Pedang bagi Tuhan, pedang bagi Gideon

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Tahun Ibrani 5787 — Pey Zayin dapat dipahami sebagai sebuah musim untuk semakin menyelaraskan hidup dengan kehendak Tuhan dan masuk dalam agenda-Nya. Pey, yang secara simbolik dikaitkan dengan mulut, mengingatkan umat Tuhan untuk menjaga perkataan dan memperkatakan Firman dengan benar; sedangkan Zayin, yang dikaitkan dengan pedang, mengingatkan bahwa Firman Tuhan adalah senjata rohani untuk menghadapi peperangan, menegakkan kebenaran, dan melakukan kehendak-Nya (Efesus 6:17; Ibrani 4:12).

Karena itu, Pey Zayin bukan sekadar berbicara tentang apa yang keluar dari mulut kita, tetapi tentang hati yang telah diselaraskan dengan Tuhan sehingga perkataan dan kehidupan kita menjadi alat bagi pekerjaan Roh Kudus.

Dalam semangat Amanat Agung, tahun ini menjadi momentum untuk hidup semakin intim dengan Tuhan, semakin peka terhadap suara Roh Kudus, semakin tunduk kepada Firman, dan semakin berani menjadi saksi Kristus.

Dengan demikian, "pedang" bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan Firman yang menundukkan kita terlebih dahulu, memurnikan hati, mempertajam ketaatan, dan kemudian memperlengkapi kita untuk menjalankan mandat Tuhan.

"Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!" (Hakim-hakim 7:18, 20)

Kisah Gideon bukan terutama kisah tentang bagaimana tiga ratus orang mengalahkan pasukan Midian yang jauh lebih besar. Ini adalah kisah tentang bagaimana Tuhan membentuk hati umat-Nya agar mereka memahami satu hal: kemenangan berasal dari Tuhan, bukan dari kekuatan manusia.

Sebelum peperangan dimulai, Tuhan mengurangi pasukan Gideon dari 32.000 menjadi hanya 300 orang. Alasannya sangat jelas: Supaya orang Israel jangan memegahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku (Hakim-hakim 7:2). Tuhan sengaja membuat manusia tidak mempunyai alasan untuk mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri.

Di sinilah kita belajar tentang kerendahan hati. Rendah hati bukan berarti merasa tidak mampu atau tidak berharga. Kerendahan hati adalah menyadari bahwa apa pun yang dapat kita lakukan pada akhirnya bergantung pada pertolongan dan anugerah Tuhan.

Kita boleh memiliki talenta, pengalaman, jabatan, sumber daya, dan kemampuan, tetapi semuanya adalah alat di tangan Tuhan. Semakin Tuhan memakai kita, semakin besar alasan kita mengembalikan kemuliaan kepada-Nya.

Namun ada hal kedua yang tidak kalah penting: ketundukan pada otoritas. Gideon berkata kepada pasukannya, Perhatikanlah aku dan lakukanlah seperti yang kulakukan (Hakim-hakim 7:17). Mereka mengikuti instruksi Gideon karena Gideon sendiri berada di bawah otoritas Tuhan.

Prinsipnya sederhana: otoritas yang sehat lahir dari ketundukan kepada otoritas yang lebih tinggi. Dalam kehidupan gereja, kita tidak dipanggil menjadi orang yang individualistis: "saya hanya mau dengar Tuhan" seolah-olah kita tidak membutuhkan kepemimpinan dan komunitas.

Roh Kudus bekerja dalam tubuh Kristus dan juga melalui pemimpin yang Tuhan percayakan. Namun setiap otoritas manusia tetap harus tunduk kepada Kristus dan Firman-Nya.

Yang ketiga adalah ketaatan radikal. Strategi Tuhan sangat tidak biasa: meniup sangkakala, memecahkan buyung, mengangkat suluh, dan berseru. Tiga ratus orang hanya melakukan apa yang diperintahkan. Lalu Hakim-Hakim 7:22 mengatakan bahwa TUHAN-lah yang mengacaukan pasukan Midian.

Inilah prinsip kehidupan rohani: kita melakukan bagian kita; Tuhan melakukan apa yang menjadi bagian Tuhan. Ketaatan tidak selalu berarti kita memahami seluruh rencana-Nya. Kadang Tuhan hanya meminta kita mengambil langkah pertama. Karena itu, “Pedang bagi TUHAN dan pedang bagi Gideon” harus menjadi sikap hati kita.

Pedang bagi TUHAN berarti Tuhanlah sumber kemenangan dan kemuliaan. Pedang bagi Gideon berarti Tuhan dapat bekerja melalui otoritas yang Ia tetapkan. Dan bagi kita, panggilannya adalah rendah hati, tunduk, dan taat.

Ketika gereja memiliki hati seperti ini, kita tidak lagi sibuk membangun nama sendiri. Kita menjadi umat yang siap dipakai Tuhan untuk menjalankan agenda-Nya dan menyelesaikan Amanat Agung.

Kerendahan hati membuat kita memberikan kemuliaan kepada Tuhan. Ketundukan membuat kita dapat berjalan dalam otoritas yang benar. Ketaatan radikal membuat kita berani melangkah ketika Tuhan berkata, "Pergilah." (DL)

Pey Zayin bukan sekadar berbicara tentang apa yang keluar dari mulut kita, tetapi tentang hati yang telah diselaraskan dengan Tuhan sehingga perkataan dan kehidupan kita menjadi alat bagi pekerjaan Roh Kudus.