Apakah orang yang sudah meninggal dapat menjumpai kita?

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal11 Juli 2021
Penulis‑1Dony LubiantoPdm Dr Dony Lubianto, MTh
Penulis‑2Hendrik TimadiusPdt Hendrik Timadius, MBA, MTh
Voice of PentecostVoice of Pentecost 57 (Laurentzia Sandra)
Sebelumnya
Selanjutnya

Judul artikel ini menjadi pertanyaan dari sebagian orang percaya, khususnya mereka yang memiliki pengalaman-pengalaman yang aneh namun nyata, yakni mengalami perjumpaan dengan orang yang telah meninggal di dalam mimpi mereka. Di mana dalam mimpinya seseorang melihat dirinya sedang berbincang-bincang dengan orang yang dikenalnya. Bahkan ada yang menyampaikan pesan secara spesifik terkait benda miliknya serta sejumlah uang yang tersimpan dalam lokasi tertentu, dan ternyata persis yang disampaikan dalam mimpi demikianlah kenyataannya. Ini hanya sebagian kecil dari peristiwa unik namun nyata yang dialami oleh tidak sedikit orang. Bagaimana kita dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa yang seperti ini?

Mari kita lihat tiga anggapan yang berkembang di antara masyarakat Kristen secara luas dan apa kata Alkitab terkait hal tersebut.

  1. Fenomena sebagaimana halnya Tuhan Yesus menjumpai murid-murid sebelum Ia terangkat ke Sorga (Kisah Para Rasul 1:2)
  2. Sebagian orang percaya dari kalangan tertentu memiliki kepercayaan secara tradisi bahwa orang yang telah meninggal masih dapat menjumpai orang yang masih hidup dalam kurun waktu 40 hari setelah kematiannya; sebagaimana juga dipercaya oleh tradisi yang berkembang di masyarakat. Ditambah lagi dengan mengutip ayat sekenanya dan di luar konteks.

    Mereka meyakini sebagaimana Tuhan Yesus menjumpai murid-murid-Nya berulang-ulang selama 40 hari (Kisah Para Rasul 1:2), maka orang yang sudah meninggal dapat mengunjungi yang masih hidup dalam kurun waktu 40 hari setelah kematiannya.

    Yang memegang kepercayaan ini pastinya tidak sadar bahwa Yesus bukanlah orang mati yang mengunjungi murid-murid, melainkan Ia telah bangkit dari kematian dan hidup! (Markus 9:9-10; Lukas 24:46; Yohanes 2:22; 20:9; Roma 6:9; 2 Timotius 2:8)

    Jadi anggapan bahwa orang meninggal dapat menjumpai kita sebagaimana Yesus adalah sebuah pemahaman yang keliru dan tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab.

  3. Fenomena sebagaimana Musa dan Elia menjumpai Tuhan Yesus di bukit transfigurasi (Matius 17:1-8; Markus 9:2-9; Lukas 9:28-36)
  4. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa peristiwa ini dapat menjadi sebuah pijakan untuk menyatakan bahwa orang yang telah meninggal, dalam hal ini Musa (Ulangan 34:7); sebab Elia tidak mati melainkan terangkat ke Sorga (2 Raja-raja 2:11) menjumpai Tuhan Yesus dan bercakap-cakap dengan Yesus (Matius 17:3).

    Dalam konteks ini pun tidak tepat jika dijadikan landasan kepercayaan orang yang sudah meninggal menjumpai manusia yang masih hidup, sebab pada waktu itu Tuhan Yesus berubah rupa (Yun. Metemorphote), sehingga baik Tuhan Yesus, Musa maupun Elia berada dalam dimensi yang berbeda dengan manusia pada umumnya sebagaimana halnya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang menyertai Yesus.

  5. Fenomena seperti Saul yang berjumpa dengan Roh Samuel (1 Samuel 28:11-14)
  6. Terkait dengan peristiwa ini ada dua penafsiran yang berkembang. Satu golongan menafsirkan bahwa roh yang muncul itu bukanlah roh Samuel dan golongan yang lainnya mengatakan itu benar roh Samuel, yang atas seizin Tuhan datang untuk memberikan pelajaran dan peringatan kepada Saul.

    Terlepas apakah kita berada dalam golongan yang meyakini itu adalah roh Samuel ataupun bukan, Alkitab jelas menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Saul tersebut (pemanggilan arwah, bertanya kepada arwah) adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan dan merupakan dosa (Imamat 19:31; 20:6; Ulangan 18:10-12; Keluaran 22:18; Imamat 20:27) yang karenanya mengakibatkan Saul mati (1Tawarikh 10:13-14).

    Lagipula, ada perbedaan antara contoh dalam pendahuluan artikel ini dengan apa yang terjadi pada Saul. Saul jelas berniat untuk memanggil arwah dan meminta petunjuk kepada arwah (orang yang sudah meninggal), sedangkan mereka yang mengalami mimpi berjumpa dan bercakap-cakap dengan orang yang sudah meninggal, tentu tidak pernah secara sengaja meminta untuk berjumpa kembali atau mendapat kunjungan dari orang yang telah meninggal dunia. Mimpi itu datang begitu saja, bahkan tanpa direncanakan.

