Tahun Pey Aleph 5781

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Tahun Pey Aleph 5781
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal25 Oktober 2020
PenulisBudi MuljonoPdm Budi Muljono, MTh
Sebelumnya

Tahun Ibrani 5781 (disebut PEY ALEPH) dimulai tanggal 18 September 2020 pukul 18.00. Menurut perhitungan hari secara Ibrani satu hari dimulai pada pukul 18.00 dan berakhir pada pukul 18.00 hari berikutnya. Tahun 5781 dituliskan dalam bahasa Ibrani sebagai תשפ”א (Tav Shin Pey Aleph = 781) atau sering disingkat menjadi פא (Pey Aleph).

Huruf פ (Pey) digambarkan dengan sebuah mulut, jadi sepanjang tahun Pey Aleph mulut (ucapan/perkataan) sangat berperan dan berpengaruh dalam kehidupan rohani dan jasmani, yaitu ketika terjadi kesepakatan dengan kehendak dan tujuan Tuhan. Mulut orang percaya seharusnya memperkatakan Firman Tuhan secara terus menerus dan menyatakan kebenaran yang akan menghasilkan perubahan dan pertobatan.

Huruf א (Aleph) yang berarti 1 (satu) berbicara mengenai TUHAN yang Esa, Yang Pertama dan Terutama, Yang Awal dan Yang Akhir.

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8)

Tuhan Yesus adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Dengan demikian maka mulut orang percaya harus mendeklarasikan (menyatakan) bahwa Tuhan Yesus ‘Sang Awal dan Sang Akhir’ akan segera datang kembali dengan segala kemuliaan dan kuasa-Nya.

Aleph juga berarti pertama, dalam Yohanes 1:1 tertulis:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Umat Allah harus kembali menjadikan Firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi yang mengatur kehidupan kita. Pola hidup rohani yaitu membaca, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan harus kembali menjadi pola hidup sehari-hari.

Dalam Ibrani kuno, Aleph digambarkan sebagai kepala seekor lembu (berasal dari budaya orang Kanaan) yang melambangkan kekuatan dan kuasa (otoritas). Ini melambangkan para pemimpin yang memiliki otoritas. Artinya, tahun ini adalah tahun kesatuan di dalam hal-hal yang benar dan kudus bagi para pemimpin (ayah, suami, pria, pemimpin rohani dan pemimpin lainnya), di mana terjadi kesatuan antar pemimpin dan antara pemimpin dengan orang yang dipimpinnya. Akan terjadi pemulihan dalam keluarga, gereja dan pelayanan yang akan menghasilkan ‘Umat yang layak bagi Tuhan’.

“dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” (Lukas 1:17)

Jadi pada tahun Pey Aleph akan terjadi pemulihan kehidupan orang percaya di dalam perkataan, pola hidup yang akan menjadikan Firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi, kekudusan yang semakin meningkat, pemulihan hubungan dan deklarasi Yesus adalah ‘Tuhan dan Juruselamat’ yang akan menghasilkan penuaian jiwa untuk mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan di hari kedatangan-Nya yang kedua kalinya.

Mengalami makna Pey Aleph

Bagaimana makna rohani tahun Pey Aleph ini bisa dialami oleh orang percaya?

“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:1-8)

Ayat-ayat di atas mengisahkan apa yang dialami oleh nabi Yesaya dalam perjumpaannya dengan Tuhan yang mengajarkan hal-hal rohani yang sama dengan makna rohani tahun Pey Aleph.

#1 Perubahan Hidup

Dalam Yesaya 6:1, 3 ditulis “Aku (Yesaya) melihat Tuhan” dan mendengar para Serafim (Malaikat) berseru “Kudus, kuduslah TUHAN”. Di sini dikatakan Yesaya mengalami pengalaman rohani yang mengubah kehidupannya, yaitu perjumpaannya dengan Tuhan di dalam kekudusan-Nya dan dalam kemuliaan-Nya. Yesaya mengalami penglihatan ‘suasana sorga’.

Hal ini mengajarkan bahwa hal pertama dan terutama yang harus dialami oleh umat Allah adalah perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Pengalaman ini mengubah kehidupan secara total seperti yang dialami oleh Saulus saat berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik.

Sebagai orang percaya, perjalanan iman kita dimulai dengan langkah pertama yaitu perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Kekristenan yang sejati adalah hasil dari perjumpaan pribadi seseorang dengan Kristus.

Hal ini juga mengajarkan umat Allah untuk secara konsisten menjaga dan mengalami ‘perjumpaan’ dengan hadirat-Nya secara terus menerus. Hubungan dengan Tuhan Yesus yang nyata dan mendengar tuntunan dan suara Roh Kudus harus terus terjadi dalam kehidupan sebagai orang percaya.

Menjaga hati untuk tetap mengasihi Tuhan Yesus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan adalah hal yang harus terus menerus diusahakan dan dikerjakan sungguh-sungguh.

