Kelimpahan kasih karunia untuk transformasi (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Kelimpahan kasih karunia untuk transformasi (2)

Saat Teduh
Tanggal Sabtu, 23 November 2019
Sebelumnya Jumat, 22 November 2019
Selanjutnya Minggu, 24 November 2019

Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku-- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (1 Timotius 1:12-14)

Oleh karena kasih karunia-Nya yang berlimpah, Tuhan Yesus mengubah Saulus dari Tarsus menjadi Rasul Paulus. Tuhan melakukan ini dengan menguatkan Paulus, membuat dia menjadi seseorang yang berdiri atas iman, dan mempercayakan Paulus dalam pelayanan. Saat kita melihat siapa Paulus sebelum ia diubahkan oleh Tuhan, kita akan melihat lebih banyak lagi kelimpahan kasih karunia yang tersedia untuk sebuah transformasi.

Sebelum ia menjadi pengikut Kristus, Paulus melakukan tindakan-tindakan yang menghujat Allah. “Aku yang tadinya seorang penghujat." Dalam ketidaktahuannya Paulus adalah seorang agamawi yang fanatik, ia mengucapkan dan melakukan banyak hal yang menghina dan melawan Tuhan. “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret” (Kisah Para Rasul 26:9). Salah satu dosa penghujatannya terjadi ketika ia mencoba untuk memaksa orang-orang Kristen untuk mengucapkan hal-hal yang jahat tentang Allah. “Aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya” (Kisah Para Rasul 26:11).

Oleh karena itulah Paulus dengan keji menyiksa orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. “Aku yang tadinya… seorang penganiaya." Dengan agresif Paulus mencari dan mengejar mereka yang mengikut Yesus, dan memenjarakan mereka. “Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (Kisah Para Rasul 8:3). Ia begitu membenci pengikut Yesus bahkan ia memiliki kuasa untuk mengejar orang Kristen yang tinggal di kota-kota di luar Israel. “Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kisah Para Rasul 9:1-2).

Melihat tindakannya yang berani itu, tidak heran jika Paulus mengaku bahwa ia adalah orang yang angkuh sebelum ia menjadi orang percaya. “Aku yang tadinya… dan seorang ganas." Keberhasilan agamawinya membawa Paulus menjadi orang yang sangat percaya diri akan kerohaniannya. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Filipi 3:4-6).

Walaupun demikian, semua ibadah agamawi ini dapat diubah oleh kasih karunia Allah yang melimpah. “Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku."

Doa

Tuhan Yesus, betapa luar biasa kasih karunia-Mu. Firman-Mu menguatkan aku. Aku juga menyadari kegagalan-kegagalanku di masa lalu yang sudah Engkau ubah dengan kasih karunia-Mu yang melimpah. Biarlah Engkau senantiasa mengubah aku. Amin.