Ekspresi iman melalui penggunaan keuangan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kita akan belajar dari apa yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai hal tersebut. Dari sudut praktikal, "pertarungan" utama dalam kehidupan orang percaya bukanlah kekuatan roh jahat versus kekuatan Roh, tetapi apakah uang ("mamon") atau Tuhan yang mendapat tempat terutama dalam hidup kita.

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Matius 6:24 (TB2)

Pendahuluan

Sebagai orang percaya, ada banyak cara untuk kita mengekspresikan iman kita kepada Tuhan. Kita bisa menyatakannya melalui pujian-penyembahan, melalui melayani sesama dan juga melalui bagaimana kita menggunakan keuangan kita. Bagaimana kita mencari, mengelola, menyimpan dan membelanjakan uang kita, akan menunjukkan siapa atau apa yang sesungguhnya menjadi subyek iman dalam hidup kita. Minggu ini kita akan belajar dari apa yang Tuhan Yesus ajarkan mengenai hal tersebut. Dari sudut praktikal, "pertarungan" utama dalam kehidupan orang percaya bukanlah kekuatan roh jahat versus kekuatan Roh, tetapi apakah uang ("mamon") atau Tuhan yang mendapat tempat terutama dalam hidup kita. Tuhan Yesus mengajar dalam Matius 6:24. Jika dibandingkan kekuatan, maka kekuatan roh jahat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Roh Tuhan. Tetapi siapa yang akan dijadikan yang terutama dalam hidup kita, bukanlah siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang akan ditempatkan pada nomor satu dalam hidup kita. Pertarungan untuk ditempatkan pada posisi teratas dalam hidup kita adalah antara Tuhan dan uang, dan itu tergantung pada pilihan yang kita ambil.

Isi dan sharing

  1. Mat 6:19-21 Pilihlah sesungguhnya hatimu berada di mana
  2. Tuhan Yesus mengajar bahwa hati kita akan selalu melekat kepada apa yang kita pandang sebagai "harta." Ya, di dunia ini kita membutuhkan harta-benda untuk keberlangsungan hidup kita: untuk makan, minum, membangun rumah, menyekolahkan anak, bila keadaan sakit, berlibur dan lain sebagainya. Kita membutuhkan uang untuk semua hal tersebut. Tetapi, apakah dengan demikian kita perlu menempatkan uang sebagai prioritas utama dalam hidup kita? Sekalipun uang penting dan dibutuhkan, jangan kita menempatkannya sebagai yang utama. Banyak orang yang justru jatuh ke dalam berbagai masalah karena menempatkan uang sebagai yang utama dan bahkan menjadikan fokus hidup. Banyak orang yang sepertinya spiritual dan agamais, padahal motivasinya adalah untuk mencari berkat/uang semata dari ilah yang mereka sembah. Tidak sedikit pula kita tahu ada orang-orang yang menyebut dirinya "kristen" tetapi kemudian tidak lagi menyembah Kristus karena kecewa Allah tidak selalu memberi berkat keuangan yang mereka harapkan. Dari hal-hal semacam ini, kita bisa menyimpulkan bahwa hati mereka bukanlah kepada Allah, tetapi kepada uang dan harta-benda. Allah tidak dipandang sebagai harta yang termulia, melainkan hanya sebagai salah satu sumber harta. Bagaimana kita memandang uang, baik cara untuk mendapatkan maupun menggunakannya, apabila diatas kecintaan hati kepada Tuhan Yesus, menunjukkan dimana hati kita sesungguhnya berada. Orang yang memandang keberadaan Tuhan Yesus dalam dirinya sebagai harta yang paling berharga, maka ia pasti juga akan mengikuti hikmat Roh Kudus dan pengajaran Alkitab tentang bagaimana mengelola dan menggunakan keuangan dengan bijak. Tuhanlah yang menjadi tolak ukur penggunaan uang, dan bukan keberadaan uang itu sendiri yang menjadi ukurannya.
  3. Mal 3:6-12 Pilihlah kepada siapa uangmu untuk pertama kali engkau perbelanjakan
  4. Suka atau tidak suka, membahas mengenai keuangan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari bahasan persepuluhan. Akhir-akhir ini banyak yang mengklaim bahwa apa yang dikatakan Maleakhi ini sudah tidak berlaku karena taurat atau hanya berlaku untuk para imam pada zaman itu. Benarkah kedua pendapat tersebut? Jawabannya: salah.

    • Tuhan Yesus meneguhkan perihal persepuluhan tetap berlaku melalui teguran dan pengajaran-Nya (Matius 23:23 ; Lukas 11:42). Paulus pun mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Imam menurut aturan Melkisedek (Ibranni 5:5-6) yang implikasinya adalah Dia berhak menerima persepuluhan dari umat-Nya (Kejadian 14:18-20).
    • Perjanjian baru justru menegaskan karena kita ada di dalam keselamatan Kristus, kita pun sekarang adalah "imam-imam" (1 Petrus 2:5,9 ; Wahyu 1:6). Dengan demikian kita harus memberikan bagian persepuluhan kita kepada Allah melalui gereja-Nya.

Pembelanjaan atau alokasi pertama dari penggunaan keuangan kita, atau dengan kata lain kepada siapa kita gunakan harta keuangan kita, menunjukkan siapa atau apa yang terutama dalam hidup kita. Jika yang terutama adalah uang itu sendiri, tentu tidak akan diberikan kepada siapapun. Jika yang terutama adalah diri sendiri atau orang lain, tentu kepada diri sendirilah atau orang lain uang itu akan kita gunakan untuk pertama kali. Jika Tuhan yang utama dan pertama dalam hidup kita, maka tentu kepada Dialah pertama kali akan kita berikan uang kita. Prinsip ini simple dan logis. Hal yang harus diingat dalam memberi kepada Tuhan adalah prinsip yang tertulis dalam 2 Korintus 9:7

Pertanyaan diskusi

Sudahkah penggunaan dan pengelolaan keuanganmu hari ini mencerminkan atau sejalan dengan kedekatan/keintiman hatimu dengan Kristus?

Kesimpulan dan saling mendoakan

Dari ayat ini kita belajar, bahwa memberi kepada Allah menjadi "barometer" untuk mengukur seberapa rela hati (kedekatan hati) kita dengan Tuhan. Kita memberi terutama bukan karena dipaksa, tetapi karena hati kita terpaut kepadanya. Kita tidak memberi dengan sedih atau berasa berat, tetapi dengan sukacita. Bagaimana kita mengelola keuangan kita adalah kadar ekspresi iman kita kepada Allah. Amin.

Jadwal

  • 06 Mar: Materi COOL 1
  • 13 Mar: Materi COOL 2
  • 17 Mar: Doa keliling
  • 27 Mar: Doa keliling