Dimensi baru diajar dan dilatih

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal28 Juni 2020
PenulisJohannes SP RajagukgukPdt Dr Johannes SP Rajagukguk ST, CBC
Sebelumnya
Selanjutnya

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."

(Lukas 2:52)

Yesus pun bertumbuh

Dalam catatan Injil Lukas, dijelaskan bahwa dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, Yesus tidak langsung mengambil peran publik-Nya. Sebagai manusia, Tuhan Yesus pun menjalani dan menikmati masa pertumbuhan-Nya. Lebih dahulu Ia bertambah besar dan bertumbuh fisik-Nya, dan yang lebih penting lagi Ia bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya.

Kata “besar”-Nya dalam bahasa Yunani, Helikia (ἡλικία), yang berarti ukuran besar tubuh, tetapi juga bicara tentang usia, kematangan, kecocokan usia untuk melakukan sesuatu, kecocokan situasi untuk melakukan sesuatu.

  • Untuk memiliki murid dan mengajar, Yesus perlu bertumbuh hingga mencapai usia, fisik, dan kematangan yang cocok untuk mengajar.
  • Untuk berargumen dengan para ahli Taurat dalam pengajaran dan penguasaan kitab Suci, Yesus perlu menjadi ahli pula dalam area itu.
  • Untuk memimpin murid-murid dan pengikut-Nya yang lain, Yesus perlu menunjukkan kedewasaan dan pemahaman tentang apa yang akan Ia lakukan.
  • Untuk menggunakan otoritas dalam doa dan pelayanan, Yesus perlu waktu untuk matang di dalamnya.

Demikian juga dalam hal lainnya, termasuk untuk mati di kayu salib pun, Yesus perlu bertumbuh dulu sebelum melaksanakannya.

"“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."
(I Yohanes 2:6)

Sebagai pengikut Kristus yang hidup meneladani Yesus, bertumbuh adalah salah satu kewajiban yang sudah seharusnya.

  • Bertumbuh adalah hal yang alamiah yang terjadi bila orang percaya benar-benar sudah tertanam dalam tubuh Kristus, dan Firman-Nya tertanam dalam orang percaya.
  • Bertumbuh menjadi penting, bila semua orang Kristen mengerti bahwa ada panggilan dan tugas yang Tuhan percayakan pada tiap pribadi.

Sesuai penjelasan di paragraf sebelumnya, sebelum menggenapi panggilan ilahi masing-masing secara penuh, dan sebelum melakukan tugas yang Tuhan percayakan secara penuh, orang percaya perlu bertumbuh dulu hingga mencapai usia, fisik, kematangan dan keadaan yang cocok untuk melaksanakannya.

Bagaimana seorang Kristen bersaksi, bila belum memiliki gaya hidup yang sesuai dengan Alkitab?

Bagaimana seorang Kristen bisa menjadi saksi, bila ia sendiri belum diubah karakternya? Bagaimana seorang Kristen berdoa untuk orang sakit atau bahkan mengusir roh jahat, bila ia sendiri belum membangun hubungan dengan Tuhan yang benar dan memahami kuasa yang ada pada dirinya? Bagaimana seorang Kristen akan melaksanakan amanat Agung Yesus, yaitu menjadikan semua bangsa murid-Nya, bila ia sendiri belum pernah dimuridkan?

Panggilan dan rencana Tuhan yang utuh, membutuhkan pertumbuhan dan kematangan dari pelaksanaan mandat ilahi itu sendiri.

“I’m still learning. For the Christian Life is a constant growth."
— Billy Graham

Bertumbuh harus disengaja

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak,
aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.
Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar,
tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal."
(1 Korintus 13:11-12)

Rasul Paulus menggambarkan proses memiliki Kasih dalam 1 Korintus 13 dengan 2 perumpamaan yang menggambarkan perubahan seseorang.

  • Perumpamaan pertama berbicara tentang pertumbuhan dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  • Perumpamaan kedua berbicara tentang bercermin.

