Dusta membawa aib
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 24 Oktober 2026 |
| Oleh | Dr Ir Anton Hendranata, MSi |
| Baca juga | |
| |
| |
Dusta mungkin terlihat seperti jalan cepat untuk menutupi kesalahan, tetapi pada akhirnya justru memperbesar aib dan menghancurkan kepercayaan. Kejujuran menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan kembali berjalan dalam kebenaran. Karena itu, bangunlah hidup, pekerjaan, dan pelayanan di atas integritas, bukan di atas kebohongan.
Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.
Dusta sering dipakai untuk menutupi kesalahan dan menghindari rasa malu. Fakta dipilih sesuai kepentingan, kenyataan yang memalukan disembunyikan, lalu kesalahan dilemparkan kepada orang lain. Bahkan, orang yang menjadi sumber masalah dapat tampil seolah-olah sebagai korban.
Namun dusta tidak pernah benar-benar menutupi aib. Semakin lama kebohongan dipertahankan, semakin besar akibatnya ketika kebenaran akhirnya terbongkar.
Alkitab memperlihatkan bahayanya melalui Yudas Iskariot, Ananias, dan Safira. Yudas dipercaya mengelola kas para murid, tetapi mengambil uang yang disimpan di dalamnya. Ananias dan Safira menyembunyikan sebagian hasil penjualan tanah, tetapi seolah-olah menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan.
Ketiganya menyalahgunakan kepercayaan dan menyembunyikan kebenaran demi kepentingan pribadi. Keuntungan yang mereka kejar hanya sesaat, sedangkan akibat yang harus ditanggung jauh lebih besar.
Hal serupa dapat terjadi dalam dunia ekonomi. Kebohongan tidak selalu disampaikan melalui perkataan, tetapi juga dapat disembunyikan di balik angka. Kerugian dicatat sebagai keuntungan, utang ditutupi, jumlah barang dilebihkan, atau biaya dibuat lebih kecil. Laporan akhirnya terlihat baik, padahal keadaan sebenarnya bermasalah.
Data ibarat kompas dalam sebuah perjalanan. Jika arahnya sengaja diubah, orang yang mengikutinya akan tersesat. Demikian pula ketika data dimanipulasi. Pimpinan dapat salah menyusun rencana, bank keliru memberikan pinjaman, investor menanamkan modal pada perusahaan bermasalah, bahkan kebijakan dapat dibuat berdasarkan informasi yang salah.
Kerusakan yang ditimbulkan tidak selalu selesai hanya dengan memperbaiki angka. Keputusan mungkin sudah dibuat, uang sudah dikeluarkan, dan banyak pihak telanjur dirugikan. Ketika kejujuran hilang, kepercayaan pun runtuh. Tanpa kepercayaan, hubungan rusak, kerja sama menjadi sulit, dan hidup kehilangan ketenangan.
Semakin lama seseorang berdusta, semakin sulit baginya kembali kepada kejujuran. Ia takut kehilangan nama baik dan tidak berani menghadapi akibat perbuatannya. Namun Tuhan tetap membuka jalan pertobatan bagi orang yang mau mengaku, memperbaiki kesalahan, dan kembali hidup dalam kebenaran.
Pada akhirnya, dusta akan kehabisan cerita dan angka palsu akan kehilangan tempat persembunyiannya. Kesalahan yang diakui masih dapat diperbaiki, tetapi kebohongan yang terus dipertahankan hanya akan memperbesar aib.
Karena itu, jangan membangun nama baik, usaha, atau masa depan di atas dusta. Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali, tetapi kepercayaan yang telah dihancurkan belum tentu mudah dipulihkan.
Tuhan memberkati.
Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata.

