Menantikan Tuhan, mengharapkan Tuhan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Menantikan Tuhan, mengharapkan Tuhan

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 17 September 2019
Sebelumnya Senin, 16 September 2019
Selanjutnya Rabu, 18 September 2019

Dan aku hendak menanti-nantikan TUHAN yang menyembunyikan wajah-Nya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak mengharapkan Dia. (Yesaya 8:17)

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! (Mazmur 27:14)

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN! (Mazmur 31:25)

Hidup dengan menanti-nantikan Tuhan merupakan gambaran dari hidup dalam kasih karunia. Menantikan Tuhan memiliki kebenaran rohani yang sama dengan berharap kepada Tuhan. “Aku hendak menanti-nantikan TUHAN… aku hendak mengharapkan Dia.” Menantikan Tuhan bukanlah sekedar menunggu. Namun sebuah sikap yang dengan rendah hati menaruh pengharapan kita kepada Tuhan seiring dengan berjalannya waktu. Inilah hidup di dalam kasih karunia.

Menantikan Tuhan, yaitu berharap kepada Dia, diaplikasikan kepada setiap aspek hidup kita. Lebih dari itu, ada sebuah dampak yang indah dari mengharapkan Tuhan. “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” Ketika kita menaruh pengharapan kita kepada Tuhan, yaitu menantikan Dia untuk bekerja di dalam hidup kita, maka Ia akan memberikan kekuatan dan keteguhan di dalam batin kita.

Mereka yang menantikan Tuhan memiliki masa depan yang sangat berbeda dengan orang dunia dan orang-orang jahat. “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri” (Mazmur 37:9). “Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan” (Mazmur 37:34). Orang-orang fasik, yaitu mereka yang berbuat kejahatan, yang tidak tertarik kepada jalan keselamatan, pada akhirnya akan dilenyapkan. Pada saat mereka berusaha untuk membangun kerajaan duniawi mereka sendiri, mereka kehilangan segala-galanya. Mereka berpikir mereka dapat mengambil bagian dari dunia ini, yang sebenarnya milik dari Allah Pencipta. Pada akhirnya mereka akan kehilangan semuanya. Mereka akan terpisah dari segala kekayaan mereka, dan terpisah dari Allah yang menciptakan mereka. Sebaliknya, mereka yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi segala isi ciptaan dan bahkan persekutuan yang kekal dengan Yesus sang Juru Selamat.

Sungguh, “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:25). Oleh karena “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan” (Mazmur 130:7). Benar, “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mazmur 131:3).

Doa

Ya Allah Pencipta dan Penyelamatku, aku ingin hidup menanti-nantikan Engkau, mengharapkan Engkau. Aku semakin mengharapkan Engkau saat aku menanti-nantikan Engkau. Aku menantikan keberanian, kekuatan batin, kebaikan-Mu yang melimpah, warisan yang kekal dan lebih dari segalanya, persekutuan yang kekal bersama-Mu. Terpujilah nama-Mu! Amin.