Kasih karunia dan buah rohani (4)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Kasih karunia dan buah rohani (4)

Saat Teduh
Tanggal Rabu, 13 Februari 2019
Sebelumnya Selasa, 12 Februari 2019
Selanjutnya Kamis, 14 Februari 2019

Tetapi buah Roh ialah: … kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23)

Penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. (Filipi 1:11)

Pada saat Roh Kudus mencurahkan kuasa kasih karunia dalam hati kita, berbagai aspek dari buah rohani akan muncul melalui hidup kita. “Buah Roh ialah… kemurahan.” Kemurahan adalah kebaikan moral dan integritas yang diarahkan kepada orang lain. Kemurahan mengandung makna memberikan perhatian dan pertimbangan kepada orang lain, dan tidak bermaksud jahat kepada mereka. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:31-32).

“Buah Roh ialah… kebaikan.” Kebaikan mirip dengan karakter sebelumnya, kemurahan. Aspek tambahan dari kebaikan adalah tindakan perbuatan baik, menginginkan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan. Kedua karakter yang serupa ini merupakan tanda bahwa Allah memandang penting tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

“Buah Roh ialah… kesetiaan.” Kesetiaan berbicara mengenai tanggung jawab, loyalitas, dapat diandalkan dan konsisten. “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Korintus 4:2).

“Buah Roh ialah… kelemahlembutan.” Kelemahlembutan mengandung arti rendah hati dan sederhana. Yesus Kristus menggunakan nilai-nilai ini pada saat Ia mengatakan: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

“Buah Roh ialah… penguasaan diri.” Penguasaan diri dalam hal ini bukanlah pengekangan oleh kekuatan diri sendiri karena tidak sesuai dengan prinsip kasih karunia. Penguasaan diri hanya bisa terjadi pada saat Roh Kudus diizinkan untuk mengambil alih kehidupan kita.

Ketika kita mempelajari buah rohani, biasanya kita akan langsung teringat dengan karakter dari Tuhan Yesus Kristus. Hal ini memang sesuai dengan prinsip di mana buah rohani akan muncul pada saat kita tinggal di dalam Kristus, dan Dia di dalam kita. "Penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Saat kita mengandalkan Roh Kudus untuk mengimpartasikan kehidupan Tuhan Yesus Kristus ke dalam hidup kita, maka karakter Kristus akan muncul. Akibatnya nama Allah dipuji dan dimuliakan.

Doa

Tuhan Yesus Kristus, betapa aku rindu untuk menjadi serupa dengan Engkau. Saat Roh Kudus-Mu mengerjakan kuasa kasih karunia-Mu di dalam aku, maka karakter-Mu akan muncul dalam hidupku, dan nama-Mu saja yang dimuliakan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.