerja, sampai pensiun, kerjaannya sama, perusahaannya sama. Orang zaman dulu punya prinsip ngapain pindah-pindah. Tetapi zaman sekarang pokoknya kalau ada fasilitas lebih baik, gaji lebih tinggi sedikit, pindah. Orang zaman sekarang lebih gampang untuk tidak melihat kesetiaan sebagai sebuah komitmen. Oke jika bicara tentang pekerjaan, sayangnya banyak orang-orang melakukan hal yang sama terhadap pasangan hidupnya.

Tuhan mau kita menjadi orang-orang yang setia. Termasuk setia dalam pelayanan, dalam beribadah, dalam gereja lokal. Kita sudah dimenangkan oleh pelayanan gereja lokal ini. Kita sudah bertumbuh di tempat ini, kenapa kita tidak setia di tempat ini. Hari-hari ini kita dapat melihat semakin jelas orang yang setia dan tidak setia semakin jelas kelihatan. Orang-orang yang setia semakin hari semakin mencari Tuhan di hari-hari ini. Orang yang kurang setia atau tidak setia hari-hari ini seperti merasa bebas tidak ada ibadah dan pelayanan.

#5 Jadilah teladan dalam kesucian

Tuhan berkata, hendaklah engkau kudus dan suci, karena Aku kudus dan suci. Oleh karena itu Tuhan ingin kita menjadi teladan dalam kekudusan, kesucian. Kudus dan suci dalam perkataan, tindakan, reaksi, dan respon. Kudus dan suci juga bicara tentang pikiran, gunakan pikiran kita untuk hal-hal yang baik, yang bersih dan suci.

Amin. (MGT)