Tawanan Tuhan (Pdt Dr Drs Daniel Arief Sugianto)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kita bisa membuat sebuah putaran balik, kegagalan menjadi berhasil, masa lalu yang gelap menjadi baik, tak terhentikan oleh krisis apa pun, asal kita menjadi tawanan Tuhan.

Kami mengucap syukur di tempat ini, terima kasih Tuhan masih mau hadir di tempat yang indah ini, di tengah pergumulan kami, kami bersyukur bukan berkat-Mu saja yang kami rasakan, tapi banyak hal lain yang Tuhan berikan: sukacita, damai sejahtera, perlindungan, rasa aman yang masih kami bisa miliki hari ini. Kami tahu semua itu datang dari Tuhan, terpujilah nama-Mu Tuhan Yesus. Kiranya semua yang kami lakukan menyenangkan hati-Mu.

Sekarang berbicaralah bagi kami, kami sangat perlu firman-Mu dalam hidup kami agar kami tetap ada dalam rencana-Mu. Firman-Mu menguduskan hidup kami dan bahkan memberi jalan keluar, jawaban bagi setiap kami pagi hari ini. Urapi dan mampukan kami untuk mengerti apa yang Tuhan sampaikan pagi ini. Terpujilah nama Bapa, dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami mengucap syukur dan berdoa. Amin.

Selamat pagi, Shalom. Mari kita akan menikmati firman Tuhan pagi ini biar roh jiwa kita diberkati lagi secara luar biasa oleh firman Tuhan pagi hari ini.

Menjadi tawanan Tuhan

Musa

Keluaran 23:4-5, Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Saudara, kita melihat di sini, Musa bertemu dengan Tuhan untuk pertama kalinya di padang gurun setelah 40 tahun terbuang dari istana Mesir. Waktu itu Musa ingin membela bangsanya, menunjukkan simpati pembelaan bagi bangsanya lalu akhirnya ia membunuh seorang mandor Mesir. Akibatnya, bukannya ia diangkat menjadi seorang pahlawan bagi bangsanya, malah dianggap ingin menguasai bangsa Israel. Dan bukan cuma itu, di mata orang Mesir pun dia dianggap seorang kriminal. Akibatnya dia terbuang selama 40 tahun di padang pasir.

Usia Musa waktu diperkirakan sudah 80 tahun ketika dia bertemu dengan Tuhan pertama kalinya. Dan Saudara perlu tahu, perjumpaan yang pertama kalinya inilah yang mengubah hidup Musa, yang membuat dia menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan yang luar biasa. Dari seorang yang tersingkirkan di padang gurun selama 40 tahun akhirnya dia dipakai Tuhan luar biasa. Dari yang gagal menjadi seorang yang berhasil.

Segala keberhasilan, kemegahan, kemuliaan, dan nama besar Musa dimulai dari momen ini, diawali dari perjumpaan dengan Tuhan. Karena itu, mari kita jumpai Tuhan. Titik balik kehidupan Musa, dari sebuah perjalanan yang penuh kegagalan, kekecewaan, dia mengalami titik balik ketika dia berjumpa dengan Tuhan. Orang yang bertemu Tuhan bisa mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, masa lalu yang mengecewakan menjadi masa depan yang penuh keberhasilan. Mari kita pelajari dalam perjumpaan yang pertama dengan Tuhan ini ada yang unik, Tuhan memerintahkan satu perkara, Keluaran 23:5, Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Segala sesuatu yang pertama itu berarti sesuatu yang istimewa. Cinta pertama, pandangan pertama, gaji pertama, bisnis/karier pertama. Sesuatu yang pertama itu penting dalam hidup kita. Bagi Musa, ini adalah perjumpaan pertama dengan Tuhan dan perintah pertama yang diterimanya dari Tuhan. Dan aneh, perintah pertama itu adalah "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu,"

Kenapa ini yang diutamakan untuk pertama kali diutarakan Tuhan kepada Musa? Bagi pola pikir kita hari ini, penanggalan kasut tidaklah istimewa. Bagi kita, penanggalan kasut hanyalah kebiasaan kita untuk menjaga kebersihan, atau untuk menghormati tuan rumah. Tapi mari kita cerna dalam perspektif pada zaman itu. Menanggalkan kasut tidak sesederhana yang kita tahu pada zaman ini.

