Iman yang diteruskan kepada generasi berikut

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Banyak keluarga Kristen berhasil melahirkan anak secara biologis, tetapi gagal melahirkan iman secara rohani kepada generasi penerusnya. Alkitab dengan tegas menunjukkan bahwa iman tidak diwariskan secara otomatis, melainkan diteruskan secara disengaja, relasional, dan penuh urapan Roh Kudus.

Bacaan: 2 Timotius 1:5-6 ; Amsal 22:6

Pendahuluan

Banyak keluarga Kristen berhasil melahirkan anak secara biologis, tetapi gagal melahirkan iman secara rohani kepada generasi penerusnya. Alkitab dengan tegas menunjukkan bahwa iman tidak diwariskan secara otomatis, melainkan diteruskan secara disengaja, relasional, dan penuh urapan Roh Kudus. Dalam 2 Timotius 1:5 (TB2) Rasul Paulus menulis kepada Timotius bahwa iman bisa diteruskan, tetapi bukan melalui genetika melainkan melalui keteladanan, pengajaran, dan impartasi rohani. Sebagai insan pentakosta, iman bukan hanya doktrin yang diajarkan, tetapi kehidupan rohani yang dihidupi, disertai urapan Roh Kudus. Paulus tidak berhenti pada iman Timotius, tetapi melanjutkan dengan perintah: Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah, yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. (2 Timotius 1:6 TB2). Ini menunjukkan bahwa iman dan karunia harus diaktifkan secara sadar. Warisan rohani tanpa aktivasi akan menjadi potensi yang mati.

Isi dan sharing

Ada tiga hal yang akan kita renungkan dan pelajari bersama terkait dengan bagaimana kita dapat meneruskan iman kepada generasi yang berikutnya:

  1. Iman diteruskan melalui keteladanan yang terlihat
  2. Banyak orang tua dan pemimpin rohani berharap generasi berikut percaya karena mendengar firman bukan hal yang salah, namun Alkitab menunjukkan iman sering kali ditangkap melalui pengamatan hidup. Lois dan Eunike tidak dicatat sebagai pengkhotbah besar, tetapi iman mereka "hidup" (Yunani: enoikéō – tinggal menetap). Artinya, iman itu berdiam, konsisten, dan nyata. Yesus sendiri berkata, Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya... (Matius 7:24). Iman yang tidak kelihatan dalam keseharian tidak akan berbekas dalam ingatan rohani anak anak. Apa yang lebih sering dilihat generasi setelah kita: doa kita atau emosi kita? Anak-anak jasmani dan anak-anak rohani lebih mengingat cara kita menghadapi masalah daripada khotbah kita. Urapan lebih mudah ditransfer melalui kehidupan daripada pengajaran semata.
  3. Iman diteruskan dengan mengobarkan api dalam diri anak-anak
  4. Paulus tidak berkata kepada Timotius, "pelajari iman itu," tetapi "kobarkan" (anazōpureō – menyalakan kembali api). Ini berarti: api rohani bisa padam, warisan rohani bisa menjadi pasif dan iman bisa berubah menjadi sekedar tradisi tanpa kuasa. Amsal 22:6 berkata, Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya... Kata "didiklah" (ḥānak) berarti mendedikasikan, mempersembahkan, melatih secara intensional, bukan sekadar menginformasikan. Iman tidak cukup diwariskan sebagai pengetahuan, tetapi harus ditransfer sebagai api. Itu sebabnya, pastikan kita sebagai orang tua penuh dengan Roh Kudus dan memiliki kasih yang senantiasa berkobar-kobar kepada Tuhan (on fire), serta memastikan anak-anak kita penuh Roh Kudus, dibaptis Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh. Pertanyaan yang patut direnungkan adalah: Apakah kita memberi ruang bagi generasi berikut untuk mengalami Roh Kudus, bukan hanya mendengar tentang-Nya? Apakah mereka hanya tahu doktrin, atau pernah menangis, berserah, dan dipulihkan di hadirat Tuhan? Ciri pentakostal sejati adalah iman yang hidup selalu disertai api, bukan sekadar struktur.
  5. Warisan rohani harus disengaja, bukan sekedar diharapkan
  6. Kesalahan umum orang percaya adalah berharap iman "akan tumbuh dengan sendirinya." Alkitab justru menekankan kesengajaan lintas generasi. Ulangan 6:6–7 berkata, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini... haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu, dan membicarakannya..." Ini adalah iman yang dibicarakan, diulang-ulang dan dihidupi dalam ritme hidup sehari-hari. Dalam surat Paulus kepada Timotius, kita melihat pola ini: Apa yang telah engkau dengar dariku… percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai... (2 Timotius 2:2) TB2. Iman yang tidak disengaja akan terhenti pada satu generasi. Pertanyaan yang patut direnungkan sekarang adalah: Siapa "Timotius" yang sedang kita siapkan hari ini? Jika pelayanan kita berhenti hari ini, apakah iman akan terus hidup? Sadarilah bahwa gereja yang besar bukan hanya yang ramai sekarang, tetapi yang tetap hidup 20-30 tahun ke depan.

Pertanyaan diskusi

  1. Tetapkan waktu rohani sederhana namun konsisten (5–10 menit): Doa bersama sebelum tidur, membaca satu perikop/pasal per hari disertai dengan satu kalimat refleksi (perenungan) lalu doa singkat mendoakan kebutuhan anggota keluarga. Jangan lupa libatkan semua generasi (anak, remaja, dewasa), bukan hanya orang tua yang bicara.
  2. Beri kesempatan nyata kepada generasi muda untuk: Memimpin doa di rumah atau COOL, melayani (musik, doa, multimedia, sosial), bersaksi tentang pengalaman mereka dengan Tuhan.

Kesimpulan dan saling mendoakan

Sebagai insan pentakosta, kita percaya bahwa Allah adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah lintas generasi. Tetapi setiap generasi harus mengalami Allah secara pribadi, bukan hanya mewarisi cerita. Mazmur 78:6 TB2, ...supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka.

Jadwal

  • 06 Feb: Materi COOL 1
  • 13 Feb: Materi COOL 2
  • 20 Feb: Materi COOL 3
  • 27 Feb: Doa keliling