Menabur adalah ciri kedewasaan rohani

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal30 Agustus 2020
PenulisPaul TuanakottaPdp Paul Tuanakotta, SKom, CBC
Sebelumnya
Selanjutnya

"Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas." (Yesaya 30:23)

Melihat sejarah perjalanan bangsa Israel, ada sebuah hal yang menarik yang dapat kita pelajari dari cara Tuhan memelihara kehidupan mereka. Pada saat mereka sedang dalam perjalanan di padang gurun setelah keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, banyak sekali mujizat yang Tuhan lakukan untuk menolong dan memelihara mereka. Hal ini dapat kita lihat dari cara Tuhan memberikan makanan dari sorga yaitu manna kepada mereka selama berada di padang gurun. Namun setelah mereka tiba di Tanah Perjanjian, Tuhan tidak lagi menyediakan manna. Orang Israel harus bekerja, bertani dan beternak untuk mendapatkan makanan mereka.

Mengapa Tuhan tidak lagi memberikan manna kepada mereka setelah mereka ada di Tanah Perjanjian? Karena sebenarnya Tuhan menginginkan umat-Nya hidup dalam berkat. Berkat di sini sama sekali tidak berbicara soal kelimpahan berkat materi yang banyak dikejar orang dunia, tetapi berbicara tentang pemeliharaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk memelihara dan menolong kita, namun jika kita membaca Alkitab maka kita akan menemukan beberapa kriteria yang menyertai mujizat-mujizat yang tercatat di dalam Alkitab.

#1 Mujizat selalu melampaui hukum alam

Ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini, Ia menaruh hukum-hukum alam supaya seluruh ciptaan bisa berjalan dengan teratur:

  • bulan berputar mengelilingi bumi,
  • bumi berputar mengelilingi matahari, sedangkan
  • bumi sendiri juga berputar pada porosnya.

Semua hal tersebut adalah sebagian kecil dari keteraturan yang Tuhan buat; yang dijaga oleh hukum alam.

Salah satu hukum alam yang setiap hari kita alami adalah hukum gravitasi bumi. Kita bisa melakukan semua hal di muka bumi ini dengan teratur karena kita tahu akan adanya kepastian akan hukum gravitasi tersebut. Seseorang bisa saja tidak percaya kepada hukum gravitasi, tetapi jika dia mencoba untuk melompat dari lantai 3 sebuah gedung; dapat dipastikan ia akan jatuh.

Namun ketika terjadi sebuah mujizat, maka akan ada sebuah hukum alam yang tidak diikuti atau dihentikan untuk sementara.

  • Pada saat Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum kimia.
  • Ketika Yesus dan Petrus berjalan di atas air, hukum gravitasi dihentikan untuk sementara.

Itulah sebabnya mujizat selalu bersifat sementara. Bangsa Israel menerima manna hanya selama mereka berada di padang gurun saja. Setelah mereka ada di Tanah Perjanjian, pengiriman manna berhenti. Jika sebuah mujizat berlangsung seterusnya, maka itu bukan lagi menjadi mujizat, tetapi sudah menjadi sebuah hukum alam.

Karena Tuhan sendirilah yang menetapkan hukum-hukum alam ini, maka tentunya Tuhan menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Jika tidak, buat apa Tuhan membuatnya? Hal ini tidak hanya berlaku untuk hukum alam, tetapi juga dalam hukum rohani.

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa jika mereka adalah anak-anak Allah maka mereka akan menerima perlakuan khusus dari Tuhan dalam bentuk dispensasi dari hukum-hukum Tuhan. Mereka merasa tidak perlu bekerja, karena Tuhan pasti akan menyediakan segala yang mereka inginkan secara ajaib. Padahal firman Tuhan jelas mengatakan bahwa semua orang harus bekerja jika mereka mau diberkati. (1 Tesalonika 3:10).

Dalam kisah Bartimeus, orang buta di Yerikho yang dicatat dalam Markus 10, kita menemukan bahwa Bartimeus mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus. Namun jangan lupa, bahwa setelah disembuhkan, Bartimeus tidak lagi bisa duduk di pinggir jalan dan meminta-minta. Ia harus bekerja supaya bisa hidup. Namun hal itu jauh lebih baik, karena itulah kehidupan yang sesuai dengan hukum Tuhan.

Ada saat dan situasi hidup kita yang hanya bisa dilalui dengan mujizat dari Tuhan. Namun dalam kondisi lainnya, jika kita ingin hidup kita dipelihara oleh Tuhan, hiduplah sesuai dengan hukum-hukum yang Tuhan sudah tetapkan, maka kita pasti akan diberkati.

#2 Mujizat selalu menjawab sebuah kondisi yang sangat kritis

Tidak pernah ada mujizat di dalam Alkitab yang terjadi pada saat kondisi yang damai, aman, tidak kekurangan dan tidak ada masalah. Mujizat sangat dibutuhkan ketika ada situasi yang sangat mendesak dan kadang-kadang mustahil bisa dijawab dengan cara-cara biasa.