Mari kita lihat keterangan Alkitab mengenai penanggalan kasut ini. Puji Tuhan, Yesaya mencatat mengenai menanggalkan kasut ini dalam Yesaya 20:1-4, Pada tahun ketika panglima yang dikirim oleh Sargon, raja Asyur, tiba di Asdod lalu memerangi dan merebutnya, pada waktu itu berfirmanlah TUHAN melalui Yesaya bin Amos. Firman-Nya: "Pergilah dan bukalah kain kabung dari pinggangmu dan tanggalkanlah kasut dari kakimu," lalu iapun berbuat demikian, maka berjalanlah ia telanjang dan tidak berkasut. Berfirmanlah TUHAN: "Seperti hamba-Ku Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia, demikianlah raja Asyur akan menggiring orang Mesir sebagai tawanan dan orang Etiopia sebagai buangan, tua dan muda, telanjang dan tidak berkasut dengan pantatnya kelihatan, suatu penghinaan bagi Mesir.

Seorang tawanan diperlakukan dengan cara dilucuti jubahnya dan melepaskan kasutnya. Melepaskan kasut artinya dia adalah orang yang tertawan oleh pihak lain. Di Palestina, kasut adalah hal yang sangat penting dimiliki oleh semua orang karena di tanah Palestina 80% keadaannya adalah batu kerikil yang memerlukan kasut untuk berjalan di atasnya.

Dalam hukum perang pada zaman di Alkitab, orang yang tertawan akan dilucuti jubahnya dan kasutnya diambil dengan paksa untuk mempermalukan dia, juga supaya kalau dia lari, dia tidak bisa lari jauh di padang pasir. Yesaya diberi perintah untuk memperagakan suatu keadaan yang akan dialami oleh Mesir dan Etiopia. Dia tidak memakai jubah dan kasut sebagai gambaran bahwa Mesir dan Etiopia akan diperlakukan demikian oleh Asyur. Jadi, melepaskan kasut artinya adalah menjadi tawanan.

Kembali ke Musa, Tuhan menjumpai Musa karena Dia tahu bahwa Musa adalah orang yang gagal, Tuhan ingin membuat Musa menjadi seorang yang berhasil. Karena itu perintah pertama Tuhan adalah menjadikan Musa sebagai tawanan-Nya, jangan lari lagi dari-Ku, ikutlah Aku. Selama 40 tahun yang pertama Musa hidup pangeran Mesir, dan 40 tahun yang kedua dia ada di padang gurun. Seakan-akan Tuhan berkata bahwa karena dulu Musa ingin melakukan segalanya dengan caranya sendiri, dengan kuasanya sendiri, oleh sebab itu Musa gagal. Dan Tuhan ingin memberikan 40 tahun yang ketiga, yang jauh lebih baik dari 2 kali 40 tahun umur yang dialami Musa.

Di awal tahun 2010 ini, Tuhan menantang kita dengan cara yang sama. Tuhan ingin berbuat banyak dalam hidup kita. Itu sebabnya ini adalah Tahun Pemulihan dan Kelimpahan, limpah dalam karya Tuhan dalam hidup kita. Tuhan bukan pribadi yang pasif, atau pribadi eksklusif yang tidak mau dilibatkan, tapi Dia adalah Allah yang senang dilibatkan, disangkutpautkan dalam segala aspek dalam hidup kita, Dia tidak akan terganggu sedikit pun dengan permintaan kita. Tapi sebelum itu, Tuhan minta, jadilah tawanan-Ku! Banyak orang Kristen masih ingin melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Kita menutup kesempatan untuk Tuhan terlibat dalam kehidupan kita. Akibatnya kita mengelola bisnis dengan cara yang tidak-tidak, seenaknya menggunakan waktu kita, seenaknya menggunakan uang kita. Statement yang seperti itulah yang membuat Tuhan tidak bisa berbuat banyak dalam hidup kita. Statement itu yang membuat kita tidak bisa melakukan u turn (putaran balik) dalam hidup kita.

