Rumah tangga yang dikuasai Roh Kudus

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kasih karunia Kristus dan pencurahan Roh Kudus bukan hanya untuk orang-orang Yahudi yang percaya kepada Kristus, tetapi untuk semua orang dari berbagai suku dan bangsa yang mau datang kepada-Nya.

Bacaan: Kisah 10:44-48; Mazmur 128

Pendahuluan

Salah satu peristiwa terindah dan berpengaruh besar yang dicatat oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul adalah pencurahan Roh Kudus atas Kornelius dan keluarganya, dalam pasal 10.

Mengapa peristiwa ini indah dan penting?
Karena melalui peristiwa ini dan beberapa kesaksian yang serupa di waktu dan tempat yang berbeda, Roh Kudus memberi pengertian kepada Gereja mula-mula, bahwa kasih karunia Kristus dan pencurahan Roh Kudus terbuka dan tersedia bagi semua bangsa-bangsa yang mau datang kepada Kristus. Pemahaman para Rasul dan jemaat pada waktu itu: kasih karunia dan pencurahan Roh Kudus hanya tersedia bagi bangsa Yahudi. Apabila ada bangsa lain yang juga ingin mendapatkannya maka mereka harus dikonversi terlebih dahulu menjadi pengikut Yudaisme.

Namun peristiwa Kornelius dan keluarganya yang juga menerima pencurahan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh/lidah (Kisah 10:44-47), menunjukkan bahwa kasih karunia Kristus dan pencurahan Roh Kudus bukan hanya untuk orang-orang Yahudi yang percaya kepada Kristus, tetapi untuk semua orang dari berbagai suku dan bangsa yang mau datang kepada-Nya.

Peristiwa Kornelius menjadi pemicu penting terjadi perubahan pandangan akan hal ini (Kisah 11:16-17), yang nantinya akan berpuncak pada sidang di Yerusalem pada pasal 15 (Kisah 15:6-9).

Isi dan sharing

Hari ini kita akan membahas beberapa hal yang menjadi kunci yang mungkin kerap kita lewatkan saat kita membaca kisah Kornelius ini, yaitu bahwa rumah tangga (keluarga) yang percaya kepada Kristus perlu dipenuhi oleh Roh Kudus. Mengapa?

  1. Roh Kudus memberikan kejelasan (clarity) terhadap pemahaman Alkitabiah yang seringkali justru kita pahami dengan bias.
  2. Kornelius, yang sudah jelas dikatakan bahwa ia dan keluarganya takut/hormat dan menyembah Allah Israel, masih dicap sebagai "orang tidak bersunat" (Kisah 10:28; Kisah Para Rasul 11:3). Namun Roh Kudus dengan lembut tapi tegas mengajar Petrus bahwa dia tidak boleh membeda bedakan orang-orang berdasarkan kesukuan dan kebangsaan mereka.

    Roh Kudus memberi pengertian kuat tentang hal ini ketika Kornelius dan rumah tangganya pun mengalami pencurahan Roh Kudus, persis seperti yang Petrus dan keenam orang yang bersamanya juga dapatkan saat mereka di loteng atas di Yerusalem (Kisah 2:1-4; 11:12).

    Bahasa lidah menjadi verifikasi yang jelas bahwa Roh Kudus yang sama ada pada Kornelius dan seisi rumah tangganya, sehingga tidak ada alasan bagi Petrus untuk tidak melakukan baptisan dan menyambut mereka dalam bilangan jemaat orang percaya. Kehadiran Roh Kudus membebaskan pemahaman mereka yang sempit itu.

    Bagaimana dengan rumah tangga kita sendiri? Apakah ada bias atau pemahaman yang selama ini keluarga kita pegang dengan kuat? Kita perlu Roh Kudus untuk mengajar kita dan menguji apakah yang kita pegang dan pahami selama ini adalah seperti yang Allah ajarkan dan kehendaki.

    Pemahaman dan bias yang tidak dalam terang Roh Kudus, justru akan membatasi dan menghambat untuk Allah memperluas cakrawala pemahaman, kehidupan sehari-hari dan pelayanan kita. Untuk rumah tangga kita bisa bergerak naik maju dan bertumbuh secara dewasa, rumah tangga kita butuh Roh Kudus mengajar dan memberi kejelasan pemahaman.
  3. Roh Kudus menuntun rumah tangga sejauh penghormatan yang diberikan kepada-Nya oleh pemimpin/pemegang otoritas dalam rumah tangga tersebut.
  4. Petrus, sebagai kepala rumah tangga de-facto dari jemaat mula-mula, dan Kornelius, kepala rumah tangga dari sebuah keluarga Romawi, keduanya berbeda secara suku bangsa dan bahasa. Namun keduanya memiliki kesamaan yang kuat: penghormatan dan penyembahan kepada Allah Israel.

    Penghormatan dan pengagungan yang tinggi itulah yang membuka jalan bagi Roh Kudus untuk membimbing dan menuntun kedua kepala keluarga ini bertemu dan Roh Kudus bergerak kepada masing-masing rumah tangga.

    Yang kita pelajari dalam kisah ini, bahwa ketika seorang kepala rumah tangga memimpin rumah tangganya untuk takut dan hormat akan Tuhan, maka berkat, tuntunan, dan kejelasan dari Allah akan ada pada mereka. Perjanjian Lama, seperti tertulis pada Mazmur 128, sudah menegaskan hal ini.

    Petrus dan Kornelius memberi penempatan penghormatan yang luar biasa kepada Allah Israel, yang Petrus jelaskan kepada Kornelius bahwa Allah itu telah datang dalam Kristus Yesus. Kornelius dan rumah tangga yang dipimpinnya mengalami Mazmur 128:5, "kebahagiaan Yerusalem", yaitu sebagaimana Roh Kudus dicurahkan di Yerusalem, maka terjadi pula di rumahnya di Kaisarea.

    Keluarga kita perlu menempatkan Yesus Kristus pada penghormatan dan penyembahan tertinggi dan satu-satunya dalam rumah tangga kita. Pencurahan Roh Kudus yang terjadi di Yerusalem dan Kaisarea, juga bisa terjadi dimanapun rumah tangga kita berada. Allah mau dan rindu untuk hal ini terjadi, asalkan hati kita pun menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam rumah tangga kita.

Pertanyaan diskusi

  1. Apakah dalam segala hal, rumah tangga kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang utama, satu-satunya dalam keluarga kita?
  2. Jika ayah/suami dalam keluarga seperti "adem-adem" secara rohani, apa yang seorang ibu/istri perlu lakukan dari sisi rohani? Alternatif situasi: bagaimana ayah dan ibu sama-sama "adem-adem" secara rohani, apa yang perlu seorang anak lakukan dari sisi rohani?

Kesimpulan dan saling mendoakan

Memahami akan kedua hal diatas, mari kita berjanji kepada Tuhan bahwa rumah tangga kita akan selalu dikuasai dan bimbing oleh Roh Kudus. Bagian kita adalah tetap setia berdoa memuji-menyembah Dia dalam Roh, termasuk banyak berdoa dalam bahasa Roh, tetap setia membaca dan mempelajari firman Tuhan dalam terang dan tuntunan Roh Kudus, dan tetap setia dituntun dalam segala hal oleh Roh Kudus. Amin.

Jadwal

  • 06 Feb: Materi COOL 1
  • 13 Feb: Materi COOL 2
  • 20 Feb: Materi COOL 3
  • 27 Feb: Doa keliling