Sehubungan dengan orang yang sudah meninggal, satu kali Tuhan Yesus pernah menyampaikan sebuah perumpamaan dalam Lukas 16:19-30 tentang ‘Orang Kaya dan Lazarus’. Sekalipun ini adalah sebuah perumpamaan, namun kita tahu bahwa Tuhan Yesus seringkali menggunakan perumpamaan dalam mengajar agar lebih mudah dipahami oleh pendengar-Nya. Pelajaran dari Tuhan Yesus yang bisa kita ambil adalah bahwa ada jurang pemisah dalam dunia orang mati yang memisahkan dua kompartemen yang berbeda yakni Hades dan Firdaus. Pelajaran berikutnya adalah tidak diperlukan orang yang telah meninggal untuk mengunjungi orang yang masih hidup untuk menyampaikan pesan, khususnya terkait pertobatan, sebab sudah ada pada mereka kitab suci.

Mimpi manusia dan perjumpaan dengan orang yang telah meninggal dalam mimpi

Setiap manusia pasti mengalami mimpi. Pertanyaannya apa dan bagaimana kita menjelaskan terkait mimpi? Dalam “Dreams, Visions”[1] di mana Leland Ryken, seorang Professor Emeritus Bahasa Inggris di Wheaton College di Wheaton, Illinois, yang juga adalah penata gaya sastra dari Alkitab terjemahan Bahasa Inggris - English Standart Version (ESV) menjadi editornya; dijelaskan bahwa:

  • Mimpi muncul sesuai dengan kondisi yang sedang dialami manusia pada hari itu (Yesaya 29:8; Pengkhotbah 5:2; Ayub 7:13-14).
  • Mimpi muncul sesuai dengan kondisi kesehatan spiritual suatu bangsa, di mana ketika satu bangsa berdosa kepada Tuhan maka tidak ada tuntunan dari Tuhan; bahkan tidak melalui mimpi yang menandakan pengabaian oleh Tuhan (1 Samuel 3:1; Mikha 3:5-7).

Namun, nubuatan bahwa mimpi dan penglihatan akan kembali didahului oleh pemurnian bangsa dan pencurahan Roh Tuhan (Yoel 2:28; Kisah Para Rasul 2:17).

Bagaimana kita dapat menjelaskan peristiwa unik namun nyata yang dialami oleh mereka yang bermimpi dan mengalami perjumpaan dengan orang yang sudah meninggal? Alkitab tidak berkata apa-apa terkait orang yang sudah meninggal menjumpai orang yang masih hidup melalui mimpi.

Dalam Alkitab kita mendapati begitu banyak ayat yang menyatakan bahwa TUHAN menjumpai orang melalui mimpi, di mana dalam mimpi tersebut TUHAN memberikan pesan peringatan:

Namun Alkitab tidak pernah menuliskan tentang orang yang sudah meninggal menjumpai orang yang masih hidup melalui mimpi.

Lantas, siapakah yang menjumpai orang-orang tersebut dalam mimpinya? Apakah setan atau roh jahat yang menjadi antek-anteknya? Tentu tidak juga demikian! “Mimpi adalah gerbang, pintu menuju supranatural,” kata Dr. Breathitt. “Jika orang baru saja kehilangan orang yang dicintai dan mereka tidak sempat mengucapkan selamat tinggal, Allah memilih orang itu untuk kembali ke dalam mimpi mereka sebagai pembawa pesan. Jika pemimpi terjebak dalam kesedihan, almarhum akan memberi tahu pemimpi bahwa mereka bahagia, bahwa mereka berada di surga, bahwa Yesus itu nyata. Dan bahwa mereka ingin pemimpi berhenti berduka dan menjalani takdir mereka.”[2]

Dalam kedaulatan dan kasih-Nya, Tuhan bisa saja memberikan mimpi kepada kita di mana dalam mimpi itu kita melihat orang yang telah meninggal dan penglihatan itu begitu nampak sangat nyata, untuk memberikan pesan penghiburan dan kekuatan kepada mereka yang masih hidup yang telah ditinggalkan oleh orang yang mereka kasihi.

Namun demikian tidak semua mimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal adalah hal yang baik dan datang dari Tuhan, sama halnya juga bukan semuanya buruk dan dari Iblis. Kita tetap harus memiliki kepekaan dan ketajaman rohani dalam mengujinya. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21). Amin (DL/HT)

Referensi

  1. ^ Leland Ryken, et.al., “Dictionary of Biblical Imagery”, Downers Grove, Ill: InterVarsity Press, 1998.
  2. ^ Dr. Breathitt dalam How to interpret dreams about deceased loved ones. Artikel ini mendapat review yang positif dari Patricia King, Sid Roth dan James W. Goll.

Judul artikel ini menjadi pertanyaan dari sebagian orang percaya, khususnya mereka yang memiliki pengalaman-pengalaman yang aneh namun nyata,