Tuhan menantang, kalau kita mau mengubah kegagalan menjadi keberhasilan seperti Musa, jadilah tawanan Tuhan terlebih dahulu. Seorang tawanan itu tidak bebas, inisiatifnya sudah diserahkan kepada yang lebih kuat yaitu yang menawannya. Sekarang Musa menggunakan cara yang lain, menyerahkan inisiatifnya kepada Tuhan, hanya melakukan yang Tuhan perintahkan.

Musa dicatat dalam Ibrani 11 sebagai pahlawan iman, padahal dia pernah 40 tahun terbuang di padang gurun. Tidak ada seorang pun yang menghargai, menerima dia, terkucilkan karena kegagalannya, tapi sekarang dia dihormati karena dia berhasil melakukan putaran balik dalam hidupnya, menyerahkan diri kepada pimpinan Tuhan.

Kita bisa isi otak kita dengan ilmu, tapi DNA kita adalah DNA makhluk yang sudah terbuang dari kemuliaan, sudah jatuh. Sekalipun punya gelar yang luar biasa, tetap DNA semua manusia adalah makhluk yang sudah jatuh. Amsal 3:5 berkata, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Jangan mengandalkan pengertianmu sendiri. Kita butuh seseorang yang memimpin, menaklukkan kita. Ayo, Tuhan sudah menawarkan diri sebagai pimpinan kita, sebagai pihak yang lebih kuat untuk mengendalikan hidup kita, Tuhan tidak akan membawa kita tempat yang tidak lebih baik dari hari ini. Jadilah tawanan Tuhan maka Tuhan bisa berbuat banyak dalam hidup kita.

Yosua

Tuhan wariskan tantangan yang sama kepada generasi-generasi selanjutnya. Yosua adalah generasi penerus Musa.

Yosua 5:13-15, Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?" Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian.

Mari kita perhatikan background peristiwa ini. Yosua sedang bingung memikirkan cara untuk mengalahkan Yerikho. Prajuritnya disuruh tidur karena besok harus fit dalam pertempuran. Sementara prajuritnya mempersiapkan diri, Yosua justru tidak bisa tidur karena dia adalah pemimpin yang bertanggung jawab. Yerikho adalah kota dengan tembok terkuat. Tidak ada kota lain pada waktu itu punya tembok sekuat Yerikho. Para sejarawan berhasil menemukan fondasi dari benteng tembok kota Yerikho lama. Ternyata lebarnya 25 meter!

Dalam kebingungannya, sebuah sosok tampil di depannya, dengan tampilan yang jauh lebih perkasa dari dirinya. Sosok itu berkata, bukan kawan atau lawan, tapi Aku datang untuk memimpin engkau! Yosua pun menyembah dan meminta solusi dari Tuhan. Tapi sebelum memberikan solusi, Tuhan meminta dulu syaratnya, tanggalkan kasut dari kaki Yosua. Tuhan datang untuk memimpin peperangan itu. Peperangan itu bukan milikmu lagi. Aku punya caranya, kata Tuhan, tapi syaratnya jadilah tawanan-Ku. Kamu biasa memimpin, biasa memerintah, tapi untuk Yerikho, kamu harus mau diperintah oleh-Ku. Yosua tidak berpikir panjang, dia langsung melepaskan kasutnya. Dan hasilnya, ketika mereka berperang, tembok itu bisa diruntuhkan dengan cara yang ajaib. Yosua tahu, menanggalkan kasut bagi seorang pejuang seperti dirinya, artinya adalah menyerah. Kalau dilihat para prajuritnya, bisa-bisa dia dianggap menyerah. Dia terbiasa melepaskan kasut orang yang tertawan di hadapannya, tapi kali ini, dia yang terpaksa harus melepaskan kasutnya.

