Mengikut Yesus dengan menyangkal diri
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 13 April 2026 |
| Penulis | Sub Divisi Profetik |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku"
Di tengah dunia yang sibuk mengajarkan "kejarlah segala keinginanmu" dan "halalkan segala cara untuk mencapai ambisimu," Yesus justru menberikan pernyataan yang kontras dalam Lukas 9:23 Untuk mengikut Yesus kita harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari.
Yesus tidak menawarkan kemudahan atau popularitas, tapi Dia rindu untuk kita melakukan sama seperti yang Dia lakukan, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
Dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, catatan untuk Lukas 9:23 menjelaskan bahwa menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat tidak hanya menuntut percaya akan kebenaran Injil, tetapi juga menyerahkan diri kita untuk mengikuti Dia dengan pengorbanan.
Pilihan antara menyangkal diri atau hidup untuk keinginan kita yang mementingkan diri sendiri, harus dibuat setiap hari. Pilihan itu akan menentukan nasib akhir kita. Jika kerinduan kita adalah hidup kekal bersama Yesus dalam kerajaan sorga, maka kita harus mengikutNya dengan cara menyangkal diri dan memikul salib.
Menyangkal diri bukan berarti kita tidak boleh punya mimpi atau tidak boleh menikmati hidup. Hal itu justru berarti kita belajar melepaskan 'kemauan kita' agar rencana Tuhan yang lebih besar terjadi dalam hidup kita. Dunia mungkin melihat ini sebagai kehilangan kebebasan, namun bagi orang percaya inilah jalan yang membawa kita semakin serupa dengan gambaran-Nya.
Sama seperti yang Yesus lakukan saat di taman Getsemani dalam Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Yesus menyangkal diriNya dan taat memikul salib sampai mati terhina di kayu Salib.
Penyangkalan diri Yesus inilah yang membawa kemenangan besar bagi kita, yaitu keselamatan yang kekal di dalam nama-Nya. Saat kita tidak mampu lagi berjalan, pandanglah Dia yang telah menanggung salib yang yang lebih hina untuk menyelamatkan kita. Kasih-Nya yang besar itulah yang menjadi kekuatan kita untuk tetap taat dan setia kepada-Nya.
Pada akhirnya, Yesus tidak meminta kita menyangkal diri demi menghancurkan kita, melainkan untuk mengosongkan diri kita agar Dia dapat mengisi kita dengan segala yang baik daripada-Nya.
Di balik penyangkalan diri, ada Karakter Kristus yang bercahaya dan di balik pikul salib, ada kemuliaan yang kekal menanti kita. Tetaplah setia pada Tuhan Yesus.
Menyangkal diri bukan berarti kita tidak boleh punya mimpi atau tidak boleh menikmati hidup. Hal itu justru berarti kita belajar melepaskan 'kemauan kita' agar rencana Tuhan yang lebih besar terjadi dalam hidup kita.