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” (Yakobus 4:8)

Hati yang mendua (mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, sambil mengaku mengasihi Tuhan) adalah penghalang terbesar untuk dapat mengalami hubungan yang sepenuhnya dengan Kristus. Tuhan Yesus harus menjadi yang pertama dan terutama dalam kehidupan seorang percaya

#2 Pertobatan dan Kerendahan Hati

Dalam ayat 5 ditulis Yesaya berkata: “Celakalah aku” Yesaya menyadari keadaan dirinya yang berdosa dan najis di hadapan Tuhan. Hal ini menggambarkan pengakuan yang penuh kejujuran dan kerendahan hati dari Yesaya.

Kita memang telah dilayakkan oleh pengorbanan Tuhan Yesus, tetapi tetaplah memiliki ‘sikap tidak layak’ di hadapan Tuhan, yaitu pertobatan dan kerendahan hati. Hal inilah yang berkenan kepada Tuhan. Kesombongan tidak pernah memperkenankan hati Tuhan.

Dalam Lukas 18:10-14, Tuhan Yesus mengajar:

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:
Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Kesombongan menjadi penghalang seseorang berkenan di hadapan Tuhan, kerendahan hati membuat seseorang justru semakin dekat kepada Tuhan, karena timbul kerinduan untuk mengenal Kristus dan mengasihi Dia, seperti yang dicatat dalam Lukas 15:1-2,

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

#3 Pengudusan

Dalam Yesaya 6:6-7 dicatat seorang Serafim menyentuhkan sebuah bara yang diambil dari atas mezbah kepada mulut Yesaya dan berkata “kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”

Seorang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan mengalami kasih karunia yang membuatnya mengalami ‘pembenaran’ di hadapan Tuhan.

Tuhan Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus dan membereskan dosa dan setiap orang yang percaya kepada-Nya akan dibenarkan oleh karena iman, hasil karya Roh Kudus yang membawa kelahiran baru dalam kehidupannya.

Langkah berikutnya orang tersebut akan masuk ke dalam proses pengudusan, yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hidupnya dan kesediaannya menaati Firman Tuhan. Baru setelah itu akan mengalami kemuliaan dan penggenapan janji-janji Allah yang kekal.

Secara khusus, mengenai mulut (perkataan), tercatat dalam Yakobus 3:2-3 bahwa:

“Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.”

Umat Allah harus menyadari bahwa banyak perkataan yang keluar dari mulutnya yang salah di hadapan Tuhan dan berdampak kepada kehidupan dirinya serta orang lain juga. Mulut kita harus terus-menerus disucikan dan mengatakan hal yang benar, yaitu Firman Tuhan.

Pernyataan Yesaya mengenai ‘najis bibir’ berarti mengatakan hal-hal yang salah dan juga tidak mengatakan hal-hal yang benar.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)

Dalam konteks ayat tersebut, ketika seorang percaya tidak mengatakan kebenaran (dalam hal ini adalah berita Injil), maka ia berdosa dalam perkataannya.

#4 Pemulihan

Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: “Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ...” (Yesaya 7:3)

Tuhan menyuruh Yesaya menemui Raja Israel, yaitu Raja Ahas bersama dengan anak laki-lakinya yang bernama Syear Yasyub. Bisa didapatkan pengertian bahwa Yesaya memiliki hubungan yang baik dengan anaknya sehingga bisa melayani Tuhan bersama-sama. Terjadi pemulihan antara bapa dan anaknya.

“Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas ...” (Yesaya 8:3)

Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama yaitu bahasa Ibrani; kata ‘isteriku’ ditulis sebagai נביאה (nebîy'âh), diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris versi KJV (King James Version) sebagai prophetess yang memiliki arti nabiah (nabi perempuan).

Jadi isteri Yesaya adalah juga seorang nabi dan melahirkan anak yang kedua yang bernama Maher-Syalal Hash-Bas, yang artinya terdapat dalam ayat 4,

“sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur.”

Arti nama ini menjadi nubuatan untuk apa yang akan terjadi kepada bangsa Israel di masa pembuangan.

Jadi Yesaya mengalami pemulihan keluarga di mana dia, isterinya bahkan anak-anaknya semua dipakai Tuhan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dalam bernubuat dan mengajar bangsa Israel.

Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan dikuduskan dalam kehidupannya akan mengalami pemulihan dalam keluarganya dan bersama-sama akan dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

#5 Pengutusan

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata:
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”
Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!”
(Yesaya 6:8)

Selanjutnya Yesaya diutus Tuhan untuk pergi kepada bangsa Israel menyatakan kebenaran dan kemuliaan Tuhan. Setiap orang percaya yang telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan mengalami pengudusan dan pemulihan sehingga menjadikannya sebagai utusan-utusan Kerajaan Sorga untuk menyatakan dan mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.

Melalui pencurahan Roh Kudus di era Pentakosta Ketiga ini, Tuhan memampukan gereja-Nya menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus dan melihat kedatangan-Nya yang kedua kali.

Alami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang menghasilkan perubahan total dalam hidup dan membawa ke dalam seluruh proses pengudusan yang akan menghasilkan pemulihan dan pemberdayaan Roh Kudus; menjadikan kita sebagai “THE MESSENGER OF THE 3rd PENTECOST” untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Amin. (BM)

Sumber

  • Budi MuljonoPdm Budi Muljono, MTh (25 Oktober 2020). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 04 November 2020.