Setelah kasutnya dilepaskan, baru Tuhan bisa beritahu caranya untuk mengalahkan Yerikho.

Yosua 6:3-5, Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan."

Solusinya sungguh aneh, tapi sesungguhnya Yerikho sudah dikalahkan malam itu juga ketika Yosua tunduk kepada Tuhan, ketika Yosua mau jadi tawanannya Tuhan.

Kita mungkin punya Yerikho kita masing-masing. Sekian lama kita tidak bisa tembus, sulit kita breakthrough, sulit kita terobos. Tuhan katakan, Dia siap beri strateginya bagaimana kita bisa buat terobosan dalam hidup kita, tapi sebelumnya, Tuhan minta serahkan hidup kita, waktu kita untuk Dia. Jangan gunakan waktu seenaknya, jangan kelola bisnis seenaknya, jangan seenaknya mengelola bisnis milik-Ku. Karena kita merasa bisnis itu milik kita sendiri, pergumulan kita sendiri, persoalan kita sendiri, maka Tuhan tidak punya akses kepada semua persoalan kita. Mari serahkan semua itu, bisnis, pergumulan, persoalan kita, kepada Tuhan sebagai pemiliknya. Kita hormati Tuhan sebagai pemilik semuanya. Bersikaplah hormat kepada Sang Pemilik kehidupan ini, jangan seenaknya sendiri lagi. Tuhan akan ceritakan banyak hal untuk menerobos dalam hidup kita.

Paulus

Tantangan Tuhan tidak berhenti pada zaman Perjanjian Lama, tapi terus juga hingga zaman Perjanjian Baru.

Kisah 20:20-24, Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Sebagai tawanan Roh, Paulus sadar dirinya ada di tangan Tuhan. Paulus mengaku sebagai tawanan Tuhan. Ini adalah momen perpisahan Paulus dengan jemaat di Efesus. Ini adalah suasana yang mengharukan, Paulus mengatakan ini adalah pertemuan terakhir kita, dan mungkin jemaatnya bingung. Tapi Paulus tahu bahwa dia sudah diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Yerusalem, dia tahu akan dipenjarakan, akan dianiaya di Yerusalem. Lalu kenapa Paulus tetap mau pergi ke Yerusalem? Paulus tidak punya pilihan lain, dia adalah tawanan Roh, dan sebagai tawanan dia tidak punya pilihan untuk menolak, dia hanya pergi ke tempat yang disuruh Allah. Paulus telah melepaskan kasutnya di hadapan Tuhan. Dia tidak berkata tidak bisa, dia tidak menolak perintah Tuhan, dia memposisikan diri sebagai seorang tawanan. Sebagai bukti bahwa kita adalah tawanan Tuhan, kita harus selalu mengatakan ya Tuhan. Terhadap kehendak Allah, kita harus lebih banyak berkata ya, lebih banyak setujunya, ataukah kita lebih banyak berontak?

Iblis tidak bisa menghentikan Paulus karena dia total menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Berkali-kali iblis ingin binasakan Paulus, karena Paulus adalah momok besar pada zaman itu. Iblis sangat gentar dan berkali-kali ingin menghentikan Paulus. Dia pernah karam kapal 3 kali. Dia pernah digigit oleh ular beracun, itu adalah usaha iblis untuk membunuh Paulus secepat mungkin. Tapi karena Paulus adalah milik Tuhan, Tuhan sendiri yang melindunginya, iblis tidak bisa menghentikan orang yang menjadi tawanan Tuhan, yang dimiliki oleh Tuhan.

