Memberi adalah bahasa kasih karunia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Memberi adalah bahasa kasih karunia

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 10 Desember 2019
Sebelumnya Senin, 09 Desember 2019
Selanjutnya Rabu, 11 Desember 2019

Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu. (Roma 15:15)

Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. (1 Korintus 1:4)

Kasih karunia Tuhan adalah pemberian Allah yang menimbulkan keberanian bagi mereka yang hidup di dalamnya. “Karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu.” Memberi atau anugerah adalah dasar bagi bahasa kasih karunia.

Ketika Paulus mulai menulis suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ia menekankan kebenaran ini. “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.” Hal ini adalah titik awal bagi semua karya Allah di dalam hati manusia. Awal karya keselamatan adalah pemberian kasih karunia Allah. Sama sekali bukan dihasilkan dari usaha manusia. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Pola yang sama, yaitu pemberian kasih karunia berlaku bagi semua pekerjaan baik yang Tuhan ingin lakukan di dalam manusia. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17).

Apapun yang Tuhan ingin lakukan di dalam manusia, Ia lakukan dengan kasih karunia yang harus diberikan kepada kita oleh-Nya. Hal ini berlaku dalam kaitan dengan hidup kekal. “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yohanes 10:28). Berlaku juga dalam hal Roh Kudus. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16). Prinsip ini juga berlaku dalam hal karunia-karunia roh. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1 Korintus 12:7). “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Efesus 4:7). Pola ini juga berlaku untuk kelegaan dan kedamaian rohani. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yohanes 14:27). Dalam hal yang terbesar, yaitu lebih lagi mengenal Allah, Tuhan harus memberikan kepada kita apa yang diperlukan untuk pertumbuhan tersebut: “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Efesus 1:17). Semua berkat dari Tuhan adalah hasil dari Allah memberikan kasih karunia-Nya ke dalam hidup kita.

Apakah hati Allah yang senantiasa memberi kepada kita akan berhenti? Kita tidak perlu takut bahwa Tuhan akan lelah memberi kasih karunia kepada kita. “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Lukas 12:32).

Doa

Ya Allah, pemberi dari semua anugerah kasih karunia, aku bersyukur untuk kekayaan dan keleluasaan kasih karunia yang sudah Engkau berikan kepadaku. Tolong aku untuk mengerti bahwa seluruh Kerajaan-Mu diberikan oleh kasih karunia-Mu. Amin.