Perhatikanlah perkataanmu

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Perkataan kita memiliki kuasa untuk membawa kehidupan atau kehancuran. Hati yang bersih akan menghasilkan kata-kata yang membangun dan menyembuhkan. Jagalah lidah, karena melalui perkataan kita, karakter Kristus dapat nyata atau justru ternodai.

Kita harus menjaga setiap perkataan kita, karena perkataan mengandung kuasa. Setiap hari kita berbicara—kepada pasangan, anak, orang tua, rekan pelayanan, jemaat, bahkan kepada Tuhan dalam doa. Kita juga berbicara kepada diri kita sendiri. Semua perkataan itu membawa dampak.

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya.

Amsal 18:21

Artinya, setiap perkataan menghasilkan buah. Ada perkataan yang menghasilkan kehidupan, tetapi ada juga yang menghasilkan kehancuran. Allah sendiri menciptakan segala sesuatu melalui Firman-Nya.

Di dalam kitab Kejadian, setiap kali Allah berfirman, maka terjadilah demikian.

Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. (Ibrani 11:3)

Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Maka perkataan kita pun memiliki kuasa untuk membangun atau meruntuhkan.

Sebagai orang tua, kita harus memperhatikan perkataan kepada anak-anak, karena itu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan masa depan mereka. Perkataan seorang pemimpin pun dapat membangkitkan semangat atau justru mematikan harapan.

Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. (Amsal 12:18)

Pedang melukai tubuh, tetapi kata-kata dapat melukai jiwa. Luka tubuh bisa sembuh, tetapi luka karena perkataan bisa membekas bertahun-tahun.

Perkataan berasal dari hati. Jika hati penuh kepahitan dan iri hati, maka yang keluar pun adalah kritik yang meruntuhkan. Tetapi bila hati bersih, maka perkataan pun membangun.

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Mazmur 51:12)

Lidah memang kecil, tetapi dampaknya besar, seperti api kecil yang dapat membakar hutan yang luas. Bahkan perkataan kepada diri sendiri harus diperhatikan. Jangan mengutuki diri dengan kata-kata negatif.

Bangsa Israel pernah berkata bahwa lebih baik mereka mati di padang gurun—dan itu terjadi. Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan: apakah ini benar, perlu, dan membangun? Jika tidak, lebih baik diam.

Amin.