Makanya jangan berkata ini bisnisku, iblis akan mudah menghentikan bisnis kita. Jangan berkata ini uangku, jadi bebas aku gunakan untuk apa saja. Iblis akan mudah menghentikan keuangan kita. Mari serahkan sebagai milik Tuhan, katakan, aku akan gunakan dengan cara yang terhormat karena ini adalah milik-Mu yang Tuhan. Sama seperti kita meminjam mobil orang lain, kita akan memperlakukan mobil itu dengan baik karena kita menghormati pemiliknya.

Dua ribu tahun lalu, Dia telah tebus kita, jadi sesungguhnya hidup kita adalah miliknya. Hari ini, sesungguhnya Tuhan hanya sekedar mengkonfirmasi bahwa hidup kita adalah milik Tuhan. Kita tidak bisa lari jauh dari kehendak Tuhan karena sesungguhnya hidup kita telah dibeli 2000 tahun lalu. Tuhan hanya mengingatkan bahwa kita tidak punya pilihan lain selain untuk menjadi tawanan Tuhan. Tuhan menawan kita untuk menolong kita u-turn seperti Musa, menembus Yerikho seperti Yosua, dan seperti Paulus tidak terhentikan oleh iblis mana pun.

Yesus

Yesus adalah orang yang paling perkasa di muka bumi ini tapi Dia rela melepaskan kasut-Nya di hadapan Bapa-Nya. Di Getsemani dia ingin melepaskan cawannya tapi Dia juga berkata, bukan kehendak-Ku tapi kehendak-Mu. Dan saat Dia mengatakan itu, Dia sedang menjadi tawanan Bapa-Nya.

Penutup

Apa yang sesungguhnya kita pertahankan? Musa, Yosua, Paulus, dan Yesus lebih punya banyak alasan untuk mempertahankan kasutnya ketimbang kita. Tapi mari, kita bisa membuat sebuah putaran balik, kegagalan menjadi berhasil, masalah lalu yang gelap menjadi masa depan yang baik, tak terhentikan oleh krisis apa pun, asal kita menjadi tawanan Tuhan.

Izinkan Tuhan memiliki bisnis kita, segala aspek kehidupan kita. Mari responi ini, jangan kita diam padahal Tuhan sedang menunggu jawaban kita. Mari jangan menunda lama-lama, ayo cepat ijinkan Tuhan berbuat banyak dalam hidup kita. Jangan tunda lebih lama lagi, Tuhan sudah sangat rindu berkarya bagi kita, Tuhan sudah sangat rindu ingin menjadikan tahun ini sebagai tahun kelimpahan bagi hidup kita. Hidupmu adalah miliki Tuhan. Kelola bisnis dan hartamu dengan takut akan Tuhan. Ketika Tuhan dihormati, Dia akan berkarya dengan bebas di situ. Hormati Tuhan dalam bisnismu, dalam penggunaan waktu dan hartamu, maka Dia bisa berbuat banyak di situ.

Meteraikan firman-Mu ya Tuhan, miliki hidup kami ya Tuhan, kami siap menjadi tawanan-Mu, biar hidup kami diatur sepenuhnya seumur hidup kami. Inilah bisnis kami, harta kami, waktu kami, hidup kami, semua aspek pelayanan kami semua itu adalah milik-Mu. Sekarang Tuhan memiliki akses untuk terlibat banyak dalam hidup kami. Kerjakan karya-Mu dalam hidup kami. Amin.

Kau bukan Tuhan yang melihat rupa
Kau bukan Tuhan yang memandang harta
Hati hamba yang s'lalu Kau cari
Biar Kau temukan di dalamku

S'lama kuhidup ku mau menyembah-Mu
Sebab Engkau sangat berarti bagi ku
Yang terbaik yang ada padaku
Kupersembahkan kepada-Mu, Yesusku