Ketika bangsa Israel ada di padang gurun selama 40 tahun, mereka tidak bisa bercocok tanam karena mereka harus senantiasa berpindah-pindah dan lokasi perjalanan mereka adalah di tempat yang sangat sukar untuk bercocok tanam. Jadi Tuhan mengadakan sebuah mujizat, yaitu memberikan roti dari sorga.

"Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." (Keluaran 16:1-4)

Dalam Perjanjian Baru pun, semua mujizat yang Tuhan Yesus lakukan juga terjadi karena ada sebuah situasi kritis atau masalah yang terjadi:

  • orang lumpuh berjalan,
  • orang buta melihat,
  • orang kusta ditahirkan,
  • mereka yang dirasuk setan dilepaskan.

Tidak ada mujizat terjadi tanpa ada masalah sebelumnya. Oleh karena itu, mujizat identik dengan krisis. Jika demikian, apakah ada manusia yang mau mengalami krisis? Manakah yang kita pilih:

  • Menerima mujizat kesembuhan atau hidup dalam berkat kesehatan?
  • Ditolong secara ajaib dari krisis keuangan atau hidup dalam kelimpahan, sehingga bisa menjadi saluran mujizat dengan menolong orang lain?

Hidup dalam mujizat sama artinya dengan hidup dalam krisis.

Sekali lagi tidak berarti kita tidak memerlukan mujizat, karena kita pun sudah menerima mujizat terbesar ketika kita diselamatkan lewat percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit untuk menebus kita dari kondisi kritis, yaitu dosa. Namun setelah kita diselamatkan, usahakanlah agar kita menjauhkan diri dari situasi krisis. Caranya adalah dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan.

#3 Mujizat tidak semelimpah berkat

Mujizat selalu secukupnya, tidak lebih, tidak kurang. Ketika Tuhan menyediakan manna kepada orang Israel di padang gurun, manna tersebut selalu cukup untuk semua orang Israel. Tidak ada orang Israel yang tidak kebagian manna. Di sisi lain, tidak ada juga yang berkelebihan manna. (Keluaran 16:16-18)

Bahkan kalau ada orang Israel yang menimbun manna, maka manna tersebut akan menjadi busuk pada keesokan harinya. Manna yang disediakan oleh Tuhan bagi orang Israel sangat cukup bagi hari itu, dan hanya untuk hari itu saja. Pada keesokan harinya mereka harus menantikan Tuhan untuk kembali menyediakan manna bagi mereka. Hal ini berlangsung selama 40 tahun. (Keluaran 16:19-20)

Manna yang Tuhan sediakan membuat orang Israel tidak kelaparan selama 40 tahun. Namun tidak ada pilihan lain, Tuhan hanya menyediakan manna saja. Bisa dibayangkan selama 40 tahun setiap hari mereka makan menu yang sama. Orang Israel begitu muak dengan manna sehingga mereka bersungut-sungut kepada Tuhan.

"Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat." (Bilangan 11:4-6)

Tentunya kita tidak pernah membayangkan akan berkata ‘muak’ terhadap mujizat Tuhan. Namun itulah yang terjadi kepada bangsa Israel. Lalu apa yang terjadi ketika mereka tiba di Tanah Perjanjian?

"Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan." (Yosua 5:12)

Dapat dipastikan tidak ada orang Israel yang bersungut-sungut ketika manna berhenti, walaupun sebenarnya mereka bisa makan manna tanpa harus bekerja atau berusaha. Namun sebaliknya kita yakin bahwa mereka justru bersukacita, karena akhirnya mereka bisa menikmati makanan lain selain manna. Walaupun untuk mendapatkannya mereka harus bekerja di ladang.

Kondisi orang Israel di padang gurun menggambarkan kondisi rohani yang kanak-kanak. Mereka seringkali menuntut dan bersungut-sungut. Mereka merasa berhak untuk diperlakukan istimewa oleh Tuhan. Mereka menerima pemeliharaan Tuhan dengan cara instan dan mudah. Karakteristik utama mereka adalah meminta-minta.

Kehidupan bangsa Israel di Tanah Perjanjian menggambarkan kondisi rohani yang dewasa.

  • Mereka mau bekerja untuk mendapatkan berkat
  • Mereka menabur supaya dapat menuai sesuai dengan hukum alam

Mereka sadar harus mengikuti proses, mulai dari menabur benih, sampai menuai hasilnya, dan kadang tidak selalu berhasil. Mereka sadar punya tanggung jawab mengusahakan tanah yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Akibatnya mereka hidup dalam kelimpahan dan pelipatgandaan. (PT)

"Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu." (2 Korintus 9:10)

Sumber