Jangan menoleh ke belakang

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Setiap orang pada umumnya pernah berada di persimpangan jalan di dalam hidupnya, yaitu antara masa lalu yang familiar dan masa depan yang belum pasti. Banyak orang yang ingin berubah, ingin keluar dari pola hidup yang merusak, namun tidak sedikit yang akhirnya gagal karena hatinya masih tertambat pada apa yang seharusnya ditinggalkan.

Ada sebuah data yang menunjukkan bahwa kebiasaan lama dan keterikatan emosional yang dalam akan masa lalu, adalah salah satu faktor utama penyebab kegagalan untuk mengalami perubahan hidup dalam jangka panjang. Bukan karena seseorang tidak tahu mana yang salah, tetapi karena ia sulit melepaskan apa yang pernah memberi rasa aman.

Alkitab mencatat bahwa Lot dan keluarganya diselamatkan, namun bukan karena kelayakan mereka, melainkan karena belas kasihan Tuhan.

Di tengah proses penyelamatan itu, istri Lot melakukan satu tindakan kecil yang berakibat fatal yaitu ia menoleh ke belakang. Kisah ini bukan hanya sekedar catatan sejarah, melainkan peringatan rohani yang dalam bagi setiap kita.

Menoleh ke belakang bukan hanya gerakan fisik, tetapi mencerminkan hati yang masih terikat. Sodom mungkin sudah ditinggalkan oleh kaki istri Lot, namun belum sepenuhnya ditinggalkan oleh hatinya.

Pertanyaannya sekarang adalah; Apakah hati kita sungguh-sungguh ingin melangkah maju, atau hati kita masih rindu pada masa lalu? Mari kita jujur pada diri sendiri. Menoleh ke belakang hanya akan membekukan langkah iman kita.

Tetapi ketika kita memilih untuk taat dan melangkah maju, meskipun dengan rasa takut, di situlah hidup yang baru benar-benar dimulai bersama Tuhan.

Seorang hamba Tuhan yang bernama John Stott berkata; "Isteri Lot binasa bukan karena sementara ia berjalan keluar dari Sodom, tetapi karena hatinya masih tertinggal di sana."

Apa yang dikisahkan oleh Alkitab dan apa yang dikatakan oleh John Stott, kiranya menjadi sebuah perenungan dan pembelajaran yang sangat penting bagi setiap kita di Tahun 2026 ini. (AH)

Salah satu faktor utama penyebab kegagalan untuk mengalami perubahan hidup dalam jangka panjang. Bukan karena seseorang tidak tahu mana yang salah, tetapi karena ia sulit melepaskan apa yang pernah memberi rasa aman.