Kasih karunia dan perbuatan baik (1)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Kasih karunia dan perbuatan baik (1)

Saat Teduh
Tanggal Kamis, 14 Februari 2019
Sebelumnya Rabu, 13 Februari 2019
Selanjutnya Jumat, 15 Februari 2019

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1 Korintus 15:10)

Kasih karunia bukan saja cara Tuhan untuk menghasilkan buah rohani dalam hidup kita, tetapi juga untuk memunculkan perbuatan baik dalam hidup kita. Rasul Paulus menulis kesaksian yang kuat mengenai hal ini. Rasul Paulus adalah salah satu pemimpin gereja mula-mula yang melakukan lebih banyak perbuatan baik dari pada orang percaya lain. “Aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua.”

Tidak ada yang bekerja dalam pelayanan lebih keras dari Paulus. Dia berkeliling ke berbagai penjuru untuk mengabarkan Injil. Ia memuridkan mereka yang memilih untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan. Ia mengumpulkan orang-orang percaya tersebut ke dalam gereja-gereja, seringkali Ia menjadi gembala pertama di gereja-gereja tersebut. Lalu, ia akan menunjuk pemimpin baru bagi gereja-gereja tersebut dan mengunjungi mereka dalam waktu-waktu tertentu untuk melatih dan menjaga semangat mereka. Lebih dari itu, Rasul Paulus menulis sebagian besar dari Alkitab Perjanjian Baru, sering kali pada saat Ia dalam penjara.

Sungguh, Rasul Paulus “telah bekerja lebih keras.” Dalam suratnya yang lain ia menulis: “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku” (Kolose 1:29). Di suratnya yang lain ia juga mengatakan: “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu” (1 Tesalonika 2:9). Kepada orang percaya di Korintus Paulus menulis: “Apakah mereka pelayan Kristus? … Aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah… Dalam perjalananku… Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat…” (2 Korintus 11:23,26,27).

Namun mengejutkan untuk mengetahui bahwa bukan Rasul Paulus-lah yang menghasilkan perbuatan-perbuatan yang luar biasa tersebut. Rasul Paulus mengakui sendiri: “Tetapi bukannya aku.” Paulus mendorong dirinya sendiri dengan keras demi Injil Kristus. Lalu bagaimana mungkin seseorang yang sudah bekerja demikian keras tetapi mengatakan bahwa itu bukan dirinya sendiri? Jawabannya ada pada kalimat selanjutnya: “Tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Kasih karunia Allah yang bekerja dalam hidup Paulus adalah penyebab dari usaha dan pekerjaan pelayanan Paulus di dunia ini. “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” Pada saat kita menaruh iman percaya kita kepada Yesus, kasih karunia-Nya akan bekerja dalam hidup kita juga, sehingga kita bisa bersaksi seperti Paulus: “Kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.”

Jalan masuk kepada kasih karunia yang mengubahkan ini sekali lagi berhubungan erat dengan aspek iman dan kerendahan hati. Paulus dengan rendah hati mengakui: “Tetapi bukannya aku.” Rasul Paulus juga menyatakan imannya dengan kebenaran: “Melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Doa

Ya Tuhan sumber kasih karunia, aku berseru kepada Engkau untuk mengerjakan kasih karunia-Mu dalam hidupku, supaya menghasilkan perbuatan baik yang melimpah-limpah. Tuhan, aku rindu untuk bekerja melayani Engkau. Dan yang harus aku lakukan adalah percaya kepada Engkau dan mengandalkan Engkau saja, maka kasih karunia-Mu yang dianugerahkan kepadaku tidak akan sia-sia. Dengan segala kerendahan hati aku mengakui ketidakberdayaanku, dan dengan iman aku percaya kepada kasih karunia-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.