Kelimpahan kasih karunia untuk transformasi (1)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Kelimpahan kasih karunia untuk transformasi (1)

Saat Teduh
Tanggal Jumat, 22 November 2019
Sebelumnya Kamis, 21 November 2019
Selanjutnya Sabtu, 23 November 2019

Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku... kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku. (1 Timotius 1:12, 14)

Kasih karunia Allah itu lebih “berlimpah-limpah” dibandingkan dengan dosa dan pelanggaran kita. Lebih “berlimpah-limpah” dari pada kelemahan kita. Lebih “berlimpah-limpah” dari pada yang dapat kita mengerti. Kasih karunia Tuhan itu lebih “berlimpah-limpah” untuk mengubah hidup kita secara radikal. Dalam sumber kekuatan Allah yang tak terbatas ini, ada kelimpahan kasih karunia untuk membuat sebuah transformasi. Rasul Paulus adalah kesaksian dari kasih karunia Allah yang mengubahkan ini. Tuhan membuat ia berubah dari seorang agamawi yang hidup dalam kesia-siaan menjadi seorang pelayan rohani.

Paulus sangat bersyukur untuk karya kasih karunia ini. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku." Tuhanlah yang memanggil dan menempatkan kita dalam pelayanan. Oleh karena itu, untuk setiap pelayanan yang kita lakukan, kita harus bersyukur kepada Tuhan. Paulus tahu bahwa pelayanannya didasari oleh kehendak Allah, bukan kehendak manusia. “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Galatia 1:1). Orang lain dapat mengerti dan meneguhkan panggilan dari Allah. “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat” (Galatia 2:9). Namun, penetapan panggilan kita datang dari Allah. “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru” (2 Timotius 1:11). Tidak seperti kebanyakan dari kita, Paulus diberitahu mengenai panggilannya sejak awal hidupnya sebagai orang percaya. “Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (Kisah Para Rasul 26:16). Panggilan ini merupakan panggilan dari Allah dan kepada Allah: “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu” (Kolose 1:25). “Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu” (Efesus 3:2).

Untuk menempatkan Paulus sebagai pelayan-Nya, Tuhan sendiri harus melakukan tindakan untuk meluruskan perilaku Paulus dan menjadikannya orang yang setia. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia." Kasih karunia Allah adalah sumber yang melimpah-limpah yang dapat melakukan transformasi bagi pelayanan kita. “kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku."

Doa

Tuhan, aku tahu bahwa firman-Mu mengajarkan bahwa semua anak-anak-Mu dipanggil untuk melayani. Kerjakanlah kasih karunia-Mu di dalam hatiku, mengajar aku, membangun imanku, meneguhkan panggilanku. Aku ingin menjadi pelayan-pelayan-Mu yang setia, sesuai dengan kasih karunia-Mu yang melimpah-limpah. Amin.