Bagaikan bejana

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, hidup kita berada di dalam tangan Tuhan untuk dibentuk sesuai dengan rencana-Nya. Proses yang tidak nyaman dapat dipakai Tuhan untuk membersihkan, menguatkan, dan memperlengkapi kita menjadi pribadi yang semakin berguna. Karena itu, tetaplah percaya kepada Tuhan Sang Penjunan, sebab Ia sanggup memakai setiap proses untuk mendatangkan kebaikan.

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!” demikianlah firman TUHAN. “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”

— Yeremia 18:6

Kita ini seperti tanah liat yang siap dibentuk menjadi bejana. Ada beberapa proses dalam pembuatan bejana dari tanah liat yang dapat kita analogikan dengan proses kerohanian dalam hidup kita.

  1. Mengeluarkan gelembung udara
  2. Gelembung udara yang masih tersisa di dalam tanah liat dapat memuai ketika dipanaskan atau dibakar, sehingga merusak bentuk dan menimbulkan keretakan. Karena itu, tanah liat perlu diinjak-injak atau dipres supaya gelembung tersebut keluar.

    Kita dapat mengibaratkan gelembung-gelembung itu sebagai hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan di dalam hidup kita: sakit hati, amarah, dendam, kekecewaan, ketakutan, iri hati, kesombongan, dan hal-hal lainnya. Melalui keadaan yang Tuhan izinkan, semuanya itu dibersihkan dari hidup kita.
  3. Dibentuk di atas meja putar
  4. Tanah liat kemudian diletakkan di atas roda atau meja putar dan dibuat berada tepat di tengah. Setelah itu, tanah liat mulai dibentuk sesuai dengan keinginan sang pembuat.

    Demikian juga kita. Tuhan membentuk setiap kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Ada yang dipakai sebagai pemuji dan penyembah, usher, pendoa, atau dalam berbagai bentuk pelayanan lainnya.

    Yang penting adalah kita tetap berada di dalam tangan Tuhan dan membiarkan Dia membentuk hidup kita sesuai kehendak-Nya.
  5. Ditambahkan bagian-bagian yang diperlukan
  6. Dalam proses pembuatan bejana, terkadang ditambahkan pegangan atau hiasan lain supaya bejana menjadi lebih lengkap dan berguna.

    Demikian juga dalam hidup kita, Tuhan dapat membawa kita melalui proses untuk menambahkan talenta dan kemampuan yang baru. Ada kemampuan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan, tetapi Tuhan berikan supaya hidup kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

    Semakin kita bersedia diproses Tuhan, semakin kita dapat diperlengkapi untuk dipakai sesuai dengan tujuan-Nya.
  7. Mengurangi kadar air
  8. Tanah liat perlu dikeringkan terlebih dahulu. Jika kadar airnya terlalu tinggi ketika masuk ke dalam pembakaran, bejana bisa retak atau rusak.

    Dalam kehidupan rohani, ada kalanya Tuhan mengizinkan kenyamanan kita berkurang. Kita dibawa masuk ke dalam proses supaya tidak terus bergantung kepada keadaan yang nyaman, tetapi semakin bergantung kepada Tuhan.
  9. Melewati proses pembakaran
  10. Bejana kemudian dipanaskan dalam suhu yang sangat tinggi supaya menjadi kuat.

    Demikian juga dalam hidup dan pelayanan. Ada kalanya kita mengalami gesekan, keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan situasi yang membuat kita marah atau merasa tidak nyaman. Namun proses itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk ketekunan dan kekuatan di dalam diri kita.

    Yang penting adalah kita tetap tinggal di dalam tangan Tuhan dan tidak menyerah ketika proses terasa berat.
  11. Mengalami masa pendinginan
  12. Setelah dibakar, bejana perlu mengalami proses pendinginan. Proses ini membutuhkan waktu sebelum masuk ke tahap berikutnya.

    Dalam kehidupan kita juga ada masa ketika seolah-olah Tuhan membawa kita masuk ke dalam keheningan. Mungkin kita merasa sendiri atau seakan-akan tidak banyak yang terjadi. Namun masa seperti ini bukan berarti Tuhan berhenti bekerja.

    Ada kalanya Tuhan memakai masa tenang untuk mempersiapkan kita bagi proses dan tanggung jawab berikutnya.
  13. Disempurnakan menjadi bejana yang indah
  14. Pada tahap akhir, bejana diberi lapisan yang membuatnya semakin indah dan berkilau, kemudian kembali melalui proses pembakaran supaya hasilnya semakin sempurna.

    Demikian juga Tuhan terus menyempurnakan hidup kita. Setiap tahap memiliki tujuan. Ada proses pembersihan, pembentukan, penguatan, bahkan proses yang terasa berat, tetapi semuanya berada di dalam tangan Sang Penjunan.

Pada akhirnya kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan setiap proses dalam hidup kita

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Amin.

Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan Mu.

— Yesaya 64:8