Bila kedua perumpamaan ini dihubungkan, maka dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa dalam hidup Kekristenan yang seperti kanak-kanak bila bercermin, Kasih Kristus akan terlihat abstrak dan samar-samar. Namun, bila pertumbuhan itu sudah mencapai kedewasaan, maka Kasih Kristus akan nampak jelas dalam cermin, sejelas mengenal diri sendiri.

Dalam bahasa Yunani, kata ‘kanak-kanak’ yang dipakai dalam kitab ini adalah Nepios (νήπιος) yang dalam bahasa Inggris berarti Baby, Untaught, Unskilled.

  • ‘Kanak-kanak’ yang dimaksud Paulus adalah sebuah keadaan di mana seseorang belum diajar dan belum dilatih, sehingga tidak terpelajar dan tidak terlatih.
  • Sementara kata ‘dewasa’ yang dipakai adalah Aner (ἀνήρ) yang berarti pria dewasa, suami, calon suami, laki-laki dewasa yang bukan anak kecil, atau pria dan wanita yang diterima dalam kelompok dewasa.

Dari kedua kata yang dipakai Paulus ini, diperoleh petunjuk bahwa ada dua hal yang perlu dilakukan untuk menjadi dewasa, yaitu:

#1 Diajar

“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula."
(Ayub 5:17-‬18)

Seorang murid perlu diajar oleh gurunya untuk menerima pelajaran. Bila pengetahuan yang diajarkan, mungkin percakapan yang dibutuhkan. Namun bila pemahaman dan pengalaman yang diberikan, banyak kali hajaran lebih berhasil mendidik daripada percakapan.

Tuhan mengajar kita bukan hanya seperti guru dan murid, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Dia mengajar kita seperti Bapa dengan anak, lewat Roh Kudus.

"Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
(Ibrani 12:5-6)

Seperti seorang bapa yang mengajar anaknya berbicara, melalui Roh Kudus, Bapa meletakkan firman-Nya dalam hidup orang percaya lewat saat teduh, khotbah, pembacaan firman, komsel dan lain sebagainya. Hingga anaknya bukan hanya menguasai kosa kata percakapan saja, tetapi mampu menggunakannya.

Ada waktunya seorang ayah berbagi pengalaman dengan anaknya tentang kehidupan, Bapa juga mengajar anak-anak-Nya tentang nilai, memberi arah, panggilan dan bahkan identitas bagi kita.

Ada waktunya seorang ayah mengajarkan etika dan kesopanan kepada anaknya. Bapa juga mengajarkan kepada anak-anak-Nya, kapan waktunya berbicara, menantikan waktu Tuhan, menjalani tuntunan, cara Tuhan berbeda dengan cara manusia, dan lain sebagainya, hingga orang percaya memperoleh kecerdasan dalam pengetahuan dan keahlian.

Dalam dimensi baru, masa Pentakosta Ketiga ini, banyak perubahan sudah dan sedang terjadi. Masa penuaian besar sedang datang dan terjadi. Akan tetapi, keadaan dan situasinya belum tentu seperti yang dibayangkan semula.

Apa yang terjadi di hari-hari ke depan, mungkin sekali tidak akan sama seperti sebelumnya.

  • Dunia kerja berubah, akan ada yang tutup, dan akan ada yang justru terbuka lebar.
  • Hubungan sosial masyarakat akan berubah.
  • Ibadah di gereja akan berubah, pelayanan juga akan mengalami adaptasi

dan lain sebagainya.

Seperti yang Roh Allah sampaikan kepada Yosua, bahwa jalan yang ada di depan itu belum pernah dilalui. Kuatkan dan teguhkan hati, karena Roh Kudus sedang mengajarkan kepada anak-anak Allah sesuatu yang baru, yang belum pernah terjadi. Pola pikir baru akan diajarkan, dan berakibat pada respon baru, dan mungkin sekali, menjadi pengalaman baru.

