Bahasa roh adalah salah satu identitas sebagai Insan Pentakosta

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Logo Cool.png
Materi COOL Umum Materi COOL Umum
TanggalJumat, 14 Mei 2021
Penulis Departemen COOL Departemen COOL
UnduhGoogle Drive
Sebelumnya

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (1 Korintus 14:2)

Pendahuluan

Identitas adalah jati diri kita, yang menunjukkan siapa kita dan membedakan kita dengan pribadi yang lainnya. Seorang insan yang sejati selayaknya menghidupi apa yang menjadi identitasnya, yang menjadikan dirinya utuh dan apa adanya. Identitas kita adalah sebagai Insan Pentakosta. Kita berada dalam keluarga besar gereja beraliran pentakosta, yakni gereja yang percaya bahwa karunia, mukjizat, tanda heran dan kesembuhan masih berlaku bagi gereja masa kini. Gereja yang percaya bahwa setiap orang yang sudah lahir baru, yang telah dikuduskan hatinya dapat menerima baptisan Roh Kudus sebagai pengalaman yang terpisah dari kelahiran baru, dengan tanda awal berbahasa roh sebagaimana diberikan Roh Kudus untuk mengatakannya.

Isi dan sharing

Bagaimana kita menghidupi identitas kita sebagai Insan Pentakosta?

  1. Berbahasa roh bukan hanya dalam doa pribadi tapi juga saat beribadah atau doa bersama
  2. Berapa banyak kita mendengar orang berkata: "Saya berbahasa roh, tapi hanya dalam doa pribadi saya saja, dalam ibadah tidak." Yang harus kita sadari adalah bahwa yang dimaksud dengan doa pribadi itu tentu bukan sekedar doa di rumah, melainkan doa untuk diri pribadi kita, membangun diri sendiri, menyampaikan keluhan yang tak terucapkan, yang kita sampaikan. Di mana saja termasuk dalam ibadah.

    1 Korintus 14:39 mengatakan "... dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh." Ayat ini ada dalam perikop berjudul "Peraturan dalam Pertemuan Jemaat", artinya dalam pertemuan jemaat tidak boleh melarang orang berkata-kata dengan bahasa roh, baik untuk kepentingan mengajar (bahasa roh yang harus ditafsirkan) maupun bahasa roh untuk penggunaan pribadi, membangun diri sendiri, memuji dan menyembah dalam roh serta memuliakan Allah (bahasa roh yang tidak perlu ditafsirkan).

    Untuk itu rasul Paulus memberikan pedoman dalam 1 Korintus 14:40 bahwa segala sesuatu harus berlangsung secara sopan dan teratur, agar jangan sampai terjadi seperti di Korintus sebelumnya di mana lebih dari dua atau tiga orang berbahasa roh bersama-sama tanpa penafsiran di depan mimbar dengan tujuan mengajar.

  3. Lebih sering berbahasa roh
  4. Berapa banyak kita jumpai insan pentakosta yang sudah dibaptis Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh namun jarang sekali berbahasa roh baik dalam doa pribadi, apalagi dalam doa atau ibadah bersama.

    Sebagai insan pentakosta sudah seharusnya kita menghidupi identitas kita, salah satunya adalah berbahasa roh tanpa rasa sungkan apalagi malu. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 14:18 mengatakan, "aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua".

    Paulus menganggap karunia bahasa roh sebagai suatu bagian yang penting dari kehidupan rohaninya. Kalimat "lebih daripada kamu semua" berarti berkata-kata dengan bahasa roh lebih sering. Jelaslah bahwa kita harus berbahasa roh lebih sering dalam kehidupan rohani kita setiap hari. Sebagai insan pentakosta mari kita hidupi identitas kita dengan iman kepada Tuhan Yesus.

    Mari kita lebih sering berbahasa roh bukan hanya dalam doa pribadi di rumah tapi juga saat kita berada dalam doa dan beribadah bersama-sama.

Kesaksian

Apakah yang Anda rasakan saat pertama kali mengalami baptisan Roh Kudus dan berbahasa roh?

Kesimpulan dan saling mendoakan

Berbahasa roh merupakan identitas kita sebagai Insan Pentakosta dan sarana bagi untuk membangun iman.

Catatan

COOL Umum Mei 2021: