Keberanian kasih karunia (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Keberanian kasih karunia (2)

Saat Teduh
Tanggal Senin, 9 Desember 2019
Sebelumnya Minggu, 08 Desember 2019
Selanjutnya Selasa, 10 Desember 2019

Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu. (Roma 15:15)

Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah. (2 Korintus 7:4)

Ketika kasih karunia Allah bekerja dalam hidup umat-Nya, maka akan muncul keberanian rohani. Hal ini disaksikan dengan nyata dalam jemaat mula-mula. “Mereka memberitakan Firman Allah dengan berani” (Kisah Para Rasul 4:31). “Dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah” (Kisah Para Rasul 4:33).

Rasul Paulus mengalami keberanian yang sama ketika ia melayani dengan kasih karunia Allah. "Karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu.” Surat-surat Rasul Paulus seringkali memperlihatkan keberanian kasih karunia, demikian pula dengan surat kepada jemaat di Roma. Ketika ia menuliskan tentang kebenaran Injil kasih karunia dalam awal suratnya, ia menulis dengan penuh keberanian. Nasihatnya untuk menyerahkan hidup kita di mezbah Tuhan adalah contoh yang baik. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2). Panggilannya untuk mengenakan Kristus, meninggalkan kedagingan merupakan contoh lainnya. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:13-14). Demikian pula pernyataannya mengenai Tuhan sebagai pemilik hidup kita. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8).

Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, keberanian kasih karunia kembali terlihat. “Aku sangat berterus terang terhadap kamu.” Sebelum pernyataan keberaniannya itu, ia memberikan sebuah perintah untuk memisahkan diri dari kejahatan dunia ini. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup” (2 Korintus 6:14-16).

Doa

Ya Bapa, aku memuji Engkau untuk kebenaran-Mu. Aku bersyukur untuk keberanian yang kasih karunia-Mu berikan dalam hidupku. Oleh kasih karunia-Mu yang bekerja di dalam ku, membuat aku berdoa, berbicara dan bertindak dengan keberanian ilahi. Amin.