#2 Dilatih

“Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung,
dan Kauperhatikan, dan Kaudatangi setiap pagi,
dan Kauuji setiap saat?”
(Ayub 7:17-‬18)

Setiap kali sebuah tahapan masa belajar berakhir, maka akan disusul dengan sebuah ujian. Ujian berguna bagi pengajar dan bagi yang diajar, untuk mengetahui keberhasilan sebuah proses belajar, sejauh mana transfer pengetahuan berhasil terjadi, dan yang paling penting, seberapa dalam si murid memahami untuk mempraktekkannya. Allah, lewat Roh Kudus juga melatih dan menguji anak-anak-Nya.

Khususnya, bukan supaya Ia mengenali dan mengetahui pertumbuhan semua orang percaya, karena Allah Mahatahu, tetapi supaya setiap orang percaya tahu dan mengenali pertumbuhannya masing-masing. Ia melatih orang percaya lewat banyak hal yang akan membawa pada kebaikan. (Roma 8:28-30)

“Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan
dan membuat jalanku rata;
yang membuat kakiku seperti kaki rusa
dan membuat aku berdiri di bukit;
yang mengajar tanganku berperang,
sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.
Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu,
tangan kanan-Mu menyokong aku,
kemurahan-Mu membuat aku besar."
(Mazmur 18: 32-35)

Roh Kudus memakai banyak hal untuk melatih anak-anak Allah. Tantangan-tantangan baru akan menampakkan dirinya dalam kehidupan. Sehingga anak-anak Allah akan berlatih melakukan segala hal dengan lebih baik. Mereka akan berlatih misalnya lebih sabar, lebih murah hati, lebih pemaaf, lebih menahan diri, lebih teliti, lebih kuat, lebih tidak mudah galau, lebih teguh, setahap demi setahap dengan level kesulitan yang lebih tinggi.

Kasus-kasus baru juga dapat muncul untuk melatih varian-varian respon orang percaya.

  • Tentu akan berbeda bobot kata-kata iman seseorang yang mengalami kesembuhan dari virus COVID-19, dibandingkan dengan mereka yang belum mengalaminya.
  • Tentu akan berbeda perspektif Kekristenan mereka yang dipulihkan keuangannya setelah resesi, dibandingkan dengan mereka yang tidak terlalu terkena dampak resesi.
  • Mereka yang terkena PHK dalam masa-masa ini, lalu belajar bersyukur dan mengalami pembelaan Tuhan dengan pekerjaan baru atau usaha baru, akan berbeda kualitas kesaksiannya dibandingkan dengan mereka yang belum mengalami Tuhan dalam area itu.

Semua untuk kebaikan

“Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin."
(Ibrani 13:20-‬21)

Lewat proses pertumbuhan ini, ada dua hal yang diinginkan muncul dalam diri orang percaya.

  • Yang pertama, Roh Kudus bekerja di dalam diri orang percaya sehingga menerima perkenanan Tuhan, yaitu perubahan menjadi seperti Yesus.
  • Yang kedua, memperlengkapi orang percaya untuk mampu melakukan kehendak Allah, baik rencana penciptaan, panggilan ilahi, rhema dan bahkan amanat Agung.

Berkaca dari tulisan Paulus di Roma 8:28-30, Tuhan yang baik itu akan tetap memakai semua hal untuk kebaikan.

Di dalam itu, semua proses pertumbuhan ini, Roh Kudus tidak pernah meninggalkan orang percaya. Sebagai pribadi ketiga dari Allah sendiri yang tinggal dalam semua orang percaya, Roh Kudus menjadi penolong, guru, penasihat, membuka masa depan, memimpin pada kebenaran dan segala hal yang dapat memampukan orang percaya menggenapi pertumbuhannya.

Selama orang percaya memiliki hati yang rela dipimpin Roh Kudus, kesetiaan Tuhan tidak akan meninggalkan hidupnya. Itulah sebabnya kita tidak perlu khawatir dalam segala hal. Bertumbuhlah terus, sebab semua hal itu Allah pakai akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Tuhan Yesus memberkati. (JR)

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."
(Roma 8:37)

Sumber

  • Johannes SP RajagukgukPdt Dr Johannes SP Rajagukguk ST, CBC (20 Juni 2020). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 04 November 2020.