Siap di-rapture?

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Visi 2022.jpg
Renungan khusus
Tanggal04 September 2022
PenulisDio Angga PradiptaPdp Dio Angga Pradipta, MTh
Sebelumnya
Selanjutnya

Iman orang percaya, khususnya Insan Pentakosta diakhiri dengan sebuah pengharapan bahwa Yesus yang datang sekitar 2000 tahun yang lalu, akan datang kembali menjemput gereja-Nya di awan-awan dengan segala kemuliaan-Nya. Pemahaman dan penantian akan janji kedatangan-Nya yang kedua kali menguatkan setiap kita bahwa ada akhir yang indah bagi setiap orang percaya: Yesus menjemput mempelai-Nya untuk masuk ke dalam perjamuan kawin Anak Domba dan memerintah bersama-Nya selama-lamanya.

Untuk itu, Gereja perlu mengerti betul bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti menjelang kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua. Pengakuan iman Gereja Bethel Indonesia berbunyi demikian:

Tuhan Yesus Kristus akan turun dari sorga untuk membangkitkan semua umat-Nya yang telah mati dan mengangkat semua umat-Nya yang masih hidup lalu bersama-sama bertemu dengan Dia di udara, kemudian Ia akan datang kembali bersama orang kudus-Nya untuk mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi ini.

Kita akan membahas pengakuan iman di atas secara sederhana, dan terakhir kita akan melihat bagaimana pengharapan ini bisa berdampak bagi iman kita.

Istilah ‘rapture’ atau pengangkatan orang percaya adalah peristiwa di mana Tuhan Yesus akan turun dan menjemput orang-orang percaya yang masih hidup atau yang sudah meninggal dan membawa mereka ke sorga. Doktrin pengangkatan ini begitu penting sampai menjadi bagian dari 5 Pilar Teologi Pentakosta atau yang biasa disebut Fivefold Gospel. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan dalam 1 Tesalonika 4:16-17 yang berkata:

maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.

Betapa berbahagianya kita yang masih hidup jika didapati oleh Tuhan Yesus setia memegang iman dan ikut diangkat ke awan-awan. Haleluya! Orang percaya perlu mempertahankan imannya sampai akhir, karena hanya mereka yang lebih dari pada pemenang dan kedapatan setialah yang akan diangkat. (Ibrani 10:36-38)

Memang Alkitab tidak memberikan waktu yang spesifik kapan pengangkatan ini akan terjadi. Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu, hanya Bapa yang tahu, tetapi akan ada tanda-tanda yang mendahului kedatangan Kristus:

  1. Kedurhakaan di antara orang Kristen akan semakin bertambah. Ini berarti dosa akan semakin banyak dan kasih kebanyakan orang akan semakin dingin. (Matius 24:10-12)
  2. Tanda bangsa Israel, yaitu kebangkitan bangsa Israel secara fisik. (Yehezkiel 37:14)
  3. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan akan hidup seperti zaman Nuh: kawin mengawinkan, hidup dalam pesta pora dan tidak takut akan Allah. (Matius 24:37-39)

Yesus dengan jelas berkata:

Jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. (Matius 24:33)

Kita hari ini sedang menghidupi waktu-waktu akhir…sudah di ambang pintu! Yesus kembali menegaskan untuk berjaga-jaga senantiasa, karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktunya. Pengharapan akan kedatangan Tuhan akan membuat orang percaya untuk bertekun di dalam doa, membangun gaya hidup yang intim dengan Tuhan, dan selalu berjaga-jaga. (Matius 24:42)

Sinode GBI menganut pemahaman di mana Yesus akan datang 2 (dua) kali:

  • Pertama untuk mengangkat orang-orang percaya yang masih hidup dan yang sudah mati,
  • lalu Yesus akan datang kembali untuk memerintah selama seribu tahun di bumi ini.

Nah, apa yang terjadi di tengah-tengah antara kita diangkat dengan berdirinya kerajaan 1000 tahun di bumi ini? Kita menyebutnya sebagai masa kesusahan besar atau tribulasi. Memang ada perbedaan pandangan tentang waktu pengangkatan atau rapture dari gereja sehubungan dengan tribulasi ini, tetapi kita percaya bahwa gereja Tuhan akan diangkat sebelum masa kesusahan besar itu terjadi.

Masa kesusahan besar ini dipercaya sebagai periode di mana murka Allah seperti yang dilihat Daniel di dalam Daniel 9:20-27 dan hari pencobaan yang melanda seluruh bumi seperti tercatat di Wahyu 3:10. Apa yang terjadi pada masa kesusahan besar ini dijelaskan melalui penglihatan Yohanes lewat 7 Meterai, 7 Sangkakala, dan 7 Cawan Murka Allah dalam Kitab Wahyu. Secara sederhana tabel di bawah ini berusaha menggambarkan peristiwa yang akan terjadi dalam pembukaan Meterai, Sangkakala, dan Cawan Murka Allah:

7 Meterai 7 Sangkakala 7 Cawan Murka Allah
Merebut kemenangan (6:2) Kekeringan (8:7) Penyakit bisul (16:2)
Saling membunuh (6:3-4) Laut menjadi darah (8:8) Laut menjadi darah (16:3)
Kelaparan (6:5-6) Air menjadi pahit (8:10-11) Air menjadi darah (16:4)
Wabah Kematian (6:7) Kegelapan (8:12) Panas api matahari (16:8-9)
Penganiayaan (6:9-11) Belalang (8:1-3) Kegelapan/kesakitan (16:10-11)
Gempa bumi (6:12-17) Invasi Malaikat (9:13) Invasi dari Timur (16:12-16)
Kesunyian di sorga (8:1) Tidak ada penundaan (10:6) “Sudah terlaksana” (16:17)

Apa yang dapat kita pelajari dari sini?

  1. Tuhan Yesus akan mulai menghakimi pada hari-hari terakhir dimulai dari gereja-Nya—diawali dengan surat kepada 7 gereja—sampai kepada bangsa-bangsa di dunia.

    Maka pertobatan adalah respons yang diminta oleh Allah kepada kita semua.

  2. Pada akhirnya, Allah yang adil akan menuntut pertanggungjawaban dari seluruh manusia.

    Kepada mereka yang masih tidak mau percaya, murka Allah akan dicurahkan secara penuh. Allah mendengarkan doa syafaat dari umat-Nya yang berseru-seru kepada-Nya. (Wahyu 6:10; 8:3-5)

  3. Kepada mereka yang bertobat dan percaya kepada Tuhan, maka Dia berjanji akan menyelamatkan mereka dari murka Allah lewat pengangkatan orang-orang percaya atau rapture.

    Tentu kita tidak mau berada di bumi ketika cawan murka itu ditumpahkan bukan? Kalau kita perhatikan, ada sekelompok orang yang tidak mau bertobat sekalipun Cawan Murka Allah dan Meterai sudah dilepas. Kiranya hal ini tidak terjadi pada kita! (Wahyu 9:20-21; 16:11)

  4. Iman Insan Pentakosta bukanlah sebuah kepercayaan nihilisme di mana pada akhirnya adalah kehampaan dan kesia-siaan.

    Kita percaya bahwa ada konsekuensi atas setiap perbuatan dan tindakan yang kita ambil hari ini. Karena itu konsep mengerjakan keselamatan menemukan kekuatannya di dalam pengharapan bahwa Allah akan menyelamatkan umat-Nya yang setia dan hidup dalam kekudusan; dari murka-Nya. (DAP)